
Semoga masih banyak yang berkenaan mampir dan mendukung 🥰 🥰
•
Bella membuang semua barang-barang yang berada di dalam kamar apartemen milik Yuda, sedangkan Yuda masih sibuk di kantor papanya.
💬 Aku di apartemen, kapan pulang?
Terkirim ke ponsel pribadi Yuda.
Yuda tidak melihat ada pesan masuk, terlalu banyak pekerjaan pagi ini yang harus segera ia urusi jika tidak maka fasilitas yang ia peroleh selama ini akan di tarik paksa oleh papanya, ia tidak mau hidup miskin padahal dirinya adalah pewaris tunggal dari PT. Cipta Raksasa salah satu perusahaan terbesar di negara ini.
"Nih orang berisik banget."
Pesan dari Bella berkali-kali masuk dan membuat Yuda marah, lagian wanita seperti Bella selalu haus akan belai.yan dari seorang pria dimana-mana.
Menurut Yuda Bella kurang misterius dan polos tidak punya, jadi mau tertarik dan peduli dari mananya coba.
Yuda mematikan ponsel yang ada nomor Bella tidak dengan ponselnya yang lain.
"Sial.. kenapa tidak bisa di hubungi sih, dasar semua laki-laki sama setelah puas pergi begitu saja." Bella keluar dari apartemen dengan kesal.
Belum juga reda emosinya gara-gara tertipu oleh Ezra malah kini bertambah Yuda entah mematikan ponselnya atau sudah menghapus daftar kontak miliknya. Yang jelas sudah tidak bisa di hubungi lagi.
•
"Hima.. ini mama biarkan jus tomat wortel, pasti kamu suka." Mama Tasya memberikan jus itu padaku.
Aku tidak pernah menolak makanan apapun itu, tapi tetap saja harus hati-hati. Jika orang lain yang memberikan ini pasti Daddy langsung menyuruh orang lain untuk mengecek kondisi makanan dan kandungan di dalamnya apakah ada zat tertentu di situ, ribet tau.
Daddy memang belum berangkat ke kantor hari ini ia akan berangkat lebih siangan sebab mama di sini sekalian mengantar Anka ke sekolah dulu baru nanti pulang dan berbincang-bincang dengan mama.
Selain ribet juga buang-buang waktu, tapi apa sih yang enggak dengan orang tua yang seperhatian ini. Lagian apa salahnya juga jika orang tua di dahulukan.
"Terimakasih banyak ma," aku menerima jus itu dan meminumnya tanpa ragu sama sekali.
Sudah lama aku tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu, kalian semua tau bukan jika kedua orang tua dan Daddy sudah lama tiada dan sekarang hanya ada mama Tasya yaitu mamanya anak kecil bernama Anka.
Adik Daddy yang sekarang menjadi adikku juga, sungguh aku senang sekali punya adik imut pintar dan plus tampan sekali, aku berdoa nanti saat dia dewasa mendapatkan pendamping yang luar bisa tidak hanya pintar tapi cantik dan berbakti pada dirinya dan juga keluarganya.
Walaupun menjadi menantu itu tidaklah mudah dan aku sadar itu. Apalagi aku ini wanita payah yang tidak bisa apa-apa jadi apa yang harus aku unggulkan, cari uang saja jika bukan bantuan dari Daddy tidak mungkin bisa itu pun posisiku hanya sementara setelah itu aku gak di izinkan berkerja lagi.
"Kenapa dari tadi mama lihat kamu melamun terus Himalaya ?" teguran sapa dari Mama membuatku terkejut dan hampir saja gelas yang aku pegang jatuh.
"Tidak ma, hanya saja Hima ingin berubah ma!" jawabku membuat mata mama Tasya melotot tajam.
"Maksudnya, mau berubah seperti apa? Mama tidak mengerti," Tuhkan baru juga aku bicara begini saja mama sudah panik dan terheran-heran.
"Ya jadi wanita yang lebih baik, bisa masak, bisa menyenangkan hati suami dan mamanya serta keluarganya ma. Aku juga tidak mau jadi beban untuk mama dan Daddy ma." Semoga mama paham dan perkataan ku barusan tidak menyinggungnya.
"Oh... mau pintar menyenangkan suami dan mertuanya nih ceritanya," ternyata mama tidak marah malah mencandaiku.
Aku mengangguk.
"Sini mama ajari pertama." Tanganku di tarik mama dengan semangat empat lima.
Ish.. mama ini meski usianya sudah setengah abad lebih tapi kekuatannya masih seperti anak muda tujuh belas tahun saja.
"Ma.. pelan-pelan, aku tidak mau Daddy hawatir lagi," aku harus mengantisipasi Daddy marah-marah.
"Ngapain sih membicarakan bocah ingusan yang kurang peka itu, kamu harus punya trik ini dulu untuk menggoda dia dan melumpuhkan pelakor." Mama ini mau berbuat apa sih.
Peralatan dapur semua di keluarkan, mbak.. mbak.. yang berkerja di rumah harap bersabar ini cobaan sementara sampai mama pulang ke rumah mbak.
Ezra baru saja mengantar Anka ke sekolah lalu ia mencari-cari keberadaan sang istri tapi tidak ada di ruang tamu, keluarga, makan, kamar, kamar mandi dan tempat lainnya sebab ia tau tidak mungkin istrinya berada di dapur sebab selama ini dirinya melarang Himalaya untuk berkutat di dapur takut sang istri terkena luka bakar dan lainnya.
Terkesan lebai tapi ini salah satu caranya agar Himalaya tidak terluka, terlalu berlarut-larut rasa bersalahnya yang begitu sangat besar pada Himalaya.
"Sayang.. sayang.. ma.. mama.. kalian ada di mana." Menatap kesana kemari dengan perasaan was was dan cemas.
Mama Tasya memberiku kode agar aku diam, aku menurutinya, lagian kenapa Daddy teriak-teriak terus padahal kami berdua ada di dapur apa sebegitu anehnya kami berada di dapur.
"Biarkan saja dia mencari di seluruh dunia, lagian jadi laki ko malah menyuruh kamu tidak pergi ke dapur." Kesal mama.
Aku tau aku juga salah di sini, seharusnya aku tidak menuruti Daddy. Daddy memang menyesatkan untukku kalau aku di tinggal sendiri dan hidup sendiri terus aku gak bisa apa-apa bagaimana coba.
__ADS_1
"Maaf ya ma," ucapku lirih.
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf tapi tuh bocah tengil yang sebentar lagi jadi aki-aki. Masa istrinya mau pergi ke dapur tidak boleh dengan alasan takut terjadi apa-apa, jika mama jadi kamu mama akan berontak dan tidak mau di kekang. Apa dia mau coba kamu kekang, pasti enggak kan enggak mau pasti jika dia juga di kekang, lain kali jika di kekang dia kamu harus lawan dengan tenaga penuh..." Mama marah-marah aku yakin sebentar lagi Daddy pasti kesini sebab mendengar omelan mama.
"Sayang.. mama, kalian ada di sini? padahal sedari tadi aku cari kalian dimana-mana eh.. taunya ada di sini," Daddy datang tepat waktu.
Haduh.. omelan mama mertua memang sehoror ini, tapi mau bagaimana lagi aku sudah berusaha jika tidak bisa ya mau bagaimana lagi sudah terjadi dan terlanjur.
Aku hanya bisa sabar dan perbaiki diri sendiri, lagian mau jadi mama muda aku dan aku harus kuat dan mampu menjadi istri yang bisa di banggakan saat di bawa kemana-mana.
"Ini nih biang keroknya, hanya naf,su saja yang di gedein tapi kepandaian tidak. Kenapa kamu mengekang istrimu yang baik dan polos ini, apa kamu juga sudah meracuni pikirannya agar jadi wanita yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu sendiri dan tidak mengizinkan dia untuk bebas berkarya ?" menjewer telinga Daddy sampai Daddy meringis dan mengeluh kesakitan.
"Aduh.. ma.. aduh.. mama Tasya sakit ma.. aduh.. aduh..," sambil memegang telinganya yang masih di jewer oleh mama.
Aku hanya tersenyum dan menahan tawaku, kapan lagi aku melihat Daddy tertindas begini. Biasanya bawahannya yang tertindas tapi kali ini Daddy.
"Sakit kamu bilang? sakitan mana dengan hati dan tubuh Himalaya yang kami siksa dari dulu sampai sekarang kamu nikahi dan hamil anak kamu hah?" masih berlanjut mama menjewer Daddy.
"Ma.. aku janji tidak akan mengekang istri kesayanganku ma, Ezra janji ma! tapi.. tapi.. lepaskan dulu ma jeweran nya ma.. sakit sekali ma," sambil memohon agar telinganya terbebas dari jeweran sang mama.
"Tidak bisa, sebelum kamu merubah sikapmu pada istrimu Himalaya. Mama ingin dia bebas dan bisa melakukan apapun itu tanpa kamu kekang Ezra."
"Sampai kapan dong ma ini acara menjewer nya, sudah sakit sekali ini telingaku ma seperti mau putus dari kepalaku ma," mengeluh dengan kesakitan.
Aku merasa kasihan sekali pada Daddy. Tapi.. mau bagaimana lagi semua perkataan Mama Tasya ada benarnya, jika tidak di begini kan Daddy juga tidak akan berubah bukan.
"Sampai kamu benar-benar sadar, apa sampai detik ini belum sadar juga jika sikap pengekangan kamu terhadap Himalaya dan membuatnya sedih sekaligus tertekan dalam hidupnya?" terpaksa melepas jeweran nya, segalak-galaknya mama Tasya ia tetap sayang pada anak-anaknya yang ia sayangi.
Aku tau itu mama tidak akan tega melukai anak-anaknya meski tidak terlahir dari rahimnya melainkan saudari kembarnya yang sudah tiada lama sekali. Sekitar kurang lebih lima belas tahun yang lalu, aku sendiri sampai lupa.
Maaf mama dan papa mertua bukannya aku sengaja melupakan kalian tapi aku orangnya pelupa.
Eh.. bukannya Daddy menyuruh orang bawahannya untuk memperbaiki makam papa dan mama kemarin itu, apa sudah selesai pengerjaannya. Pasti belum selesai sebab masih kemarin, sudahlah jangan membahas ini dulu meski aku sangat merindukan mereka.
"Sakit banget ma.. apa mama tidak mengira-ngira apa menjewernya, sakit.. panas banget ma di sini" keluhan Daddy malah membuat mama geram.
"Mau di tambahi lagi apa hukumannya?" tantang mama.
Begini kalau the power of Mak Mak pantang untuk di lawan. Aku sendiri saja mundur gak berani maju, apa kedua orang tuaku seperti mama yang akan membela anaknya jika benar dan akan mengingatkan jika aku salah.
Ezra menatap istrinya yang sedari tadi menahan tawanya, tidak apa-apa dapat jeweran dari mama Tasya yang penting bisa melihat sang istri senang dan bahagia itu sudah cukup baginya.
Asalkan perutnya tidak sakit lagi dan tidak membuat istri tercinta dan anaknya dalam bahaya.
Ezra segera duduk di samping istrinya.
"Anak papa." Menciumi perutku, oh.. so sweet sekali.
Aku merasa tidak nyaman dan geli saat Daddy mengusap-usap wajahnya di perutku yang sedikit buncit sebab aku suka makan dan selalu memakan apapun yang aku inginkan asalkan aku tidak mual saat memakannya.
"Dad.. ada mama," Daddy ku peringatkan jika di dapur tidak hanya kita berdua tapi ada mama juga.
"Mama tidak apa-apa, kalian lanjutkan saja tapi nanti kalau mau begituan jangan di dapur kasihan kompornya jadi merona." Mama Tasya ini bersenda gurau lagi.
"Ma.., apa mama tidak kasihan tuh lihat menantu mama jadi malu begitu wajahnya," Daddy ini malah ikut nimbrung dan membuatku tambah malu akibat ulah Daddy.
Ini kelemahan terbesarku terhadap Daddy, mudah menahan malu.
"Dad.. jangan di lanjutkan ini berada di dapur." Ku dorong kepala Daddy agar menjauh dari perutku.
Untung saja kursi dapur kuat untuk kita berdua jika tidak pasti sudah ambruk sedari tadi, kenapa ada kursi panjang sebab mbak-mbak yang berkerja di sini suka menggunakan kursi panjang tersebut untuk bersantai saat masakan yang di masak membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Kenapa di dorong sih sayang, padahal anak kita barusan senang dan gembira loh saat Daddy-nya mengusap-usap wajahnya di perut mamanya, dia suka Daddy sapa."
"Perasaan tadi bilangnya papa deh kenapa sekarang jadi Daddy. Bukannya akan saingan denganku jika dia nanti besar dan mengerti?" aku protes dong.
Tidak mungkin mamanya dan anaknya bersaing memanggil Daddy, tapi gak apa-apa lebih baik bersaing dengan anak sendiri dari pada dengan wanita lain.
Untung saja Daddy memiliki hati hanya untukku dan tidak ia bagi dengan wanita lain, aku pikir kedatangan wanita itu akan membuat Daddy terlena dan melupakan kami berdua.
"Ya enggak dong sayang, kamu tetap kesayangannya Daddy sedangkan anak kita baby kesayangannya Daddy, kan beda sayang gak sama dengan kamu!" jawaban apa ini, kenapa tidak nyambung sama sekali.
"Maksud Hima bukan begitu Daddy, sudahlah dad bicara dengan Daddy tambah ngelantur. Dad.. Hima mau memberontak mulai hari ini." Ku ajukan pertanyaan yang tadi di ajari oleh mama Tasya.
"Maksudnya ?? apa sayang, memberontak bagaimana Daddy tidak mengerti maksud kamu sayang," sambil tertawa kecil dan bingung.
__ADS_1
"Ish Daddy masa baru juga di jewer mama sudah lupa sih dad, Daddy sengaja ya biar aku gak berani melawan overprotektif nya Daddy ?" aku kesal padamu dad.
"Iya.. iya.. Daddy gak lupa ko cuma kenapa sih kamu mau nurut sama perkataan Mama, Daddy bahagia ko punya istri seperti kamu sayang!" jawabnya membuatku terdiam seketika.
"Aku juga ingin menjadi wanita mandiri dad, aku tidak mau suatu hari nanti aku di remehkan orang lain dad."
Ku mainkan jari jemariku.
"Tidak ada yang bisa meremehkan istri kesayanganku ini, apa kamu percaya sayang?"
Daddy mengusap-usap rambutku.
"Iya kalau Daddy pasti percaya, tapi.. orang lain belum tentu dad. Aku tidak mau membuat Daddy malu saat Daddy keluar dan bertemu teman-teman Daddy dan klien Daddy maupun pelanggan setia produk milik Daddy !" aku sedih di sini.
Untuk mengantisipasi hal yang tidak aku inginkan menghampiri diriku.
"Baiklah Daddy izinkan, tapi ingat.. kamu harus menjaga baik-baik anak kita dan jangan terlalu keras berpikir yang tidak-tidak sayang. Daddy ingin kamu stabil emosi kamu sayang dan tidak ingin kalian kenapa-kenapa sayang." Sambil mencium dahiku sangat lama.
Aku senang dan bahagia.
"Dad.. aku masak ya?"
Daddy langsung melepas dekapannya dan menatapku seolah tak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan, apa sebegitu terkejutnya Daddy padaku yang selama hidup bersamanya tidak pernah menyentuh yang namanya dapur apalagi memasak.
"Masak???"
Sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
"Iya dad memasak, memasak makanan. Apa Daddy tidak mau dan tidak mengizinkan aku pergi memasak dad." Aku mengambil celemek untuk menutupi badanku.
"Sayang, bukannya Daddy sudah melarang mu untuk memasak sayang. Daddy tidak mau kamu sampai terluka apalagi sekarang kamu sedang berbadan dua sayang," Daddy tiba-tiba melepaskan celemek yang aku kenakan barusan.
"Daddy." Aku menatap tajam Daddy dan Daddy tidak menghiraukan aku sama sekali dan tetap melanjutkan melipat celemek tersebut.
"Daddy jangan, Hima mau memasak jika Daddy tidak mau aku terluka Daddy bantu aku oke," aku meminta padanya.
Daddy masih terlihat ragu padaku, bukan hanya terlihat tapi tidak yakin jika aku bisa memasak. Memang tidak bisa memasak tapi apa salahnya mencoba dengan melihat beberapa resep da tata cara memasak makanan.
Entah gagal atau berhasil itu adalah hasilnya, tapi semua yang namanya belajar tidak mungkin langsung bisa bukan.
"Tapi.."
"Gak ada tapi tapian dad, pokonya hari ini Hima mau belajar memasak jika gagal ya sudah. Apa Daddy tidak berkerja hari ini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Lagi pula di ladeni semakin lama malah semakin memakan waktu juga, aku malas jika waktu ku terbuang sia-sia saja sebab berdebat dengan Daddy.
"Daddy berkerja sayang, tapi sepertinya tidak jadi berkerja jika seperti ini Daddy terlalu hawatir padamu sayang. Sekali ini saja Daddy tidak berkerja oke." Daddy tiba-tiba memelukku dari belakang.
Aku tidak apa-apa tapi jika alasannya cuma ini dan dia kegerahan lagi aku gak mau tanggu sudah cukup Daddy ku puaskan sekarang giliranku untuk bebas sebentar saja.
"Apa tidak kasihan dengan Aan?" tanyaku saat aku menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa sayuran segar.
Meski aku tidak pandai memasak tapi aku masih tau ko bahan-bahan memasak seperti rempah-rempah jadi.. jangan hawatir jika aku di suruh mengambil jahe, serai, cengkeh atau kayu manis, jinten dan lainnya masih bisa dan dapat membedakan semua itu.
Tapi.. sayangnya aku tidak pernah masak-masak menu makanan yang menggunakan bumbu dapur seperti yang barusan aku sebutkan.
"Tidak.. lagian Aan Daddy gaji,masa bawahan makan gaji buta setiap hari. Enak sekali hidupnya dia kalau begitu."
Hatchu.. hatchu..
Aan menggosok hidungnya yang baru saja bersin-bersin.
"Apa salahnya sih Daddy jika sesekali Aan di kasih bonus liburan gitu?" aku mengambil pisau dan talenan untuk memotong beberapa sayuran yang baru saja aku letakkan di atas meja.
"Tidak usah,lagian buat apa liburan jika liburannya malah menguras tenaga dan naf.sunya membeludak!" jawab Daddy keceplosan.
Ia segera menutup mulutnya rapat-rapat dan aku jadi penasaran dengan cerita Daddy, ke kepoan ku mendadak muncul begitu saja ini.
"Maksudnya apa dad."
"Ya.. maksudnya itu.. dia itu em... suka sekali mengajak teman-teman wanitanya untuk makan malam secara privat," jawaban ambigu apa ini dad.
Daddy pikir aku tidak tau apa,pernah ko aku lihat Aan membawa teman wanita di hotel dan tidak sengaja waktu itu. Hanya saja aku memilih diam dan tidak bertanya padamu dad.
Bahkan saat itu sang wanita dan laki-laki sama-sama agresif sekali, aku saja begidik ngeri melihatnya. Tapi setelah Daddy ajarkan aku paham betapa nikmatnya surga dunia setelah menikah denganmu dad
__ADS_1