
Aku menatap wajah Daddy dengan seksama lalu ku ulurkan tanganku sambil ku sentuh bulu mata milik Daddy yang lebat.
"Tampan." Ku cium pipi Daddy.
Lalu tanpa sengaja malah mengenai bibir Daddy sebab Daddy menggeserkan wajahnya.
Eh..
Di sengaja kah oleh Daddy, aku hendak menghindar tapi ternyata aku kalah cepat.
"Jangan menggoda Daddy sayang,"
"Aku tidak menggoda Daddy, sejak kapan aku menggoda, lagian ini masih di dalam mobil" alasanku acuh tak acuh.
Sopir yang berada di depan sepertinya harus ekstra sabar menghadapi dua insan yang sedang di mabuk asmara.
'Sabar.. sabar.. punya majikan seperti mereka, harus siap jaga mata, jaga hati dan iman jika tidak aku bisa terlena dan kebablasan melihat adegan yang membuatku bertambah rindu pada istri dan anakku.' Batin sang sopir sambil melirik kaca spion.
"Barusan, siapa yang bilang aku tampan tadi. Aku masih ingat jelas sayang saat kamu bicara begitu tepat di dekat telingaku." Daddy membisikkan ucapannya tepat di telingaku sampai mengenai titik sensitif ku.
Aku merasakan kegelian saat bibir lembutnya mengenai ujung telingaku. Ku coba dorong tubuh Daddy tapi tidak ada pergerakan sama sekali.
"Apaan sih dad, jangan aneh-aneh deh," aku memalingkan wajahku.
Ku tahan malu agar Daddy tidak tau dan tidak curiga jika wajahku memerah.
"Lain kali jangan membangunkan Daddy, kenapa menjadi tidak sabaran begini istriku padahal belum juga sampai di rumah kita dan masih berjalan beberapa ratus meter dari rumah sakit." Ia mencubit pipi kiriku.
"Daddy lupa, tuh lihat. Apa itu bukan rumah kita Daddy, bukannya rumah dengan rumah sakit sangat dekat jaraknya hanya satu kilo meter dari rumah?" aku mengedipkan mataku berkali-kali.
Sambil ku tunjuk taman yang ada di rumah Daddy, rumah Daddy sebesar ini jarak antara rumah sakit terdekat dan rumahnya saja jalan kaki bisa, seperti kita beli bahan-bahan keperluan dapur di toko kelontong depan rumah.
Hem.. orang kaya orang kaya rumah sakit saja satu komplek apalagi supermarket bisa jadi di dalam rumah. Harus jadi ekstra sabar jika jadi istri orang seperti Daddy.
"Iya lupa, sebab kamu sedari tadi di rumah sakit sudah meng.goda Daddy begini, apa ini sebenarnya inisiatif mu sayang ?" Daddy bicara sembuh deh.
Sopir langsung tancap gas begitu sudah sampai rumah tepatnya di depan rumah.
"Kenapa lari begitu, apa perutnya sakit atau jangan-jangan mual?" Daddy pura-pura lagi.
Haduh dad, Daddy yang mengajariku hal mes.um tapi dia sendiri gak paham. Ya pasti lari lah sedari tadi di dalam mobil saja sudah pucat wajahnya sebab terheran-heran dengan sikap Daddy yang suka sekali dengan hal berbau mes.um begini.
Saat tengah malam.
Kresek
Kresek
Kresek
Krek
"Ada apa sih, kenapa berisik sekali?" aku membuka mataku dan betapa terkejutnya saat aku melihat Daddy makan.
Hah.. makan tengah malam, kenapa? tumben Daddy makan malam tapi tunggu sebentar apa yang di makan Daddy.
"Dad.. Daddy sedang apa?" tanyaku ku buka selimut yang sedari tadi menyelimuti sebagai tubuhku.
"Kamu mau sayang ?" Daddy menawari ku makanan siap saji.
Baunya sangat menyeruak dan harum, aku suka dan aku jadi lapar sekali. Aku mendekati Daddy dan duduk di dekatnya.
"Hem.. baunya enak dad, Hima mau tapi di suapi oleh Daddy." Aku membuka mulutku lebar-lebar.
Daddy langsung menyuapiku padahal yang lapar Daddy tapi yang makan aku, semoga perutku yang kenyang juga ikut menyahut di perut Daddy juga. Doakan ya, biar irit makan juga ee.. he.. he...
"Bagaimana nasi ayamnya?"
"Enak dad, mau lagi!" jawabku tidak tau malu sekali.
Padahal satu kotak barusan aku habiskan sendiri kini malah minta lagi, dasar perut gentong.
"Tapi.. ini." Matanya berkaca-kaca sedangkan aku juga sama.
Aku tidak mau kalah dengan Daddy kali ini aku harus menang sebagai pertanda aku mengajak perang Daddy.
"Daddy.. apa Daddy tidak merasakan jika anak kita mau tambah makannya?" tanyaku menggoda Daddy.
Daddy kalang kabut sebab aku sedikit membuka kancing bajuku dua kancing bagian atas, dengan alasan kegerahan.
"Bagaimana dad, setuju tidak jika aku makan itu lagi. Masih mau.."
Daddy menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Huh.. baiklah ini untuk kamu sayang, tapi.. setelah kenyang nanti Daddy harus meminta jatah yang tadi tertunda di rumah sakit. Daddy lapar ingin memakan kamu sayang." Ia meminta haknya lagi.
"Siap.. tapi gak janji asalkan Daddy gak buru-buru masuk meski pelan," aku terus mengunyah makanan yang Daddy suap kan.
Aku tau jika Daddy sebenarnya tidak rela, tapi aku ingin makan terus ini sebab di lidahku cocok dan aku tidak mual sama sekali, jadi.. buat apa berhenti. Selain itu aku tidak mau anakku yang lahir nanti ileran, lebih baik nurut saja keinginan si bayi dalam perut.
"Daddy janji sayang, tapi tidak untuk nanti." Sambil cengegesan ia berucap.
"Terserah Daddy, untuk sekarang aku mau mengenyangkan perutku yang terus meminta di isi lagi dan lagi. Padahal nih lihat dad, perutku sudah buncit begini tapi dia terus memintanya," aku perlihatkan pada Daddy.
"Aa.. ha.. ha.. seperti terkena masuk angin, kembung besar sekali sekarang perut kamu sayang." Daddy masih tertawa di sampingku bahkan nasi kotak yang ia bawa hampir jatuh dari tangannya.
"Iya dari Daddy, jika Daddy setiap hari gak masuk gak bakalan nih perut kembung," ku buka bajuku yang aku kenakan dan terpampang sudah dua bukit kesayangannya Daddy.
"Kamu jangan menggodaku sayang, apa perut kamu sudah kenyang?" ia menutup beberapa kancing bajuku.
Tumben Daddy berbeda, akhirnya aku bisa mengendalikan sedikit naf.su Daddy setidaknya ia tidak mudah terpancing lagi sekarang naf.sunya.
Besok sepertinya aku harus mengadakan acara kecil-kecilan untuk syukuran bukan syukuran kehamilanku melainkan syukuran sebab Daddy bisa mengendalikan naf su berlebihannya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sayang, ada masalah?"
Aku menggeleng. "Tidak ada dad, memang Hima gak boleh tersenyum ?"
"Boleh sayang, bahkan sangat boleh sekali tersenyum. Bukannya senyum adalah ibadah sayang!" jawabnya juga tersenyum padaku.
Aaa.. aku senang, aku bahagia. Oh.. Daddy kamu adalah pujaan hatiku dan hanya kamu satu-satunya laki-laki yang ada di dalam hatiku yang selalu membuatku bahagia sepanjang waktu.
"Betul dad, senyum adalah ibadah. Tapi jika senyumnya berlebihan apa itu termasuk ibadah?"
"Tergantung dimana tempat senyumnya dan di lakukan secara sadar atau tidak!"
"Maksudnya gila begitu dad."
"Daddy gak bilang begitu sayang, jangan mengatakan orang dengan perkataan begitu sayang,"
"Memangnya kenapa dad, apa ada yang salah dari ucapan ku barusan ?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja takut ada keluarga atau teman dekat dari orang itu tersinggung dan tidak suka sayang!"
"Benar juga kata Daddy, sebaiknya kita hati-hati dalam menjaga lisan kita."
Jadi..
Diangkat derajatnya oleh Allah SWT
Menjaga lisan dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, berdzikir, mengucap nama-nama Allah Ta'ala dan berucap kebaikan-kebaikan akan membuat kita diridhai oleh Allah SWT, dan Allah juga akan meninggikan derajat seseorang yang mampu menjaga lisannya.
"Apa sudah kenyang perut kamu sayang, sudah habis ini makanannya." Daddy menunjukkan kotak makanan itu padaku.
"Iya dad, sudah habis lebih baik Daddy bereskan semua sisa-sisa kotak-kotak itu dad," eh.. aku memerintahkan Daddy untuk mengemasi semua padahal aku yang menghabiskannya.
Maaf ya dad, sesekali aku menyuruh Daddy tidak apa-apa kan. Lagian aku juga ingin lihat Daddy ekspresi wajahnya saat di suruh orang lain, apakah baik dan tulus atau justru sebaliknya.
Dan tidak aku sangka ternyata Daddy rela melakukannya demi aku, benar-benar laki-laki yang menepati janjinya untuk mencintaiku.
Seorang laki-laki jika sudah seperti ini dan tulus sayang serta cinta pasti akan rela melakukan apa saja demi orang yang ia cintai, asalkan baik dan tidak melanggar norma-norma dalam kehidupan.
"Nih.. sudah, sekarang Daddy minta jatah Daddy sayang."
"Jatah yang mana dad ?" pura-pura lupa dan tidak ingat.
"Yang barusan Daddy minta saat kamu memakan semua nasi tadi, bahkan bungkusnya saja barusan Daddy buang ke tempat sampah tuh ..."
Aku harus mengelak, tapi dengan apa coba. Jika alasan perut sakit yang ada aku kena batunya sekarang.
"Dad.. apa harus tengah malam begini, perutku masih kekenyangan dad " aku harus gimana.
Wajah Daddy berubah menjadi sedikit ada amarah tapi juga kecewa.
Gak boleh, aku harus membuat mood Daddy kembali baik. Jangan sampai terjadi sesuatu lagi, sudahlah pasrah jika Daddy melakukannya.
"Daddy.. apa Daddy marah?" ku rayu suamiku yang ngambekan ini.
Semoga berhasil semoga berhasil kali ini.
"Tidak!" tidak marah ko ketus jawabnya.
Berarti marah artinya, harus pakai apa ya biar dia gak marah lagi. Sebel deh, udah bunting anaknya tapi yang ngambekan dia bukan aku.
Dasar suami.
"Apa dengan cara begini Daddy suka." Sambil ku sentuh ular dalam karung.
__ADS_1
Daddy mendesis desis seperti ular yang menunjukkan keberadaannya.
"Sayang.. em.. a..h.. sayang, jangan begitu," benar-benar terpancing kan.
Memang ya aku ini andalan jitu bisa di katakan aku ini kartu AS nya Daddy dan hanya aku seorang yang bisa menaklukkan ke.jantan.an Daddy tidak ada orang sehebat aku bukan.
"Kenapa dad, Daddy mau aku lanjutkan bagaimana. Seperti lollipop atau seperti sabun cuci yang aku remas sponnya atau mau aku masukkan di.."
"Cepat.. sayang," terus mengeluarkan suaranya.
Aku sedikit tertantang begini dengan suara Daddy, biar saja rumah menggema suara aku dan Daddy yang penting aku bisa membuat orang yang aku cintai bahagia dan senang di tengah malam begini.
"Siap.. laksanakan Daddy." Aku memilih yang simpel saja dan tidak membuat perutku tidak nyaman sebab ada anak kami.
Tak semua kelakuan pribadi aku umbar ya, biarkan lah hanya aku dan Daddy yang tau betapa indahnya surga dunia kami.
Pagi hari pukul 06.20 WIB.
"Dad.. mau kemana kita?" tanyaku pada Daddy yang sudah rapi tapi tidak mengenakan jas kebesarannya.
"Ke tempat khusus ibu hamil sayang, apa kamu lupa." Sambil mencibir hidungku seperti biasanya.
"Ish.. Daddy, kenapa tidak dari tadi sih. Tau begini aku siap-siap dari awal dad," aku kesal kenapa sih Daddy bilang ya dadakan sekali.
Kalau gak dadakan aku bisa dandan sedikit biar aku kelihatan tidak terlalu pucat bukan. Kesel sih iya, kenapa selalu begini dadakannya bahkan lebih dadakan dari tahu bulat yang di goreng.
"Tidak perlu, tinggal menggunakan lip balm sudah terlihat cantik dan menawan kamu sayang."
Daddy merangkul pinggangku, ya sudah jika suami bilang aku cantik pakai ini saja. Jangan salahkan aku jika aku menyingkirkan semua peralatan makeup wajib Daddy dan punyaku juga.
Biarin saja sekalian pucat seperti vampir yang pernah aku tonton di film-film terkenal.
"Baiklah dad, jika menurut Daddy aku cantik begini. Awas saja jika sampai di sana lihat istri orang cantik-cantik jadi tergoda, bakalan aku bejek-bejek Daddy tanpa ampun," sedikit mengancam Daddy.
Lagian Daddy ini kenapa sih selalu tampan dimana-mana bahkan dari sisi manapun itu, aku jadi hawatir lagi padamu dad.
Apa nanti saat berjalan bersama anakmu aku bakalan terabaikan dan yang jadi pusat perhatian hanya kamu dan anak kita saja dad, aku iri..
Aku dan Daddy sarapan dahulu sebelum kami mengikuti kelas hamil, semoga berjalan lancar sesuai angan-angan ku tadi malam, aku sedih dan butuh hiburan untuk menenangkan pikiranku. Rasanya selalu was-was dan cemas berlebihan.
Kelas ibu hamil.
Aku kira orangnya tidak ramah ternyata ramah sekali semua orang yang berada di kelas ibu hamil bahkan tidak sedikit dari mereka memuji-muji ketampanan suamiku, ish.. sebal kan meski aku tau jika Daddy akan menjadi puas perhatian saat di tempat ini.
"Sayang.. fokus dong." Daddy mengingatkan aku.
"Iya dad," aku mengikuti irama yang sudah di tentukan dari Dokter kandungan cara-cara senam ibu hamil seperti apa.
Tapi sebelumnya tadi pengenalan makanan apa yang segar untuk ibu hamil, selain itu bagaimana agar kita tidak stres mengahadapi kehamilan dan di larang cemas berlebihan apalagi yang sedang LDR dengan suaminya.
Yang gak LDR aja aku masih cemburuan apalagi berjauhan dengan Daddy, oh.. no aku tidak bisa sepertinya. Aku belum terbiasa sendiri, aku harus banyak-banyak bersyukur sebab aku masih di temani suamiku.
Ada dua orang sendirian di tempat ini, antara LDR atau di tinggal pasangan entah memilih wanita lain atau terjadi sesuatu hal yang lain. Aku tidak bertanya macam-macam, lagi pula aku peserta baru di kelas ibu hamil dan baru hari ini masuk ke kelas ini.
Terlalu pribadi jika aku bertanya macam-macam, aku tidak mau mereka jadi sedih dan berlarut-larut. Anak yang berada di dalam perut mereka butuh kekuatan dan semangat dari ibunya bukan.
"Akhirnya lega juga dad, oh.. ya dad beli itu yuk." Aku menunjuk seorang perang kaki lima tepi jalan.
"Iya, ayo," tanpa penolakan.
Inilah istimewanya Daddy, meski dia sudah dari kecil jadi orang berada dan sangat berkecukupan tapi didikan dari kedua orang tuanya berhasil, dia menjadi laki-laki yang sangat luar biasa.
Sungguh aku bahagia, biarkan semua orang tau aku bahagia mengenal Daddy sejak sepuluh tahun lebih, aku bangga padamu dad.
Meski tidak bisa ku ucapkan secara langsung tapi, aku sungguh-sungguh bangga padamu dad.
"Sedang mikirin apa sih sayang."
"Tidak ada, ayo dad kita pesan makanan itu,"
Aku sudah terlalu bosan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang, lagian bukannya ganti suasana baru juga baik untukku.
Ayo.. semangat Hima semangat empat lima, perjuangan kamu masih panjang. Selain menjaga kesehatan untuk dirimu dan anak yang sedang kamu kandung, kamu juga harus berjuang mati-matian demi rasa cinta dan sayang dari suamimu.
Semangat... semangat...
"Kamu mau yang ini." Daddy menawariku susu coklat hangat.
"Mau dad," jawabku.
Asalkan dengan Daddy minuman susu kemasan hangat aku mau, Daddy segera membayar uangnya dan memesan beberapa lagi untuk ku minum. Tau saja jika aku mau banyak susu kemasannya, pasti di tempat kalian jarang ada yang jualan susu seperti ini.
Di masukkan ke dalam kemasan plastik dan di berikan sedotan begini, rasanya enak loh ada label susu murninya juga
__ADS_1
Rasanya berbagai macam rasa, aku mau semuanya kecuali durian. Aku tidak suka dengan rasa dan baunya, biarkan Daddy saja yang meminumnya. Padahal tadi rencananya mau beli makanan malah tertarik dengan penjual susu keliling.