
Pukulannya gak tanggung-tanggung.
Si sableng mes..um ke dua ini ngapain sih pake nyapa pula. Sudah tau tempramen Daddy minus masih saja nyapa, mau di pukul lagi sepertinya nih orang.
Sama sepatu dan tas yang biasanya aku gunakan saja cemburu banget, malah ini wujud manusia beneran atau jadi-jadian sebab seringkali muncul dimana-mana. Untungnya.. tas dan sepatuku gak suka protes dan bicara, jadinya aman tidak dapat pukulan atau tendangan.
Atau jangan-jangan ia mau nagih uang sebab waktu itu dia sudah memberi tau tentang artian main solo bagi laki-laki, haduh.. gawat jika Yuda buka mulut. Bisa-bisa kritis kehidupanku selanjutnya.
"Kenapa dia kesini sayang?" pertanyaan Daddy langsung mendapat sambutan tatapan dari yuda.
"Kalian berdua pacaran? sejak kapan. Bukannya dia Daddy kamu Himalaya, apa jangan-jangan selama ini kalian berdua menjalin kasih di belakang semua orang dengan berkedok Daddy dan anaknya." Yuda pasti curiga sekarang bahkan aku bingung harus menjelaskan bagaimana.
Antara aku dan Daddy sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa selain antara seorang penyelamat dan orang yang di selamatkan.
"Apa tidak boleh saya memanggilnya dengan sebutan sayang, lagi pula jika kami benar-benar menikah bukannya hal wajar,"
bicara apa sih Daddy semakin hari semakin ngelantur gak karuan, di tambah lagi bicara dengan Yuda si sableng mes..um ke dua di tanggepi.
"Kalian.. menikah, aa.. ha.. ha.. rasanya tidak pantas seorang laki-laki tua menikahi gadis muda seperti Himalaya, di tambah lagi Himalaya begitu cantik dan menawan." Yuda benar-benar mengejek Daddy.
Apa Yuda gak sadar dengan apa yang ia ucapkan, yang ia jelekkan orang terpandang yang gak gengsi loh bergabung dengan masyarakat biasa contohnya kamu.
Aku tepuk jidatku semoga Daddy gak emosian dan membuktikan pada dunia sekarang ini.
"Kamu ini anak kecil sok kecakepan"
Rasain kamu Yuda di jemur Daddy sambil di seret-seret ke jalanan bakalan jadi tontonan orang-orang di sekitar ini.
Eh.. Daddy mau membawakannya kemana sih? ko di lain tempat, semua orang hanya melihat dan minggir menjauh.
Ternyata di bawa ke sebuah lapangan tertutup, pasti habis ini orang di hajar Daddy.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Aw.. aku membayangkan pasti sakit sekali itu perut, di tambah lagi perut Yuda ternyata rata pasti langsung kena usus besarnya dan kawan-kawan. Perih nut.. nutan.
"Daddy stop.. Daddy." Aku menghentikan kebrutalan Daddy menghajar Yuda.
"Tidak akan,dia bocah ingusan ini menghina Daddy sayang. Daddy tidak terima," akal sehat Daddy sepertinya akan geser jika ini di biarkan terus menerus.
"Jika Daddy tidak mau berhenti,maka Hima yang akan berhenti mempercayai Daddy jika Daddy sanggup melindungi Hima."
Ancaman ku berhasil akhirnya Daddy berhenti mengganjar Yuda. Setidaknya nyawa Yuda selamat dari genggaman Daddy.
Ezra jika sudah tersungut emosi ia akan membabi buta tanpa tanggung-tanggung.
"Untung masih selamat, awas saja jika saya dengar kamu bicara yang tidak-tidak. Nyawa kamu habis di tangan saya." Sambil menunjuk-nunjuk wajah Yuda.
Yuda tidak berkutik, ia berusaha mencari ponselnya dan menelpon sopir pribadinya untuk datang menjemputnya sekarang juga.
"Daddy.. sudah cukup dad, apa Daddy tidak kasihan padanya?" tanyaku sedikit panik.
"Kamu ada rasa pada bocah tengil entah sebenarnya bocah itu baik atau tidak, jika mau silahkan saja bela dia terus dari pada Daddy yang sudah bersamamu sejak dulu, dari pada bocah yang baru kamu kenal itu!" sekesal itu jawaban Daddy, aku jadi bersalah sekarang.
Sebaiknya memang aku tidak usah membahas Yuda saat kami bersama-sama, agar Daddy merasa dirinya berarti di mata orang-orang yang sudah ia percayai dalam hidupnya.
"Daddy.. jangan salah paham, sedikit pun Hima tidak ada rasa apa-apa dengan Yuda bahkan itu rasa peduli sebab Yuda sama sekali tidak berarti untuk ku Daddy, justru aku hawatir dengan Daddy"
"Aku takut Daddy di laporkan dan Hima kehilangan Daddy untuk waktu yang cukup menyiksa hati sampai Hima kehilangan semangat hidup, Hima tidak mau itu terjadi pada Daddy."
Ucapku panjang lebar semoga Daddy tidak salah paham lagi.
Ezra menatap Himalaya tidak percaya, gadis kecil yang ia rawat kini benar-benar sudah beranjak dewasa.
'Berati memang diri ini sangat salah mendidik dan mengawasi Himalaya terlalu ketat, setidaknya jika Himalaya berkerja dan mengenal interaksi dengan orang di luaran sana pikiran Himalaya jadi tambah dewasa dan juga tegas.
Diri ini memang membutuhkan sosok pendamping yang bisa bersikap dewasa, aku akan baik-baik dengan orang yang sudah jelas-jelas ada di depan mataku, tidak boleh ada keraguan pada dia. Aku tidak mau kehilangan wanita seperti ini.' Ezra membatin.
__ADS_1
"Iya, Daddy juga minta maaf ya." Ucap Daddy di iringi kecupan kecil di pipi kiriku.
Aku merasakan sedikit ada bulu kumis yang mulai tumbuh.
"Daddy brewokan ya?" aku menyentuh dan raba kumis dan dan jenggot Daddy yang ternyata mulai tumbuh bulu-bulu halus.
"Bukannya tambah maco laki-laki seperti ini, biar Daddy terlihat berwibawa juga!" jawabnya yang berbangga diri.
"Iya.. dan berati Daddy membuktikan ucapan Yuda tadi dong?" tanyaku dengan jujur saja.
Daddy langsung membelalak kan matanya.
"Apa kamu bilang sayang? benar juga ucapanmu barusan, jika Daddy tidak kamu ingatkan secepat ini pasti harga diri Daddy bakalan di injak-injak lagi oleh bocah ingusan itu," Daddy langsung mengeluarkan ponselnya.
Mau ngapain coba Daddy menelpon.
📞 "Saya mau ke tempat kamu, persiapkan semuanya."
Kemudian Daddy memutuskan sambungan telponnya.
"Barusan Daddy telpon dengan siapa, Daddy mau pergi sekarang?"
Aku penasaran dong, Daddy mau ngapain.
"Iya, dengan kamu sayang!" tersenyum lebar.
Aku menuruti Daddy saja, semoga tempat tujuannya gak aneh-aneh. Dulu kalau marah pasti Daddy melampiaskan ke area boxing(tinju).
Sesampainya di tempat yang Daddy tuju aku terperangah dengan apa yang aku lihat, yakin kah tempatnya di sini di tempat identik dengan kecantikan.
"Daddy buat apa? apa Daddy mau potong rambut lagi. Bukannya baru dua hari yang lalu Daddy potong rambut?" aku di buat kebingungan oleh Daddy.
*
Maaf up telat, emak sibuk banget. Jika ada typo maaf ya🥰🥰
__ADS_1