
Setelah Daddy ku bekap barulah Daddy diam meski barusan sempat memberontak. Akhirnya tidak bicara sembarangan lagi.
"Kenapa sih sayang mulut ku kamu bekap barusan ?" tangannya kesal padaku.
Aku tidak peduli lagian kenapa sih bilang ini itu gak pikir panjang, dia pikir cuma lelucon tapi bagiku itu terlalu topik sensitif sekali . Apa coba maksudnya bicara begitu.
"Biar gak bau dad, kasihan Anka mencium bau mulut Daddy !"
Mama Tasya menahan tawa sedangkan Anka bingung, ia memegang mainan mobil-mobilan kesayangannya.
"Memangnya orang sakit mulutnya harus di tutupi kakak cantik biar tidak bau begitu, tapi kenapa saat Anka sakit mama tidak menutupi mulutku seperti yang kakak cantik lakukan?"
Ha.. ini pertanyaan Anka kenapa begini, haduh... aku lupa jika Anka bukan anak usia lima tahun lagi tapi sudah lebih yang menjelma di tubuh anak kecil berusia lima tahunan ini.
"Anka.. kakak kamu berbeda dengan orang lain, jadi.. Anka tau kan jika berbeda dari orang lain !" bingung sendiri aku sedangkan Mama Tasya dan Daddy menahan tawa mendengar jawabanku yang tidak masuk akal.
Ish.. otakku mendadak kosong.
"Berbeda bagaimana kakak cantik?"
Memang repot ya menjawab pertanyaan anak-anak, harus sabar menghadapi mereka.
"Berbeda.. sebab kakak Ezra berbeda dan dia istimewa !"
"Istimewa.. wah.. Anka juga mau jadi seperti kakak Ezra yang istimewa. Mama.. bisakan Anka seperti kakak Ezra?" berganti bertanya pada mama Tasya.
Mama Tasya mengusap surai Anka dengan penuh kasih sayang.
"Anka sayang, jika nanti Anka sudah besar pasti Anka akan menjadi laki-laki istimewa untuk istri dan anak Anka nanti!" Mama Tasya memang top cer menjelaskan peribahasa yang seharusnya tidak Anka ketahui.
Ezra dan Himalaya sama-sama diam.
"Oh.. ya bagaimana keadaan kamu sekarang, apa sudah lebih baik dari pada tadi ?" Mama Tasya mengecek suhu badan Daddy.
"Sudah lebih baik ma!" Daddy membenarkan posisi bersandarnya.
Tentu saja aku membantunya, gara-gara kecerobohan ku tadi membuat nyawa Daddy hampir terancam untung saja Daddy tidak sampai sesak nafas saat alergi tadi.
Aku sangat hawatir dengan keselamatannya.
•
Yuda baru selesai mengerjakan tugasnya di kantor, terlalu sibuk dan tidak bisa di ganggu gugat.
Matanya justru tertuju pada sebuah kotak di dalam paper bag.
"Apa ini?" ia buka dan isinya sebuah jepitan dasi.
"Tumben ada pengagum rahasia." Ledek Bella yang baru saja sampai sambil menyenderkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa bukan dari kamu?" Yuda mendekati Bella yang berada di ambang pintu.
"Buat apa memberikan sesuatu yang begitu mahal, lagi pula jepit seperti ini harganya tidaklah murah pasti berjuta-juta satu jepit saja. Lagian.. kita hanya partner di atas ranjang bukan." Bella memainkan jari lentiknya di dada bidang Yuda.
Yuda menarik tangan Bella.
"Kamu jangan menggodaku di kantor," gertaknya pada Bella.
Bella tertantang kali ini, di tambah lagi Yuda tampan dan kaya.
"Kenapa.. takut ketahuan atau memang kamu tidak berani sekarang. Apa jangan-jangan kekasihmu ada di kantor ini, apa dia sekretaris pribadi kamu?" Bella terus saja menggoda Yuda.
Yuda juga terpancing di kantor, ia langsung menarik Bella menuju ruangan pribadinya.
"Yuda.. kamu terburu-buru sekali, apa tidak ada wanita di sampingmu yang bisa memuaskan kamu." Sambil melepas jas yang di kenakan Yuda.
"Tidak ada hari ini," nafasnya terdengar terengah-engah.
Sore hari.
"Daddy sudah yakin kuat pulang sekarang?" ku pastikan Daddy baik-baik saja dan tubuhnya kuat.
Takut ambruk di tengah jalan meski menuju mobil di dorong dengan kursi roda dan masuk ke dalam mobil di bantu bawahnya Daddy.
"Pak.. hati-hati mengemudinya." Aku memperingatkan sopir rumah kami untuk lebih hati-hati.
Cukup aku saja yang ceroboh hari ini.
Anka dan mama Tasya sudah sedari tadi pulang ke rumah, tapi tadi aku sedikit sebal saat melihat wanita yang pernah dulu singgah di hati Daddy, padahal masa lalu dan Daddy dengan wanita itu tidak jadian.
Tapi tidak bisa di pungkiri jika wanita itu sepertinya masih menginginkan laki-laki tampan, hem.. wanita haus belaian sepertinya. Apa suaminya gak bisa memuaskan dirinya sampai-sampai ia melihat pria tampan saja masih kehausan.
"Kenapa itu muka di tekuk tekuk?" tanya daddy saat aku mendadak marah.
Aku bingung kenapa harus marah pada wanita lain yang jelas-jelas tidak menghiasi hati suamiku. Sensitif ku ternyata sudah sangat berlebihan, apa aku harus ke peskiater.
"Dad.. apa perlu aku ke peskiater, aku merasa hawatir dan takut kehilangan kamu dad. Dan aku merasa itu sangat berlebihan sekali dad!" jawabku sadar.
Meski di selimuti rasa kecemasan, aku juga di liputi rasa ke khawatiran berlebihan dan ketakutan berlebihan sampai aku merasakan seperti kehilangan orang yang aku cintai dan sayangi, apa sebenarnya selama ini aku depresi berat tanpa aku sadari.
__ADS_1
"Tidak perlu sayang, kenapa kamu begitu cemas sayang. Percayalah pada Daddy, Daddy tidak akan pergi meninggalkan kamu sampai kapanpun itu sayang." Daddy mengecup keningku berkali-kali.
Tapi aku merasakan ada yang berbeda dari Daddy, apa benar Daddy tidak akan meninggalkan aku.
"Daddy.. berjanjilah padaku dad, jika Daddy hanya ada aku satu-satunya yang berada di hati Daddy," aku meminta berjanji bolehkan pasti.
Janji adalah sebuah perkataan atau pengakuan yang bersifat mengikat diri sendiri terhadap sesuatu ketentuan yang dia katakan. Sebab sifatnya janji yaitu mengikat, janji ini harus ditepati dan dipenuhi.
Dalam agama Islam pun demikian, janji merupakan sesuatu yang harus ditepati.
Janji SETIA. SElingkuh TIada Ampun.
Tapi bukan berarti semua pasangan salah satunya ada yang seperti ini, setia bukan berati selingkuh tiada ampun. Tidak benar seluruhnya, SETIA menurutku adalah Selalu Engkau TIada duanya di hati Aku.
Aku terbaper.. baper.. dengan kata-kata spontan yang aku ucapkan.
Himalaya tersenyum sedikit.
Ezra menatap sang istri penuh tanya di sertai curiga pada istrinya, apa perlu membawanya ke peskiater untuk waktu yang dekat-dekat.
'Semoga istriku baik-baik saja meski terkadang moodnya naik turun, apa perlu ke tempat peskiater, tidak...'
"Sayang.. sayang.."
Panggilan Daddy menyadarkan aku.
"Iya dad, ada apa?" aku tidak bersalah kenapa harus hawatir.
Daddy hanya memanggilku saja tidak bicara apa-apa selain nama kesayangannya padaku.
"Kamu sedang memikirkan apa sih sayang, jangan berpikiran yang tidak-tidak sayang. Kamu harus banyak berpikiran positif, bukannya saran dokter harus berpikiran positif terus."
“ Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim no. 4849)
Ezra mengeluarkan ponselnya dan mulai membaca seputar cara agar ibu hamil berpikiran positif dan tidak stres saat hamil apalagi nanti menjelang melahirkan bayinya.
Ada beberapa cara dan tahapan agar ibu hamil berpikiran positif, agar kandungan tidak bermasalah dan juga ibunya.
1. Lihat Sisi Positifnya
Memang sulit untuk membuat Ibu tetap berpikiran positif bila terus mendengar cerita kurang menyenangkan tentang kehamilan. Namun, Ibu tak perlu pesimis. Cobalah berpikiran positif dari hal yang terkecil.
Misalnya, khawatir tentang perkembangan tumbuh janin kurang optimal. Ternyata, setiap kontrol ke dokter kandungan, kehamilan Ibu dianggap sehat dan tidak ada masalah. Ibu bisa menjadikan fakta-fakta baik itu untuk menolak pikiran negatif.
Selain demi kesehatan sang ibu juga anak yang berada di dalam kandungannya.
Setiap Ibu hamil mulai merasa panik dan takut, coba lakukan meditasi selama sekitar 15 sampai 30 menit.
Cobalah mencerna informasi yang anda dapat, lalu atur pernapasan supaya detak jantung lebih santai, normal dan stabil.
Diawali dengan mengambil nafas sebanyak lima hitungan, tahan selama enam hitungan, dan hembuskan lewat mulut secara perlahan sebanyak tujuh hitungan. Ibu bisa melakukannya sampai merasa tenang.
3. Alihkan Ke Hobi
Ibu tentu punya hobi tertentu, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau memasak kue. Ternyata, hobi-hobi tersebut bisa menolong saat pikiran negatif mulai muncul.
Melakukan hobi tersebut bisa mengalihkan dari pikiran negatif. Namun ingat, lakukan hobi yang tidak menguras tenaga ataupun membuat Ibu hamil kelelahan.
4. Ceritakan Ke Orang Lain
Ada baiknya saat hamil menceritakan pikiran negatif tersebut ke orang-orang terdekat, seperti suami dan para sahabat.
Mereka yang peduli akan mencoba menenangkan anda. Jadi, hindari menyimpan kekhawatiran seorang diri bagi ibu hamil.
5. Hindari Orang-Orang Berpikiran Negatif
Saat hamil melihat, mendengar dan mengetahui siapa saja orang di sekitar yang menambah kekhawatiran seputar kehamilan dan kelahiran.
Sebaiknya, mulai sekarang anda perlu menjauhi mereka terlebih dulu agar anda berpikiran positif.
Mulailah bergaul dengan orang-orang yang memberikan masukkan positif, Bu. Selain menenangkan, orang-orang ini akan menambah ilmu Ibu soal masalah kehamilan dan tumbuh kembang si Kecil.
Jadi, ingat selalu bahwa berpikiran positif selama kehamilan itu sangat penting. Ibu hamil bisa melakukan berbagai cara untuk tetap berpikiran positif tersebut.
(Copas google, tapi sudah di rombak ya)
"Sayang.. coba kamu baca artikel ini deh" Daddy memberikan ponselku padaku.
Daddy ini suka sekali menggunakan ponselku dan ponselnya sendiri saja tidak ia gunakan. Apa bagusnya coba ponselku setiap hari di pinjam Daddy.
Baiklah aku coba baca dulu.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Ilmunya bermanfaat sekali, orang ini." Ucapku terkagum-kagum setelah aku membaca artikelnya.
"Iya betul sayang," sambil mengusap-usap perutku yang rata.
Daddy pun juga sama, padahal tadi juga hawatir dan panik. Ternyata dari pikiranku yang tidak-tidak ternyata, sebaiknya memang aku tidak melihat medsos dulu dari pada aku kesakitan dan drop lagi, kasihan Daddy malah hawatir padaku.
__ADS_1
Memang ibu hamil perlu diperhatikan oleh suaminya, tapi aku juga tidak mau berlebihan takut aku terlalu manja dan tidak bisa apa-apa saat aku hamil.
Sebaiknya aku belajar dari artikel yang ada di ponsel cara-cara mandiri saat hamil. Aku mengetik sesuatu di layar ponselku, semoga yang aku cari ada di sini.
Jangan bersedih, minta dukungan orang terdekat, lebih percaya diri, jangan stres dan yang terakhir gabung di komunitas ibu hamil.
Ternyata hampir sama dengan artikel yang tadi, aku jadi tambah paham sekitar kehamilan. Memang terkadang mood jelekku tidak dapat aku kontrol, ternyata hal wajar asalkan dapat mengontrol semuanya menjadi hal positif.
"Bagaimana sayang, sekarang menjadi lebih tentang. Sepertinya kita harus mengikuti kelas ibu hamil deh sayang, biar kamu juga tau seputar kehamilan.
Agar istriku ini tidak kesepian di rumah." Sambung Daddy sambil mencubit gemas hidungku.
"Aduh.. sakit dad, jangan kencang-kencang kenapa cubitannya di hidung," aku protes dong pada Daddy.
Enak sekali cubit sana sini gak mikirin aku yang kesakitan sebab ulah jahilnya.
Hima tenang Hima tenang oke, jangan panik jangan marah ya. Bukannya kamu baru saja membaca artikel tentang berpikiran positif dan menjauhi yang negatif.
"Daddy gemas padamu sayang, Daddy rasanya tidak sabaran untuk pulang ke rumah." Lagi-lagi Daddy memelukku dengan erat.
"Sesak dad," aku memberontak.
"Baiklah, sayang Daddy."
"APA!" jawabku ketus pada Daddy, jika di layani bakalan kemana-mana.
"Tidak jadi."
'Istriku, seperti monster kalau marah. Menakutkan, untung saja aku yang jadi suaminya kuat mental menghadapi dia. Kalau orang lain aku tidak yakin bakalan mampu menghadapi istri begini modelan Himalaya.' batinnya sambil melirik wajah istrinya.
Kenapa Daddy melirikku begitu, apa dia mengumpat ku di dalam hati tanpa sepengetahuan dariku.
Ezra merogoh kantong di saku celananya, perasaan tadi dirinya tidak mengantongi sesuatu deh, kenapa sekarang jadi berbeda ada yang mengganjal.
"Sayang.. ini milik kamu?" tanya Daddy sambil menyodok kertas itu.
Aku coba cek kertas apa sih isinya, sepertinya kertas baru di robek bukan kertas yang terkena cucian mesin cuci deh, tertata rapi dan tintanya masih baru.
"Eh apa ini dad?" aku tunjukkan keras itu pada Daddy.
"Nomor siapa ini sayang, perasaan nomor kamu bukan yang ini. Kamu ganti baru sayang?" Daddy malah bertanya padaku.
"Tidak tau dad, aku pikir nomor Daddy berganti yang baru lagi ternyata bukan punya Daddy. Lalu punya siapa ini dad." Aku mengingat ingat apa pernah kenal dengan nomor ini.
Aku tidak ingat yang ada malah buntu otakku.
"Bukan punya Daddy, mungkin punya sopir yang nomornya berganti baru. Pak.. ini apakah nomor bapak?" sopir itu menepikan laju mobilnya dan melihat nomor di secarik kertas kecil robek.
Dan ternyata bukan nomornya, terlalu berbeda jauh dan beda tipe kartu juga bisa di pastikan bukan miliknya ataupun milik istri dan juga anaknya.
"Maaf pak bos, ini bukan milik saya pak bos!" jawab sang sopir lalu mengembalikan secarik kertas itu pada Daddy.
"Ya sudah, lebih baik di buang sana nomornya." Daddy hendak membuka kaca jendela mobil tapi aku cegah.
"Coba Hima simpan dan cari tau dad ini nomor milik siapa," aku mengusap layar ponselku dan langsung dengan lincah jari jemariku mengetik nomor itu.
Setelah tersimpan aku coba cek profilnya dan ada nama yang tertera di profilnya. Kar_tika wah.. ini bukannya suster yang tadi yang berusaha menggoda suamiku.
Memang minta di bejek-bejek ini orang, apa gak punya suami dia. Bukannya cantik, bunga sekolah yang terkenal seantero kota.
"Nih.. calon pacar Daddy yang nolak Daddy dulu, gak mau membalas dan chat.. chat an gitu dad untuk mengenang masa lalu yang kelam?" ku berikan ponselku pada Daddy.
Nyesel, tau gini gak kepo dengan nomornya jika tau begini jadi sakit hati sampai ke ulu hati.
"Sayang, kenapa bilang begitu sih. Meskipun dia pernah Daddy kagumi, dia cuma sebatas Daddy kagumi tidak lebih dari itu sayang. Dan yang sekarang hanya kamu yang sangat berarti badi Daddy dan hanya kamu satu-satunya yang Daddy kagumi, cintai, sayangi, hargai sayang!" jawaban Daddy sangat memuaskan has.ratku yang kurang percaya diri pada takdir yang sudah berada di depan mata tinggal menjalankan saja.
"Terimakasih Daddy, sudah sangat sabar menghadapi ku dad. Maaf dad jika Hima selama ini sering berpikiran yang tidak-tidak tentang hubungan kita dad, aku ingin mulai sekarang aku lebih berpikiran terbuka dan positif, ini dad sebaiknya ponsel hima Daddy simpan saja agar Hima tidak melihat berita dan drama yang tidak-tidak serta berlebihan tentang kehidupan pribadi orang-orang berumah tangga dad." Ku berikan ponselku pada Daddy tapi Daddy hanya melihatnya saja dan tidak segera menerima ponselku yang sudah aku sodorkan.
"Sama-sama sayang, ayo pak jalankan lagi mobilnya " Daddy memerintah sopir untuk segera mengemudikan kembali mobilnya ke jalan raya.
Aku menikmati suasana jalan raya yang ramai tapi tetap bisa menikmati indahnya pohon rindang di tepi jalan.
Aku hitung satu persatu pohon di jalan tersebut tanpa terkecuali, mungkin banyak di luaran sana yang sedang hamil suka sekali menghitung sesuatu yang biasanya tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Terkesan unik dan aneh di sertai langka bukan hamil seperti diriku.
Tapi aku harus enjoy dan happy bukan, dari pada stres lagi dan berpikiran negatif mulu.
"Ada berapa banyak pohon yang kamu hitung sayang?" Daddy mengetahui ternyata jika aku menghitung jumlah pohon di jalan.
"Banyak dad, kenapa Daddy bisa tau?"
"Ya tau lah, kamu menghitungnya dengan bergumam dan hanya terdengar besar kecilnya pohon. Jika besar kamu hitung satu jika kecil kamu hitung setengah dan seperempat nya saja!"
"Eh.. ketahuan Daddy, dari pada nganggur dad lagian Daddy hampir tidur bukan."
"Iya, benar juga. Kalau begitu Daddy tidur sebentar sayang,"
"Iya dad, selamat sore Daddy."
__ADS_1