Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 36


__ADS_3

Suamiku kurang peka dan aku marah.


Himalaya mengendurkan pelukannya.


"Daddy jangan lupa janji Daddy barusan, jika ketemu lagi bilangnya jangan wanita tapi istri . Daddy bagaimana masalah kedua orang tuaku dad?" sudah lama aku tidak membahas masalah ini, semoga ada titik tentangnya.


"Em.. masalah itu Daddy janji, tapi tentang kedua orang tuamu.."


Sepertinya Daddy tidak menemukan apa-apa tentang mereka, atau jangan-jangan Daddy tau tapi berusaha menutupi semua dariku.


"Kenapa Daddy, apa ada sesuatu ?" aku di buat penasaran oleh Daddy.


Padahal aku gak suka yang namanya teka teki apalagi main rahasia-rahasia an, paling sedih dan sakit.


"Sampai saat ini Daddy sama sekali tidak menemukan petunjuk apa-apa sayang!" jawabnya tertunduk.


Pasti sekarang Daddy merasa bersalah sebab tidak menemukan jejak kedua orang tuaku kenapa mereka bisa meninggal di dalam mobil dalam keadaan mobil macet di tengah jalan, terlalu aneh sekali menurutku dan tidak wajar.


Bukannya tidak rela tapi aku juga ingin tau sebenarnya ada rahasia apa yang di sembunyikan oleh almarhum kedua orang tuaku. Hem.. jadi bahas masalah ini lagi padahal masalah yang tadi saja belum kelar.


Tapi.. sebelum ke topik ini aku harus membereskan wanita itu, pasti besok dia akan menganggu ku entah siasat apa sebab saat meninggalkan ruangan Daddy tatapan matanya begitu tajam ke arah ku sepertinya dia mengajak aku perang.


"Iya."


Aku mengambil ponselku yang berada di saku celanaku dan memilih menonton drama sedih-sedih biar makin kompak dengan cerita hidupku.


"Sayang.. Daddy lanjut kerja dulu ya." Pamitnya padaku.


Himalaya diam tanpa menjawab, Ezra menatap istrinya yang mulai drama kembali. Pasti sebentar lagi air mata dan ingusnya keluar berderai.


Hu.. hu.. hu..


"Jahat banget jadi suami, kenapa sih ada suami kayak dia. Kalau gak mau istrinya hamil kenapa buat dia hamil, tiap hari tiap waktu di ajak goyang terus. Bahaya jika anak kecil yang lihat takut kecanduan, tapi sad ending.. Hua ....."


Ezra geleng-geleng kepala, istrinya ini semenjak berbadan dua kenapa hobi sekali menonton drama rumah tangga yang bikin emosi, sad ending pula.

__ADS_1


Bella membanting semua yang ada di dalam apartemennya sekarang.


"Sial.. gara-gara wanita itu, aku gagal mendapatkan Ezra. Tidak bisa aku harus pepet terus Ezra, gak apa-apa pesan dan teleponku diabaikan oleh Ezra. Aku tau ko alamat kantor dan rumahnya, jika di kantor gagal bukannya masih ada rumah dia."


Bella menyusun strategi untuk merayu Ezra, bahkan ia yang tidak pernah menyentuh dapur kini mulai menyentuh lagi meski dapur yang ia gunakan tidak ada bahan makanan lengkap seperti ia tinggal di luar negri yang semua serba ada tanpa ia perintah membeli ini itu.


"Gimana sih pelayanan tempat ini, masa iya aku harus beli sendiri. Ya kalik aku beli sendiri, yang ada nih tangan lecet dan sakit bawa barang-barang gak penting."


Bella menelpon salah satu nomor delivery untuk memesan menu makanan siap saji dan untuk Ezra ia akan memilihkan dessert box yang pasti akan di sukai oleh Ezra.


"Ini saja deh, seperti Ezra akan suka dengan menu yang manis atau yang rasa keju. Dua duanya deh yang penting Ezra terkesan dengan apa yang aku berikan, di tambah lagi bentuknya yang unik dan kecil" Bella sudah berangan-angan sampai ke samudra.


Bella berkali-kali mengumpat wanita yang berada di samping Ezra di kantor tadi, wajahnya memang cantik tapi dia gak ada kecocokan dengan Ezra, yang cocok hanya dirinya sendiri yang lain gak.


"Hatchu.."


Ezra memberikan Himalaya sapu tangan kesayangannya, sapu tangan pemberian dari almarhumah ibunya.


"Terimakasih Daddy, tapi ini bukannya pemberian mama Daddy?" masih sempat-sempatnya bertanya, malahan mengabaikan ingusnya yang sudah keluar sampai bibir.


"Terimakasih banyak Daddy, sudah bersih nih." Tanpa merasa bersalah justru Himalaya bangga ingusnya di bersihkan oleh sang suami.


Kalau suami orang pasti ogah ya membersihkan ini, apalagi sampai bersih dengan sapu tangan kesayangannya.


Aku melanjutkan menonton drama yang lain sampai ku abaikan Daddy, aku memang lelah tapi bukan lelah badan melainkan lelah di hatiku.


Pikiranku terus saja berpikir yang tidak-tidak tentang Daddy, Daddy yang akan meninggalkan aku terus Daddy di rebut pelakor dan yang lebih parahnya Daddy memilih pelakor itu, bukannya cerita hidupku sama seperti wanita yang berbagi suami dan cinta.


"Stop sayang, jangan kebanyakan melihat drama yang unfaedah begitu sayang. Gak baik untuk anak kita dan juga kesehatan kamu sayang." Daddy dengan tega mengambil ponselku.


"Dad.. Dy.. Hima hampa tanpa ponsel Hima," aku berusaha merayu Daddy tapi tetap saja Daddy tidak mau mengembalikan ponsel kesayangan ku.


"Kalau dengan Daddy, gak hampa saat Daddy tinggal ke luar kota?" sambil menunjuk dirinya sendiri.


Aku sengaja menggeleng, biar Daddy tambah ngamuk. Apa setelah marah-marah nanti bakalan membanting ponsel, aku tidak sabar jika ponselku berganti baru.

__ADS_1


Ayolah dad.. ayo.. banting.. banting.. dad, biar aku punya ponsel baru. Sudah lama aku tidak kamu belikan ponsel baru Daddy. Semoga.. harapanku terwujud secepatnya, jika di banting dan rusak pasti ponselku akan baru hari ini.


Ponsel Himalaya sudah di genggam erat Ezra dan siap-siap untuk di banting.


Ayo.. dad banting.. banting...


Ezra menatap curiga pada sang istri, apa jangan-jangan istrinya berharap ponsel ini di berikan begitu? sepertinya iya.


"Ini sayang Daddy kembalikan."


"Hah..," aku terperangah dong, kenapa realita jauh sekali dari ekspektasi ku.


"Sayang kenapa, apa tidak senang ponselnya Daddy kembalikan?" Ezra bingung dengan mood istrinya yang suka berubah-ubah.


"Bukannya tidak senang, tapi Daddy benar-benar tidak mengerti perasaanku. Daddy jahat!"


"Jahat dari mana sayang, memang Daddy melakukan hal apa sayang." Tambah pusing menghadapi bumil satu ini.


"Au.. ah.. Daddy dasar gak peka," aku bersedekap sambil ku majukan bibirku dua senti.


"Gak peka apanya sayang, bukannya Daddy sudah mengembalikan ponsel kamu. Apa ada yang kurang?" pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin aku dengarkan dari mulut Daddy.


"Iya.. kurang satu, kenapa Daddy gak marah-marah dan membanting ponselku. Aku ingin ponsel baru Daddy, apa Daddy gak paham!" aku cuek berharap Daddy paham dengan maksudku.


"Apa harus Daddy membanting ponsel kamu dan marah-marah dulu sayang, itu.. tidak mungkin."


aku mengangguk cepat, berharap Daddy marah dan membanting ponselku.


"Kenapa tidak mungkin Daddy, harus dong Daddy marah dan banting ponsel dulu," permintaan aneh ku tidak mungkin di tolak kan?



Emak lagi sibuk dengan PR anak, tetap di usahakan up. Semoga teman-teman sabar menunggu, meski emak juga sadar menunggu itu melelahkan 😁😁


Terimakasih atas dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2