Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 9


__ADS_3

Ezra pulang setelah satu bulan kemudian.


''Daddy..." Teriak ku dengan kencang, aku rindu sekali memeluk Daddy adalah pengobat rinduku.


"Daddy kemana sih? kenapa lama sekali meninggalkan Hima sendirian." Aku mendongak dan menatap Daddy dengan tatapan seribu pertanyaan di benak ku.


Tidak ada jawaban dari Daddy, aku terus berusaha bertanya pada Daddy tapi hasilnya nihil tidak ada jawaban sama sekali.


Tiba-tiba Daddy memegang kedua pipiku, aku bertanya-tanya ada apa dengan Daddy. Apa dia mau menciumku lagi seperti beberapa minggu yang lalu?


Tapi nyatanya tidak Daddy tidak menciumku sama sekali, apa daddy punya pengganti ku. Katanya di sampingku saja sudah cukup, ternyata aku tertipu oleh Daddy, jika Daddy tidak bersikap seperti itu beberapa waktu yang lalu mungkin aku tidak sebaper ini.


Kenapa aku jadi mengharapkan ciuman Daddy, stop.. fantasi kamu Hima sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesal, tapi.. jika Daddy yang melakukannya aku juga tidak menyesal.


Dia penolongku dan dia juga pelindungku selama ini, tanpa dia mana mungkin aku masih hidup sehat dan bisa menikmati indahnya dunia.


Aku membelalakkan mataku saat Daddy tiba-tiba menggendongku. Ada apa ini, aku berusaha memberontak tapi ku lihat lantai satu sampai lantai dua lumayan tinggi apalagi sekarang posisinya berada di tengah-tengah anak tangga, kalau menggelinding bukannya seperti bola gitu. Sakit.


"Daddy.. a.. em..." Tanpa basa basi Daddy menciumku dengan ganasnya.


Padahal posisinya masih berada di anak tangga, kalau para pembantu tau bagaimana nanti. Aku malu.. dan ingin protes tapi mau juga di ginikan.


Aku terhanyut dengan kecupan yang Daddy berikan, hangat dan sangat dominan. Dan.. aku suka itu, setidaknya di bibir Daddy aku masih bisa merasakan yang namanya ketulusan.


Sesampainya di kamar aku di rebahkan di atas tempat tidur, lagi-lagi tempat tidur apa tidak bisa di letakkan di tempat lain. Eh.. jangan nanti langsung di ceburin di bathtub atau kolam renang aku keselek air lagi. Mendingan di atas tempat tidur empuk dan nyaman sekali.


Seharian berkerja membuat aku lelah malam ini, tiba-tiba pijatan di kaki terasa. Aku lihat Daddy memijatkan kakiku.


Daddy menatapku.


"Kenapa wajahmu memerah sayang, apa kamu sakit?"


akhirnya Daddy bertanya dan hawatir, ini bukan sakit Daddy tapi debaran di dada tidak bisa di kontrol Daddy dan membuat wajahku pasti memerah lagi.


Sudah tau malu.. masih saja di goda.


"Benarkah tidak sakit?" lagi-lagi setiap ucapan yang keluar dari bibir Daddy kenapa ada magnetnya sih.


"Aku sedang malu Daddy bukan sakit!"


Daddy mengusap pipi kiriku.


"Gadis kesayangannya Daddy, maaf kan Daddy sayang jika Daddy tidak memberi tau kamu kabar Daddy selama ini, maaf sayang."

__ADS_1


Ezra tulus tapi di dalam ketulusan ada sejuta kebohongan yang ia pendam dan simpan rapat-rapat dari Himalaya.


"Daddy tega pergi begitu saja, apa Daddy punya rahasia yang Daddy simpan." Sengaja aku menekan ucapanku.


Daddy terlihat sedikit gugub dari sebelumnya, apa sih yang Daddy coba sembunyikan dari ku.


"Kesayangannya Daddy, ini sudah malam. Selamat malam kesayangannya Daddy," tidak ada angin tidak ada hujan Daddy mengalihkan pembicaraan.


Memang benar ada yang di sembunyikan oleh Daddy.


"Tapi.. Daddy, apa Hima tidak boleh tau alasannya apa? kenapa Daddy jadi Daddy Hima." Aku meninggikan suaraku.


Daddy menoleh dan menatapku.


"Karena Daddy sayang Hima, maka dari itu Daddy jadi Daddy-nya Hima," senyum Daddy mulai hilang.


Setelah pertanyaan yang terjadi waktu itu, hubungan antara Himalaya dan Ezra merenggang sedikit.


Selain itu Ezra punya banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan, ada beberapa produk terbarunya mengalami masalah sehingga harus Ezra yang turun tangan sendiri mengecek baik di bagian perusahaan dan pabrik yang kebetulan pabrik itu ada yang di kota ini ada juga di luar kota.


"Kenapa sekarang Daddy jarang sekali ada waktu untukku," aku gelisah sekali.


Apa benar Daddy akan menikah? pertanyaan demi pertanyaan yang aneh-aneh berkeliaran di pikiranku. Terkadang kepekaan hati seorang wanita tidak dapat di pungkiri jika perasaan tidak enak pada seseorang itu selalu benar sekalipun belum terikat yang namanya pernikahan.


"Coba.. aku telpon deh."


Dret


Dret


📞"Daddy ada di mana?


Tanyaku penasaran, tapi sayup-sayup aku mendengar suara orang seperti orang yang sedang memadu kasih bahkan suara itu terdengar keras di telingaku.


📞" Daddy.. apa Hima ganggu Daddy?"


Tanyaku lagi tapi tidak di jawab oleh Daddy.


📞"Daddy di kantor Hima, hah.. hah.."


Air mataku luruh seketika, jadi.. selama ini Daddy sulit aku hubungi dan jarang pulang ternyata Daddy punya pasangan yang baru.


Ku matikan teleponku pada dan aku letakkan di atas meja kecil dekat dengan tempat tidurku.

__ADS_1


"Terus.. selama ini aku sebenarnya sebagai apa di hati Daddy, posisiku seperti apa? apa aku penting atau lantaran kasihan semata?"


Tak aku hiraukan telpon dari Daddy entah sudah berapa kali telpon itu berdering bahkan sudah pilihan.


Aku memilih keluar rumah malam-malam di taman samping rumah, ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku hempaskan. Aku tepuk pelan kedua pipiku bergantian, agar aku secepatnya sadar dari mimpi.


Boleh berangan-angan tapi jangan sampai angan-angan itu menghancurkan diri kita sendiri sebab angan-angan hanya tetap jadi harapan.


Setelah puas aku kembali ke kamar tapi..


"Daddy." Aku di buat terkejut oleh Daddy yang sudah datang dan dia berada di atas tempat tidurku.


Aku hendak menghindar tapi percuma kecepatan Daddy mengejar ku lebih cepat, aku kalah di dalam lari.


"Kesayangannya Daddy tidak boleh pergi, jangan pergi kesayangannya Daddy,"


Daddy memelukku dengan erat, awalnya aku ingin mendorong tubuh Daddy tapi pelukan hangat Daddy membuatku sangat nyaman, andai saat telpon tadi..


Aku dorong kuat-kuat tubuh Daddy agar menjauh tapi tetap saja Daddy memelukku.


Daddy mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah vidio yang membuat aku terperangah di buatnya, tapi Daddy tetap memelukku takut aku kabur sepertinya.


"Apa kamu sudah percaya?" Daddy bertanya.


Aku diam, vidio yang barusan aku lihat membuat ku merasakan sesuatu yang aneh di tubuh aku sendiri. Apa ini yang aku rasakan, kenapa aku tidak marah lagi pada Daddy.


"Daddy tidak ada main dengan wanita lain Hima kesayangannya Daddy."


Aku terdiam.


Daddy begitu mahir tangannya, aku bahkan tidak sempat menghindar namun lagi-lagi aku di buat Daddy merasakan banyak bulu ayam yang menggelitik perutku bahkan yang berada di sana merasakan sesuatu yang luar biasa.


"Daddy.. jangan.. Daddy.." Aku sekuat tenaga menahan agar tidak kebablasan.


"Daddy tidak kuat Hima, Daddy.."


Aku di gendong Daddy dan seperti biasanya bukan di tempat tidur melainkan di atas meja yang dulu aku gunakan untuk belajar sampai mata aku jadi panda benar-benar mata panda waktu itu.



Skip dulu ya takut kebablasan 😁


Maaf ya 😊

__ADS_1


Gimana-gimana sampai part ini, baper atau marah atau bahkan emosi.


Yuk kirimkan dukungannya agar karya ini semakin di kenal banyak orang. Terimakasih atas dukungannya ya teman-teman 🥰🥰🥰


__ADS_2