Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 52


__ADS_3

"Daddy, apa Daddy sudah mencicipi masakan ku ?" aku harus bertanya dulu.


Terpaksa bertanya dari pada penasaran setengah mati, Daddy ini memang pandai berpura-pura jadi harus sedikit ada pancingan barulah ia keluar dari sarangnya.


"Belum sayang, sepertinya enak!" jawabnya tersenyum.


Aku masih terpaku di tempat, benarkah belum mencoba dan sudahlah jadi bingung mau bilang apa. Lebih baik aku dan Daddy segera mencobanya saja, semua sesuai takaran tadi termasuk beberapa bumbu penyedap rasa.


Ezra duduk di kursi meja makan, dari bau sih enak tapi entah rasanya.


Sambil membalikkan piring ke atas dan bersiap-siap untuk mencicipi masakan sang istri.


"Dad.. gimana rasanya ?" aku menyangga kepalaku sambil ku tatap raut wajah Daddy yang mulai aneh.


Apakah ada yang aneh, perasaan saat aku cicipi tadi gak ada masalah sama sekali.


"Enak, meski ada rasa yang aneh. Apa kamu menggunakan terlalu banyak bawang putih ?" Daddy wajahnya mulai memerah.


Gawat.. aku lupa jika Daddy alergi bawang putih jika terlalu berlebihan.


"Maaf dad, Hima lupa jika Daddy alergi bawang putih berlebihan." Aku panik dan langsung menelpon sopir rumah dan menyuruh untuk menyiapkan mobil.


Untung saja tidak jauh dari dapur ada salah satu bodyguard Daddy yang datang sebelum kejadian ini.


Wajahnya sudah memerah dan ia terus menggaruk-garuk lengannya bagian lekukan dan juga badannya tanpa henti.


Di saat panik begini perutku juga tidak nyaman, nak.. tolong mamamu ya jangan seperti ini nak. Ku usap perutku berharap dia juga tenang, apa karena aku panik jadi kandunganku juga ikut bermasalah.


Ambil nafas.. tarik.. hembuskan perlahan, aku harus rileks tidak boleh panik.


Sesampainya di rumah sakit segera para suster menyambut pasien gawatnya dan langsung masuk IGD dan harus segera di tangani sebab alerginya Daddy sudah parah sekali menurutku.


"Keluarga pasien ?" tanya salah satu suster yang hendak memberikan sun.tikan pereda alergi dahulu pada pasien bersama dengan Dokter.


Tergolong parah namun masih bisa di tangani dengan cepat, tadi sesampainya di rumah sakit langsung di tanyai perihal kejadian apa yang membuat pasien separah ini alerginya, untung saja cepat di bawa ke rumah sakit dan segera di tolong.


"Saya Dok, saya istrinya!" jawabku panik.


Sebab kali ini aku keterlaluan pada Daddy, andai aku tadi enggak ngeyel memasak pasti kejadian begini tidak terjadi.


Dokter menyarankan agar kejadian serupa tidak terulang kembali demi keselamatannya juga, lalu setelah itu Daddy di pindah ke ruang rawat nomor dua yang ada di rumah sakit, aku memilih kelas dua sebab kelas nomor satu sudah penuh.


Daddy maafkan aku dad. Ku genggam tangan Daddy.


Setelah Dokter dan suster memberikan pereda alergi dan memindahkan ruang rawat Daddy, aku merawat Daddy dengan memberikan selimut pada Daddy serta perhatian lebih padanya. Agar Daddy tidak menggigil kedinginan, selain itu sakit di perutku juga reda setelah Daddy di tangani tadi.


Syukurlah jika anak yang aku kandung tidak apa-apa, setidaknya Daddy tidak bertambah hawatir padaku.


"Sayang."


"Iya dad, apa ada? apa ada yang sakit dad?" tanyaku hawatir sambil ku cek suhu badannya.


Ternyata sudah turun suhu badannya, tadi panas dan bentol-bentol merah. Sedikit demi sedikit mulai kempes dan hilang meski masih ada beberapa yang bentol-bentol.


"Tidak, terimakasih sayang." Daddy berterimakasih apa coba.


"Dad.. tidak apa-apa, sudah seharusnya sebagai seorang istri harus berbakti pada suaminya dan bertanggung jawab jika suaminya seperti sekarang," aku sangat merasa bersalah padamu dad.


Andai waktu dapat ku putar kembali, ingin rasanya aku tidak punya inisiatif menjadi istri mandiri jika menjadi istri mandiri malah melukai suaminya apalagi jika nanti sang anak juga jadi korban, bukannya itu semua akan menjadi sesal dalam hidupku yang paling dalam.


"Hust.. kamu bicara apa sih sayang, ini musibah dan kita tidak tau kapan akan datang. Yang ada kita ikhlas saja menjalani ini semua, oh.. ya sayang tadi itu masakan kamu enak aku suka. Besok kamu masak itu lagi ya." Permintaan Daddy sungguh membuatku kesal.


Bagaimana tidak kesal, belum juga sembuh minta di masakan makanan itu lagi yang ada masuk rumah sakit lagi.


"Tidak dad, dan tidak akan masak makanan itu lagi kedepannya dad. Aku tidak mau suamiku kenapa-kenapa lagi, aku mau suamiku baik-baik saja," tolakku dengan keras.


"Tapi aku mau sayang." Menengadahkan kepalanya dengan tatapan melas kasihan.


Aku jadi tidak tega melihatnya di tambah lagi Daddy sedang sakit, apa salahnya nurut padanya kali ini seperti biasa-biasa nya aku nurut padanya.

__ADS_1


"Baiklah, besok Hima masakan makanan yang sama lagi dan aku janji besok bawang putih nya aku kurangi dan akan aku beri sedikit saja bawang putih dalam tumisan ku besok," aku iyakan demi kesembuhan Daddy.


Daddy langsung memelukku dengan erat, sungguh aku bahagia melihat orang yang aku cintai seperti ini padaku. Manja menggemaskan sekali.


Di tempat lain.


Mama Tasya sangat hawatir meski tidak ikut ke rumah sakit sebab menjemput Anka.


"Semoga.. Ezra baik-baik saja, aku juga tidak tau jika dia punya alergi seperti kakak." Duduk di bangku salah satu tempat penjemputan.


Ia hawatir sekali dengan keponakannya itu, Mama Tasya tau kabar tersebut saat di rumah tadi dari satpam sebab Himalaya sendiri sudah panik dan meminta sopir di rumah untuk menyiapkan mobil.


"Ma.." Anka berkali-kali memanggil mamanya tapi mamanya masih asik melamunkan sesuatu.


Anka kesal dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Anka marah .. Anka merajuk ma." Memalingkan wajahnya ke samping kanan sebab mama Tasya ada di sebelah kirinya.


Masih di cuekin oleh mama Tasya.


Sampai beberapa menit kemudian barulah ia tersadar jika dirinya sedang menjemput Anka di sekolahnya.


"Apa Anka sudah keluar dari kelasnya ?" melihat kelas Anka yang ternyata sudah sepo, apa jangan-jangan belum keluar jamnya.


"Tapi.. sudah waktunya pulang, apa hari ini pulang terlambat." Tidak sadar dan tidak fokus jika sedari tadi anaknya ada di sampingnya.


Bahkan sekarang Anka melihat pertunjukan mamanya yang mencari anaknya kesana kemari.


"Haduh.. punya mama satu seperti ini, apalagi papa punya istri dua. Bukannya bertambah pusing dan pecah kepala papa." Sambil menggelengkan kepalanya.


"Anka,"


Anka membatin.


'Akhirnya mama sadar dan tidak pikun lagi, pantasnya aku jadi cucu bukan anaknya. Pasti sekarang di tanya umur saja sudah lupa si mama, apalagi aku tidak punya kakak. Kalau punya kakak masih wajar, tapi.. aku sendirian dan anak pertama mama papa.'


"Kamu dari tadi di sini Anka ?" pertanyaan Mama Tasya hanya di angguk i oleh Anka.


Mama Tasya segera mengendong putra semata wayangnya dan menciumi seluruh wajahnya berkali-kali sampai wajah Anka basah.


Anka di ajak pulang saja dari pada ke rumah sakit umum untuk menjenguk Ezra yang sedang sakit sekarang.


Sedangkan Himalaya masih menunggu suaminya sampai sembuh dan baik-baik saja.


"Kakak cantik ada di rumah ma?" Anka bertanya pada mamanya.


"Tidak ada nak, memangnya kenapa Anka mencari kakak cantik." Mama Tasya menatap putra semata wayangnya.


"Tidak ada apa-apa ma, cuma sepi tidak ada kakak. Padahal tadi ingin main dengan kakak," wajah Anka menjadi lesu dan tidak bersemangat lagi.


Padahal tadi sewaktu di perjalanan ia gembira riang dan tidak sabaran ingin segera pulang ke rumah kakak cantik.


Tapi.. nyatanya kakak cantiknya tidak ada di rumah, mungkin keluar belanja sesuatu sebab kakaknya adalah suami kakak cantik.


"Sabar ya nak, kakak cantik berada di rumah sakit." Mengusap surai rambut Anka.


"Sakit, siapa yang sakit mama? apa kakak cantik yang sakit atau perut kakak cantik sakit lagi?" celotehan Anka panjang lebar yang ingin tau membuat Tasya pusing menanggapi anaknya.


"Yang sakit bukan kakak cantik atau adik di dalam perut kakak cantik, tapi yang sakit kakak Ezra sebab dia kena alergi tanpa sengaja kakak Ezra memakan bawang putih terlalu banyak!" jawab Mama Tasya.


Berharap bisa di mengerti oleh anak sekecil Anka.


"Sakit alergi, apa itu sangat sakit ma?" tuhkan baru juga di jelaskan sakit alergi sebab makanan tertentu kini Anka bertanya.


"Iya nak, sakit bagi orang yang memiliki alergi parah. Tapi masih bisa di tahan jika daya imunnya kuat melawan sakit itu!" mama Tasya dengan sabar menjelaskannya pada Anka.


Pasti sebentar lagi bertanya tentang apa itu daya imun.


"Ma.. apa itu daya imun?" Anka bertanya lagi pada mamanya.

__ADS_1


"Daya imun adalah daya tahan tubuh imunitas manusia dan merupakan benteng pertahanan pertama dari berbagai kuman penyebab infeksi di dalam tubuh kita. Bila daya tahan kita kuat tubuh akan semakin kuat dan sehat, jadi.. kuman yang berusaha menyerang tubuh kita akan dikalahkan dengan mudah, sehingga tubuh terhindar dari infeksi yang berbahaya. dan kita tidak akan jadi sakit sebab kuman yang terinfeksi tidak bisa masuk ke dalam tubuh kita. Apa Anka sudah paham nak?" tanya Tasya padanya.


"Paham mama, tapi mama makanan apa yang harus Anka makan agar Anka tidak sakit seperti kakak Ezra?"


Tasya membuka ponselnya dan mencari-cari sesuatu di ponsel, ia bingung juga hanya beberapa saja yang ia tau tentang menjaga stabilitas daya imun.


"Ma.. apa jawaban mama, kenapa dari tadi mama hanya menatap layar ponsel mama saja dan tidak menjawab pertanyaan Anka." Ia protes pada mamanya.


"Sebentar Anka, nah.. ini jawabannya Anka. Mama jelaskan ya... Aneka makanan sehat yang bisa di pilih antara lain yaitu buah, sayuran, ikan, telur, susu, biji-bijian, serta kacang-kacangan, dan kacang-kacangan biasanya seperti kacang hijau dan kedelai. Anka sudah tau kan kedelai dan kacang hijau itu seperti apa bentuk dan rasanya?


dan ada juga makanan lain, contohnya seperti seafood, keju, dan yoghurt, juga baik dikonsumsi untuk memperkuat daya tahan tubuh Anka, apa ada pertanyaan lagi anka?"


"Anka tau mama, kalau kedelai warnanya putih susu dan kacang hijau berwarna hijau dan ukurannya sedikit lebih kecil dari kedelai," Anka langsung mengeluarkan tugas di sekolahnya dan kebetulan ada contoh-contoh biji-bijian.


Jadi sebagian besar Anka sudah tau tentang biji-bijian di tambah lagi baru saja sang mama menjelaskannya.


"Nah.. itu Anka tau, wah.. Anka sudah tambah besar dan pintar ternyata. Pasti papa jika tau Anka bertambah pintar pasti papa senang, ayo telpon papa dulu." Tasya bangga pada putranya.


Anka yang masih anak kecil bangga dong di puji sang mama, ini sesuatu yang membahagiakan ditambah lagi jika saat cerita semua ceritanya di tanggapi oleh kedua orang tuanya atau mendapatkan pujian istilahnya.


Kembali ke rumah sakit.


Aan yang barusan tau langsung menuju ke rumah sakit dan melihat kondisi pak bosnya.


Apakah baik-baik saja atau parah sekali alerginya. Berharap sih parah agar bisa terbebas dari perintah bosnya yang semena-mena pada dirinya bahkan tidak kenal waktu menyuruh kesana kemari bertemu klien dan mengurus perusahaan juga.


"Nyonya muda." Aan sopan pada Himalaya sebab ternyata pak bosnya tidak sekarat dan parah.


'Haduh.. aku kira parah dan sekarat, ternyata cuma begini sudah sembuh lagi saat aku kemari. Buang-buang waktu dan juga tenagaku ternyata, tau begini gak datang dan gak hawatir saat di kantor tadi. Sialan nih penyakit alergi pak bos.' Batin Aan ngomel-ngomel.


Himalaya menatap Aan.


"Aan, kenapa bengong ?" tanyaku pada Aan.


"Tidak apa-apa nyonya muda !" jawabnya aneh loh, aku sedikit ada curiga pada Aan.


Sepertinya bawahan Daddy ini minta di ganti posisinya sekarang, tapi.. sayangnya aku tidak ada bukti jika Aan berkerja kurang tulus dan benar-benar biar berkerja tanpa mengeluh.


"Benarkah, apa di dalam hati tidak sedang mengumpat bos kamu Aan?" aku pancing agar Aan jujur jika dirinya menyesal datang ke rumah sakit.


Lagian aku sudah mulai jenuh dan rasanya ingin sekali mengerjai seseorang dan mendapatkan amarah dari Daddy, ya .. karena yang ada Aan jadi Aan saja yang aku kerjain.


"Saya beneran tidak mengumpat pak bos nyonya muda, hanya saja saya kecewa kenapa alerginya pak bos parah dan sekarat. Setidaknya saya bebas dari pekerjaan yang membuat saya pusing setiap harinya, sebab pak bos." Langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Aan keceplosan dan aku bahagia, aku ingin melihat Aan di hukum berat oleh Daddy. Gak.. sabarnya aku melihat Aan keliling seluruh penjuru rumah sakit, pasti lucu aa.. ha.. ha.. ha.. aku sudah tidak sabaran lagi.


Ayolah dad.. common hukum Aan lagi dad.


Ezra melihat gelagat sang istri, sepertinya is menginginkan Aan di hukum sekarang dan ia ingin tertawa lepas hari ini. Baiklah akan segera di kabulkan agar sang istri bahagia berserta buah cintanya tidak rewel di dalam perut sang istri.


"Dasar bahwa yang kurang beruntung, kamu saya hukum lari mengelilingi rumah sakit." tanpa ampun Ezra langsung menyuruh Aan untuk keliling rumah sakit.


"Tapi.. pak bos.. saya.. saya.. tidak sanggup, apakah bisa di ringankan hukumannya pak bos," Aan meminta kompensasi pada Ezra.


Tapi Ezra sudah tidak mau memberikan itu pada Aan, ia ingin Istrinya bahagia dan tersenyum. Seorang ibu hamil harus perbanyak bahagia dan mood yang baik, barulah bisa beraktivitas meski dalam keadaan mengandung.


"Tidak ada tapi-tapian, atau hukumannya jadi dua kali lipat?" Ezra mengancam Aan.


"Baiklah pak bos, sial laksanakan !" langsung berlari keluar dari ruangan tempat Ezra di rawat sekarang.


Himalaya ingin keluar dan melihat Aan di hukum, tapi Aan keliling rumah sakit dan tidak bisa melihat secara langsung. Kecuali naik ke lantai paling atas, tapi meskipun bisa pasti Aan terlihat sangat kecil saat di lihat dari atas gedung rumah sakit, percuma saja naik ke lantai paling atas di sini.


"Sedang memikirkan apa sayang ?"


"Tidak ada dad!" bohongku.


"Jangan berbohong, jika ingin melihat Aan di hukum lihat saja sayang."


Aku mendapatkan lampu hijau dan harus segera pergi sebelum Daddy berubah pikiran dan melarang ku pergi melihat hukuman dari Daddy.

__ADS_1


__ADS_2