
Ezra malah asik dengan ponselnya, padahal tadi bilangnya mau cari cerita dongeng malah sampai menit-menit berganti tidak juga bercerita.
"Daddy berbohong pada hima? katanya mau cerita." Ku tagih saja, cih.. aku seperti rentenir saja nagih utang.
"Daddy janji, tapi Daddy mendadak ada meeting sekarang sayang. Tidak apa-apa kan Daddy tinggal kamu, oh.. ya nanti kalau lapar atau mau pulang bilang ya," Daddy mengacak-acak rambutku.
Aku kesal tapi aku berusaha meredam emosiku, tidak apa-apa. Lebih baik bersabar sedikit, bukannya tadi sudah di temani. Daddy orang sibuk jadi.. sebisa mungkin kamu harus mengimbanginya dengan tidak merepotkan Daddy.
Setelah selesai memperbaiki rambutku yang barusan di acak-acak Daddy tiba-tiba.
"Sayang.. kesayangannya Daddy jangan marah ya" pintanya.
"Iya dad, semangat Daddy."
Cup
Daddy langsung mencium keningku begitu sangat lama, kenapa aku merasakan ada yang berbeda. Kenapa Daddy seperti ini biasanya tidak begini padaku, apa Daddy ada rahasia yang sedang ia sembunyikan dariku ? tapi apa kira-kira. Kalau aku coba tanya Aan gak mungkin deh akan di jawab oleh Aan yang notabene sebagai asisten setia Daddy dari jaman dulu sampai sekarang.
"Jangan ngambek oke," mengacak-acak rambutku lagi.
"Tidak akan ngambek, tapi bisa gak sih Daddy ini rambut gak di acak-acak setiap saat. Hima bukan bintang iklan sampo yang rambutnya bakalan glowing dan lembut terus." Kesalku.
Biarkan saja sebentar lagi pabrik sampo di beli Daddy. Wkwkwk menghayal ku terlalu tinggi, ngapain juga beli pabriknya kalau bisa bikin yang baru.
"Masa sih, tapi menurut Daddy rambut kamu memang seperti iklan sampo yang anti kusut dan mudah di perbaiki sayang," masih sempat-sempatnya menggoda dan mengacak-acak rambutku.
Sebel deh, sepertinya kalau rambutku aku gundul bagus deh biarkan sekalian ia mengosok kepalaku yang gundul biar makin kemilau kinclong.
Ezra berlalu pergi setelah sukses mengerjai istrinya, baginya sangat menyenangkan membuat Himalaya kesal padanya dan di tambah lagi kepolosannya belum sepenuhnya hilang dan masih melekat di dirinya yang lucu dan menggemaskan itu.
Dirinya sangat senang sekali hari-harinya bersama sang istri apalagi sebentar lagi ada anak yang akan hadir di dunia ini, lengkap sudah kehidupannya yang harmonis tanpa adanya ikut campur orang lain baik keluarga ataupun teman, yang ada cuma dirinya dan sang istri saja.
Ezra memang bukan tipikal laki-laki belok sana sini dan suka jajan di luaran sana, ia patuh dengan nasehat almarhumah mamanya dan almarhum papanya untuk mencintai satu wanita dan membahagiakan dia seumur hidupnya.
Ia menepati amanah kedua orang tuanya, biarkan saja di luaran sana gosip ini itu menetap dan mengganggu. Yang terpenting istrinya percaya dan tidak goyah, meski semenjak hamil mood istrinya suka berubah-ubah begitu cepat, sebab hormon kehamilan itu sendiri yang menyebabkan suasana hati tidak menentu.
"Kelihatannya bikin es teh enak deh, aku bikin aja mumpung Daddy masih meeting." Semangatku bertambah.
Saat di dapur kembali seperti tadi sebelum ia memasak.
Ish.. kenapa begini lagi sih suasananya, meski ya aku sendiri tidak nyaman.
"Maaf nyonya muda, ada yang bisa saya bantu? atau nyonya muda ingin di buatkan apa begitu, misalnya camilan atau minuman segar." Tanya kepala chef dengan ramah.
Beginilah kalau perusahaan yang besar, bahkan di perusahaan saja ada chef pribadi entah berapa puluh ratusan mungkin gaji yang harus daddy keluarkan untuk mereka semua, semoga saja deh banyak orang yang selalu mendoakan kesuksesan PT PERMADANI GEMILANG milik Daddy sendiri.
"Mau es teh, tapi.. yang manis sekali di tambah kentang goreng dengan saus berbagai macam rasa ya." Aku minta ini saja, lagian aku tidak mau merepotkan mereka.
Tanpa Himalaya sadari permintaannya barusan justru merepotkan, bukan kentang atau es tehnya tapi saus berbagai macam rasa itulah yang membuat mereka kerepotan.
"Lama banget, perut keburu kelaparan ini. Maaf ya nak bukannya mama yang lama memberikan keinginan kamu tapi chef di dapur yang kerjanya lama sekali."
Tok
__ADS_1
Tok
"Permisi nyonya muda, makanan ringan pesanan nyonya muda sudah siap nyonya."
Suara ini, aku kenal yaitu suara kepala chef.
"Masuk saja,"
Chef yang tidak aku sebutkan namanya ini dengan ramah datang ke tempatku beristirahat manja dan menggemaskan.
"Ini nyonya, semua permintaan nyonya muda sudah kami siapkan." Meletakkan semua di atas meja dan yang membuatku terheran-heran yaitu kenapa banyak sekali mangkuk-mangkuk kecil berisi berbagai macam saos.
What.. apa aku tidak salah lihat ya, apa benar ini saos dari berbagai negara. Ya ampun.. pantas saja begitu lama membuatnya, pasti semua ini fresh bukan.
Aku harus mencicipi semua dan aku tidak boleh mengecewakan para chef yang sudah berkerja keras di dapur tadi.
"Terimakasih banyak ya pak." Ucapku padanya.
"Sama-sama nyonya muda, saya permisi dulu nyonya muda," pamitnya dengan sopan sambil mendorong meja dorong menuju ke luar ruangan Daddy.
"Iya." Aku harus ramah ke semua orang, orang tuaku sendiri saja mengajarkanku begitu bahkan Daddy juga.
Tidak sepantasnya aku bersikap seperti putri arogan yang tidak pernah mendapatkan bimbingan dari orang tua meski mereka sering sibuk tapi mereka juga tidak lupa mencarikan orang yang membuatku tidak kesepian dan banyak mendapatkan ilmu, baik dunia maupun ilmu yang lainnya yang bermanfaat untuk diriku dan juga orang lain.
"Em.. enak sekali, ya ampun sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memakannya."
Himalaya mencicipi semua, meski ukurannya saosnya kecil-kecil tapi jika sebanyak ini akan kenyang juga di tambah lagi kentang goreng ada banyak, sepertinya setengah kilogram lebih yang di goreng oleh chef kantor Ezra.
Saking nikmatnya ia tidak sadar jika saosnya berada di ujung bibirnya dan bahkan kemana-mana.
Mau bertanya sama siapa coba di ruangan ini hanya aku seorang dan anakku yang masih aku kandung sekarang.
Himalaya segera ke kamar mandi dan mengecek wajahnya terutama area bibirnya apa benar saosnya kemana-mana.
"Gak kemana-mana sih, cuma sedikit ko di ujung bibir bagian tepi. Tapi kenapa rasanya kepanasan gak hilang-hilang lagi, untung saja cuma di ujung bibir bukan di mata aku." Himalaya bernafas lega.
Setidaknya tidak di area mata yang area itu sangat sensitif terhadap bumbu seperti saos yang ia nikmati barusan.
Hari ini Ezra meminimalkan jadwal meeting nya dan di atur secepat mungkin oleh Aan, bukannya sok-sokan tapi demi mood istrinya agar stabil.
"Sayang." Daddy mencariku dan aku langsung keluar dari kamar mandi.
Ceklek
"Daddy, kenapa cepat sekali meetingnya hari ini?"
"Sengaja sayang, biar bisa menemani kamu sayang. Apa tidak suka Daddy cepat meetingnya hari ini?" balik bertanya.
Aku sendiri sih malah senang Daddy tinggal tadi aku bisa bebas makan ini itu tanpa Daddy larang dan Daddy cek kualitas makanan itu apa ada kandung yang tidak baik untuk tubuhku.
"Em.. ya suka sih dad!" aku cengegesan.
"Jawaban kamu kenapa begitu sayang, sepertinya kamu tidak suka Daddy cepat-cepat menyelesaikan meetingnya siang ini, apa kamu barusan berbuat sesuatu."
__ADS_1
Masih juga di tanyai, padahal barang bukti ada di atas meja dan masih pula.
"Dad.. lihatlah di atas meja itu, masih ada tuh barang buktinya dad," lebih baik mengaku sejak awal walaupun nanti tidak akan di izinkan untuk makan itu lagi sih.
"Kamu.. makan saos sebanyak itu, apa perutmu baik-baik saja sayang? tidak ada yang sakit kan jika ada yang sakit bilang ke Daddy. Tadi kamu beli atau mendapatkan makanan itu dari mana coba sayang, jawab pertanyaan Daddy sayang jangan diam saja sayang." Sambil mengguncang kedua pundak ku.
Bagaimana mau aku jelaskan jika aku tidak ada kesepakatan untuk berbicara coba.
"Daddy jangan bicara terus menerus, bagaimana aku bisa menjawabnya jika Daddy bicara tanpa henti," aku kesal lagi.
"Oh iya ya, maaf ya sayang. Ayo cerita "
"Iya baik-baik saja ko dad, lagian anak kita yang meminta bukan mamanya," aku harus apa, memang semenjak berbadan dua si baby minta ini itu dan padahal aku tidak suka makan makanan itu.
"Iya.. Daddy tau, sini." Daddy menepuk tempat duduknya.
"Duduk dimana dad, bukannya kursinya kecil dan muat untuk Daddy saja. Ya.. meskipun ada tempat sedikit untukku duduk, tapi dad.. apa Daddy tidak kasihan dengan badanku yang main gemuk dad, kata Daddy tubuhku ada kemajuan,"
"Benar juga, tapi tidak apa-apa saya sesekali di atas Daddy biar Daddy bisa menimang-nimang seberapa besarnya istri Daddy."
Apaan sih Daddy bicaranya selalu ngelantur dan membuatku malu, malu mendengarnya.
"Apa seperti sapi atau kerbau dad besarnya ?" tanyaku panik, yaps aku mulai panik nih jika aku di samakan besarnya dengan hewan yang pernah aku lihat di sawah dengan Daddy dulu.
"Tidak ko, kamu menggemaskan seperti kucing anggora sayang. Gemuk dan berbulu lebat dan panjang !" jawaban ambigu apa ini Daddy.
Masa sih aku seperti kucing anggora yang lebat bulunya dan juga panjang, atau jangan-jangan aku justru kebalikannya tidak seperti kucing anggora tapi malah seperti kucing Oren gendut yang bar-bar begitu, aduh.. masa sih aku begitu. Ku tepuk jidatku kuat-kuat.
"Benarkah dad, seperti kucing anggora atau kucing Oren yang gendut Daddy." Selidik ku padanya.
"Ya anggora lah sayang, masa kamu seperti kucing Oren sih sayang" Daddy mencubitku kuat-kuat lagi.
Sebal tapi suka di perlakuan begini oleh Daddy.
"Oke ... kalau seperti kucing anggora, seperti ini bukan kelakuan kucing." Aku coba goda Daddy ah.. dengan cara manja-manja begini.
Ezra tidak suka istrinya bertambah agresif begini, jika di teruskan bakalan pelepasan di atas meja.
"Sayang.. jangan menggoda oke,"
"Hima tidak begitu dad, cuma Hima memperagakan jika kelakuannya seekor kucing seperti ini bukan, manja-manja dengan pemiliknya ?" ku usap-usap wajahku di dada bidang Daddy bahkan sesekali aku cium aroma wangi di leher Daddy.
Sangat harum dan aku suka bau Daddy yang lembut seperti ini, tapi satu lagi yang membuatku suka yaitu Daddy merasakan kegelian di lehernya.
"Uh.. sayang.. jangan membuat Daddy lepas kendali, stop.. sayang stop.. jangan di lanjutkan," Daddy berusaha mendorongku.
Ko aku jadi kecewa ya saat Daddy menolak ku begini, apa diriku tidak cukup menyenangkan lagi, eh.. kenapa jadi berharap di apa-apain oleh Daddy. Ingat Himalaya jika dirimu sekarang berbadan dua dan kandungan kamu masih rawan dan harus di kurangi kegiatan yang berbahaya bagi kandungan kamu Hima.
Kontrol sedikit oke meski suami kamu ini sangat membuat kami ingin lebih dan lebih lagi.
"Memang kenapa Daddy, apa Daddy sudah tidak nyaman?"
Aku menutup mulut ku sepertinya aku salah bicara lagi, ya ampun aku kena hukuman apalagi dari Daddy semoga tidak membuatku kesusahan lagi, ampun...
__ADS_1
Hima menyerah dad jika daddy mengerjai aku lagi dad, sudah cukup. Batinku berteriak-teriak takut di apa-apa kan meski status kami adalah suami istri yang sudah sah di agama dan negara.