Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 7


__ADS_3

Kemarahan Daddy pada nenek buyut.


Ezra mengantar makanan ke kamar yang Himalaya gunakan malam ini untuk tidur dan beristirahat.


Ceklek


"Hay.. kesayangannya Daddy, apakah mood gadis cantik ini baik?"


"Jelek Daddy, gak bisa ngapa-ngapain di kamar ini kecuali rebahan saja, semua gara-gara daddy dan nenek buyut!"


Pertanyaan konyol Daddy tidak perlu di masukkan ke dalam hati. Lebih baik aku bercanda bukan untuk menghilangkan ketegangan di antara kami.


"Daddy suapi ya."


Menawarkan dirinya saat ia duduk di samping tempatku rebahan malas-malasan.


Aku mengangguk saja, lumayan menghemat tenaga untuk menyuapkan makanan itu ke dalam mulutku.


"Aa.. buka mulutnya," aku langsung membuka mulutku dan menerima suapan nasi dari sendok yang Daddy sodorkan barusan.


Daddy sangat telaten menyuapiku bahkan ia sama sekali tidak jengkel denganku, aku sengaja berlama-lama saat mengunyah tapi bukannya baik mengunyah makanan sampai lembut agar sistem pencernaan di lambung menghisap nutrisi dengan baik.


Sebab makanan yang aku makan masuk ke lambung saat makanan itu sudah halus, selain itu semakin lama mengunyah juga mengubah rasa makanan itu menjadi lebih manis.


Dan satu lagi selain bermanfaat di dalam pencernaan, mengunyah makanan sampai halus juga bisa menghilangkan bau mulut. Setahu aku begitu.


"Daddy... bolehkan Hima tanya sedikit masalah pribadi?" aku membuka percakapan usai makana itu habis tanpa sisa lalu aku minum air putih yang sudah di sediakan di atas baki.


"Tanya apa!" jawabnya menutup sendok dan garpu.


"Tanya... jika nenek buyut menjodohkan Daddy dengan wanita yang baru Daddy kenal dan pada saat itu juga apakah Daddy bakalan mau menerimanya." Aku tau ini pertanyaan sensi..tif tapi apa aku salah jika aku bertanya sedikit.


"Tergantung juga sayang, lagi pula sekarang Daddy nyaman berada di samping kamu. Masalah pendamping bisa di pikirkan nanti jika cocok," jawaban yang tidak pernah aku harapkan muncul di bibir Daddy.


"Apa perlu Hima carikan Daddy?" tanyaku bercanda.

__ADS_1


"Boleh.. boleh sayang, semua yang kamu berikan pasti terbaik untuk Daddy jadi Daddy akan dengan senang hati menerima itu!" terlihat jelas guratan kebahagiaan dari wajah Daddy.


Daddy ini bukannya mengelak lagi malah justru setuju begitu saja saat aku menawarkan untuk mencarikan pendamping hidup.


Kenapa rasanya dada ini sesak saat daddy mengiyakannya dan setuju, padahal inisiatif ini aku buat spontan tanpa aku pikirkan matang-matang.


Keesokan harinya.


Pagi ini aku menyambut dengan ceria sebelum suasana sarapan pagi jadi memanas lagi.


Kenapa sih di rumah ini terus saja membahas tentang pernikahan dan keturunan, harus mencari bibit bebet dan bobotnya lagi.


Aku saja yang mendengar ini sudah bosan, ya.. kalau sesekali gak apa-apa lah ini sudah hampir delapan tahun semenjak aku di rawat lebih tepatnya setelah dua tahun aku hidup bersama Daddy.


"Hima.. kamu kan sudah bertahun-tahun hidup satu rumah dengan Daddy kamu, apa sekali saja kamu tidak pernah melihat Daddy kamu membawa pulang seorang wanita?" Nenek buyut bertanya hal begini.


Aku harus jawab apa coba, hubunganku baik juga baru saja terjadi nenek buyut belum juga setengah tahun mana mungkin aku tau, mau bicara jujur juga bingung sendiri.


Daddy ini kenapa selalu menempatkan aku di situasi sulit, apalagi dia hanya diam membisu sedari tadi, apa mendadak gigi mulutnya sakit. Dasar daddy tidak berperasaan sama sekali, aku yang di jemur nenek buyut sedangkan dia enak-enak kan.


Seperti gak sabaran aja.


"Tidak tau nenek buyut, selama ini Hima hanya fokus dengan pendidikan, setelah pulang sekolah Hima mengikuti beberapa les dan itu full satu Minggu nenek buyut. Jadi.. maafkan Hima, Hima benar-benar tidak tau," aku harus berusaha sesopan mungkin dengan nenek Daddy.


Walau bagaimanapun aku ini hanya orang luar yang di pertahankan oleh Daddy di kediaman keluarga Permadani.


"Beneran satu Minggu full selama ini? Ezra.. kamu ini bagaimana sih menyiksa anak gadis untung dia gak gila gara-gara kamu kekang. Apa seperti ini perlakuan kamu pada Hima?"


Daddy tidak mengelak.


"Kamu ini memang pas dan cocok jadi anak wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu, andai papa kamu tidak keras kepala mungkin yang lahir di keluarga Permadani tidak seperti ini. Dasar keturunan keras kepala dan liar."


Hinaan dari nenek buyut hanya di senyum i oleh Daddy.


"Nenek lupa dengan kejadian tujuh belas tahun yang lalu waktu aku masih duduk di bangku SMP kelas tiga? bukannya gara-gara menolong nenek sampai-sampai mama tidak memperdulikan nyawanya, bahkan papa juga. Andai nenek tidak membakar rumah itu pasti papa dan mama masih hidup sampai sekarang, apa nenek lupa akan hal itu.

__ADS_1


Mulai sekarang jika nenek terus menerus menyalahkan mama makan nenek salah besar, apa perlu Ezra ingatkan kembali saat nenek di tolong kakek lantaran kasihan saja dan malah sekarang jadi nyonya Permadani setelah sukses naik ke atas ranjangnya, bukankah itu suatu usaha yang tidak mudah untuk di gapai nek. Permisi.. ayo Hima kita pulang."


Aku melihat nenek buyut marah tapi ia tahan demi image di rumah tersebut.


Setelah melontarkan kata-kata yang tajam Daddy mengajakku untuk kembali, aku mengangguk dan nurut pada Daddy.


Aku menatap genggam erat tangan Daddy, aku tidak berani bertanya apa-apa tentang masa lalu keluarga Permadani.


Tidak ingin Daddy terpuruk sedih, pasti tidak mudah kehidupan Daddy sampai puncak karirnya.


Saat di perjalanan usai aku mengemas koperku sendiri sedangkan Daddy juga mengemasi bajunya yang sengaja ia bawa hanya dua pasang saja, sebab prediksi Daddy tidak pernah meleset jika rumah itu tidak pernah hangat sejak dulu.. dulu...


"Maaf ya Hima sayang." Daddy mencium ubun-ubun ku.


Aku malu di perlakuan begini oleh Daddy.


"Maaf kenapa Daddy?" aku tidak tau kenapa daddy tiba-tiba meminta maaf begini.


Apa Daddy melakukan sesuatu yang melukai aku kedepannya, tapi apa ya.


Beberapa kali aku memang melihat orang asing di rumah Daddy entah siapa orang itu, terlihat menakutkan perawakannya. Tapi aku berusaha diam seolah-olah aku tidak tau, apa Daddy ada sangkut pautnya dengan kematian kedua orang tuaku di jalan waktu itu? tapi mana mungkin Daddy sebaik ini adalah dalang di balik kecelakaan naas itu.


Lagi pula Daddy juga tidak ada di lokasi kejadian, jadi otomatis Daddy murni peduli denganku bukan karena ada maksud lain.


Tengah malam di jalan lebih tepatnya di area perbukitan bahkan pelaku tabrakan sangat rapi sampai sekarang saja tidak di ketahui siapa-siapa dalang di balik itu semua, terus setelah kejadian naas itu aku di tolong malaikat tak bersayap yaitu Daddy.


Aku harus bersyukur bertemu Daddy dan Daddy begitu baik terhadapku. Aku senang sekali, terimakasih Daddy.


Daddy sedari tadi diam usai meminta maaf ia fokus pada ponselnya, pasti ada pekerjaan mendadak seperti biasanya, lebih baik aku tidur dan istirahat saja untuk mengembalikan staminaku.



Hai.. hai.. teman-teman, gimana kabarnya? semoga sehat selalu didalam lindungan-Nya.


Terimakasih banyak sudah berkenan meninggalkan jejak 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2