
Sebelum membaca tinggalkan like dulu ya 🥰🥰🥰
•
Macan nya keluar taring.
Ezra langsung berpindah tempat yang tadinya berhadapan dengan sang istri kini berada di sampingnya, ucapan sang istri harus segera ia filter sebersih mungkin agar tidak terulang.
Cup
Cup
Awalnya Ezra cuma mengecup kecil pipi dan bibir Himalaya tapi sepertinya menghukum istrinya di ruang makan akan seru deh.
"Dad.. em.."
Mulut atau vakum cleaner sih bibir Daddy, ganas banget ciumnya. Apa bibirku manis dan lezat sekali sampai-sampai ciumannya kasar tapi juga nikmat, sudah-sudah jangan di ceritakan lagi jika aku lanjutin cerita takutnya banyak yang ingin dan aku akan merasa bersalah sekali sebab membuat yang lain iri padaku.
Ku pukul dadanya.
"Dasar Daddy naf.suan, apa Daddy sengaja?"
"Iya, kenapa memangnya sayang. Ini rumah kita buat apa kita malu jika yang lihat cuma kita berdua saja tidak ada yang lain lagi!" santai dan tanpa adanya rasa malu.
Aku lihat memang tidak ada orang tapi cctv rumah ini ada dimana-mana, aku mana bisa tenang takut vidio ciuman panas yang barusan Daddy luncurkan di sebar dimana-mana.
"Iya....
"Sayang, nanti sementara waktu teman lama Daddy akan menginap. Apa kamu setuju sayang?"
"Tidak, tidak ada alasan untuk tinggal di tempat ini. Aku tidak mau Daddy !" aku kesal pada Daddy, padahal barusan Daddy begitu sayang dengan tapi akhirnya aku mendengar hal yang tidak ingin aku dengar
Masih tidak rela jika aku harus berbagi suami, sudah cukup aku membaca dan mendengar kasus-kasus seperti ini, mengundang sahabat atau teman lama yang pada akhirnya merebut posisi sebagai istri dengan cara licik.
Biarin Daddy marah padaku sebab tidak menerima teman wanita, dari pada aku makan hati. Amit.. amit.. jabang bayi semoga keturunan kami tidak ada yang seperti itu, semoga mereka semua tau diri dan tidak merendahkan diri demi sesuap nasi dengan cara merayu yang bukan haknya.
__ADS_1
"Kenapa? dia hanya teman sayang tidak lebih dari itu, apa kamu masih tidak percaya dengan Daddy."
"Iya, duri dalam pernikahan itu terjadi jika salah satu dari kita membukakan pintu rumah kita, rumah tangga kita Daddy"
ku perjelas perkataan ku dengan nada yang aku tekan sedikit, gemas lama-lama jika ada orang lain yang ingin masuk dengan cara mencari celah agar kami berdua berdebat.
"Tapi.."
Ku potong ucapan Daddy.
"Aku pokoknya gak mau Daddy jika ada orang lain menginap di rumah kita, apalagi dia baru pulang dari luar negeri masa gak punya duit untuk sewa hotel atau apartemen, kalau Daddy berani macam-macam dengan aku dan tetap memaksa wanita itu untuk tinggal.
Siap-siap itunya aku penggal, gak apa-apa aku masuk ke sel tahanan asal itunya Daddy gak masuk ke sarang betina lain, dan aku akan senang hati membuka hati lagi untuk laki-laki lain, terutama untuk mencarikan papa baru untuk anak kita," aku bersedekap setelah menunjuk pedang sakti Daddy.
Ya ampun semoga Allah gak melaknat aku sebab aku tidak menerima tamunya Daddy dan semoga aku tidak berdosa, aku hanya melindungi rumah tanggaku dari orang yang sering di sebut dengan sebutan pelakor.
Gak rela aku jika ada pelakor baru datang merebut Daddy meski mereka pernah berteman baik.
"Sayang.. sumpah aku berjanji tidak akan membawa siapa pun itu untuk menginap di rumah kita, aku tidak mau posisiku tergantikan oleh orang lain begitu juga dengan kamu, posisi kamu tetap nomor dua setelah mama. Aku tidak rela jika Hima kesayangannya Daddy di miliki oleh laki-laki lain."
Beginilah Daddy jika di hadapanku, suka sekali bersikap manja-manja. Tapi.. jangan di tanyakan jika dengan bawahannya pemarah dan juga bersikap dingin, jungkir balik bukan sikapnya.
Aku memang tau posisiku, meski aku selalu di utamakan oleh Daddy tapi tetap orang tua lah yang utama, meski terkadang ada rasa kecewa dengan orang tua yang tak memperdulikan anaknya apalagi membeda-bedakan antara anak ini dan yang lain, sakit pasti.
Dulu aku juga punya teman satu kelas ia selalu di beda-beda kan oleh saudaranya apalagi di bedakan dengan kakaknya sendiri yang lebih cantik dan pintar tentunya. Meski teman satu kelasku itu selalu rangking dua di kelas sebab yang satu itu aku sendiri, sudahlah itu masa lalu dan sekarang aku hanya ibu rumah tangga.
Sepintar apapun aku, tempatku memang tidak bisa jauh-jauh dari rumah. Sebab kodrat seorang wanita selain mengubur impiannya juga harus merawat rumah, anak-anak, suami dan keluarganya sendiri.
"Sayang.. sedari tadi Daddy lihat kamu melamun, sedang mikirin apa lagi sih sayang?"
Daddy menepuk pundak ku.
"Enggak dad, cuma aku ingin meminta satu hal sama Daddy !" semoga di kabulkan dan aku tidak di kekang lagi, aku ingin bebas meski secara nyata aku terikat oleh Daddy.
"Apa?"
__ADS_1
"Bolehkan aku berkerja lagi Daddy."
Semoga boleh semoga boleh, kalau tidak ya sudah curi-curi waktu kerja di bidang online tanpa Daddy ketahui, tidak mungkin suatu saat nanti seorang laki-laki dan status suami tidak meminta istrinya untuk berkerja, aku terus terang saja ragu dengan laki-laki demikian seperti Daddy.
Meski dia tajir melintir tidak mungkin akan terus menerus berada di zona nyaman kaya raya.
"Untuk apa sayang, bukannya Daddy tidak mengizinkan kamu kembali berkerja. Tapi.. sebagai suami bukannya harus Daddy yang berkerja untuk anak dan juga istrinya, kamu cukup merawat kita saja sayang."
Diiringi dengan kecupan hangat di dahi ku, sudahlah ini bukan saat nya yang tepat. Lebih baik aku fokus pada kandunganku yang masih lemah, nanti setelah kuat barulah aku menyusun ide lain agar aku bisa berkerja dan pekerjaanku sesuai porsi ku dan kemampuanku tentunya, agar tidak jadi beban untuk orang lain dan diriku sendiri.
"Ya sudah Daddy, untuk kali ini Hima nurut kata-kata Daddy tapi tidak untuk lain kali, aku juga ingin dapat penghasilan sendiri Daddy. Apa Daddy ingin aku menjadi wanita yang manja dan malas?"
"Iya sayang!" diiringi wajah yang berseri-seri.
"WHAT???!!!"
aku terkejut dong dengan jawaban Daddy, masa sih ada di dunia ini suka dan berharap istrinya jadi wanita manja dan malas, pasti otak Daddy konslet parah ini.
"Yuk dad ke rumah sakit." Ajakku pada Daddy.
"Buat apa ke sana sayang?"
"Buat meriksa in otak Daddy, apakah masih sehat dan baik-baik saja!"
"Daddy sehat ko sayang, sehat walafiat bahkan. Tanpa adanya sakit sedikit pun di kepala Daddy, jadi buat apa coba kita ke rumah sakit."
"Kalau sehat dan baik-baik saja kenapa Daddy menjawab begitu tadi"
Ku putar bola mataku.
"Menjawab begitu yang mana sayang, perasaan Daddy menjawabnya dengan jujur dan benar."
Masih saja mengelak, sudahlah tambah gila aku jika bicara terus dengan Daddy yang semakin gak nyambung.
•
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman 🥰🥰
Terimakasih banyak kka 🥰🥰