
Like nya jangan lupa ya🥰🥰
Ketahuan dan membuat sedih sekaligus bingung.
"Gak ada yang salah sayang, tapi keliru. Kenapa kamu mau mencabutnya dan Daddy lihat kamu mau meminumnya dengan tidak sabaran, apa perlu di rumah kita stok cairan infus?"
"Tidak perlu Daddy, itu terlalu horor dan berlebihan!" aku melambaikan tangan tidak mau, masa sih sampai segitunya.
Setelah Dokter menyatakan kandungan ku baik-baik saja, aku meminta untuk segera pulang.
Aku sudah rindu untuk membuat kekacauan di rumah, tapi jika Daddy marah padaku ya biarkan saja lagi pula yang membereskan rumah bukan Daddy melainkan pembantu di rumah.
"Sayang jangan terburu-buru, harus hati-hati sayang." Daddy sedari tadi memegang tubuhku seolah-olah aku ini anak kecil yang mencoba merangkak dan takut aku terjatuh.
"Daddy, Hima mau pulang dengan nyaman bukan terbelit seperti ini dad," protes ku padanya.
Akhirnya Daddy melepas dekapannya dan membiarkan aku berjalan sesuka hatiku, tapi ya tetap aku menjaga kandunganku baik-baik, agar kedepannya bisa bertemu dan menikmati masa-masa mengandung buah hati.
Saat sore hari aku merasakan bosan, bingung mau ngapain. Sedangkan Daddy sibuk dengan ponsel dan laptopnya, padahal tadi perhatian sekarang kembali seperti semula cueknya minta ampun.
"Daddy." Panggilku pada Daddy.
"Ada apa sayang?" sekilas menatapku lalu kembali menatap laptopnya.
Aku keburu bad mood, sudahlah aku di abaikan bukannya ini lebih baik dari pada aku penasaran lagi. Meski hatiku merasakan ada yang jangal dari perilaku Daddy, aku mencoba bersama untuk itu.
Mungkin Daddy benar-benar sibuk dengan urusan pribadinya dan aku tidak akan mengacaukan semuanya, biarkan Daddy memilih yang terbaik untuk dirinya.
Sedangkan aku, aku akan berbesar hati menerima kenyataan saja.
Keesokan harinya.
"Pak bos.. ini." Sambil berlari-lari dengan membawa map coklat.
Ada apa sih dengan Aan, saat bertemu denganku larinya kenceng banget kayak ketemu setan. Apa dia pikir aku setan, segitu takutnya?
setelah Aan dan Daddy menjauh aku mencari cermin, saat mengandung apa aku lupa merawat diri sampai-sampai Aan ketakutan melihatku.
"Bagaimana hasilnya ?" Ezra langsung membuka amplop coklat tersebut dengan sedikit tergesa-gesa.
Ia benar-benar penasaran dengan isinya.
Degh
"Ini, maksudnya ?" menunjukkan sesuatu pada Aan yaitu berupa foto.
__ADS_1
"Itu ibunya anak itu pak bos, maaf sebelumnya pak bos. Tapi.. anak ini seperti pak bos, apa dia anak gelap pak bos?" Aan memberanikan diri bertanya.
Bugh
Bogeman mentah mendarat di perut Aan.
"Aw.. sakit pak bos."
"Itu jawabannya," Ezra berlalu pergi.
Daddy sedari pagi tidak menatapku , apa aku sudah di gantikan. Apa Daddy mencari identitas anak kemarin .
Apa dia benar-benar anaknya Daddy ?
Aku melihat Aan di pukul oleh Daddy tepat di perutnya, jarak kami sangat jauh maka dari itu aku juga tidak tau percakapan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Permisi pak bos, maaf sebelumnya." Pamit Aan segera pergi dan aku lanjut bersembunyi di balik pohon yang besar di taman.
Ezra duduk di salah satu bangku yang ada di taman, aku mengintip saja dari jarak jauh semoga Daddy tidak melihatku dan aku tidak ketahuan oleh Daddy.
Daddy membuka map itu lagi, sesekali ia mengusap air matanya, aku yakin pasti itu wanita yang ia cintai selain diriku. Aku segera membalikkan badan, rasanya tubuh ini hancur berkeping-keping saat semua sudah ku serahkan segalanya tapi ini yang aku dapatkan.
Aku kembali sendirian, tapi.. ku lihat perut ku yang masih rata. Nak.. maafkan Mama, mama sepertinya tidak bisa meraih papamu.
Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat demi anak yang aku kandung.
"Hima sayang." Daddy memanggilku.
Aku harus bagaimana, aku ketahuan. Segera aku merubah ekspresi ku agar tidak di ketahui Daddy.
"E.. he.. he.. Daddy," terpaksa aku cengengesan untuk menutupi sedih di hatiku.
Padahal jarak antara aku dan Daddy lumayan jauh ternyata Daddy mengetahui keberadaan ku.
"Duduk sini sayang, ada sesuatu yang ingin Daddy tunjukkan pada mu sayang."
Dengan berat hati aku menghampiri Daddy dan duduk di sampingnya dengan terpaksa.
"Apa dad?" tanya ku pada Daddy.
"Coba kamu lihat ini dan baca semuanya sayang!"
Aku menerima map itu, ada foto anak kecil yang mirip sekali dengan Daddy. Perlahan aku baca semua data anak itu, ternyata ibunya memiliki wajah yang sama dengan Daddy aku tidak paham maksudnya apa.
"Apa maksudnya dad?" aku benar-benar tidak paham dan tidak mengerti arti dari foto itu.
__ADS_1
"Dia mamaku sayang, aku bertemu mama. Dan kamu harus tau, dia anak kecil yang ada di foto adalah adikku!" jawabnya membuat aku bingung dan bleng seketika.
Mama.. adik.., lalu cerita Daddy saat kedua orang tuanya meninggal dalam kebakaran itu apa coba maksudnya, apa jangan-jangan selama ini skenario tragedi keluarga Permadani itu hanya bohongan.
"Lalu??!!" otak kecilku tidak mampu mencerna semuanya.
Sudah full dengan pikiran ku yang buruk tentang pernikahan kami berdua, sekarang malah bertambah dengan ini.
"Lalu.. aku ingin menemui dia sayang, menemui mama sayang. Ayo.. kita kesana sayang."
Daddy mengajakku bertemu dengan mamanya, jika aku bertemu dengannya apakah aku di terima dengan hangat atau justru sebaliknya, aku di tolak mentah-mentah oleh mereka.
"Daddy, apa perlu sekarang kita kesana?" pertanyaan ku mendapatkan tatapan tajam dari Daddy.
"Kenapa? kamu tidak mau menemui mama dan adikku."
"Bukan begitu dad, tapi.. aku..," aku hanya bisa menatap sedih untuk diriku sendiri.
Sebenarnya yang paling aku takutkan kami di pisahkan sebab status kami berbeda, meski aku terlahir dari keluarganya berada tapi Daddy orang terpandang bahkan kekayaannya saja tidak bisa aku hitung.
Tangan besar Daddy mengusap kepalaku.
"Sayang.. jangan hawatir ya, mama orangnya baik. Daddy jamin kamu akan betah dan suka dengan mama, jangan berpikir yang tidak-tidak sayang."
Daddy menenangkan aku, semoga perkataan Daddy terbukti benar.
Tanganku panas dingin, lebih banyak keringat dingin bahkan sampai kakiku terasa dingin, perjalanan kali ini serasa menemui tokoh besar negara dan aku ketakutan, semoga aku gak pipis di celana.
"Sayang, kenapa? dari tadi Daddy lihat kamu hanya mengambil nafas lalu menghembuskan nafas sayang, ada apa sih?"
"Gerogi Daddy, tapi tidak apa-apa !" jawabku menutupi rasa resah dan takutku di tolak oleh mamanya Daddy.
Apakah nenek buyut Anisa tau tentang hal ini, kalau tau apakah nenek buyut Anisa anak mengancam keselamatan anak kecil laki-laki itu sama seperti perlakuannya pada Daddy ?
"Jangan takut, ada Daddy."
Setelah perjalanan cukup jauh sampailah di tepian kota, rumahnya besar tapi tidak semewah rumah Daddy dan yang paling membuatku terheran-heran kenapa banyak orang yang berlalu-lalang membawa makanan, terlihat dari baju yang di kenakan oleh mereka.
Ada apa ini? acara pernikahan atau pertunangan atau apa..
Aku panik.
•
Emak up lagi.
__ADS_1