Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 61


__ADS_3

Kartika menendang-nendang kakinya, lucu sekali wanita itu. Apa gak malu ya dia di lihatin dan bahkan ada yang merekamnya juga, eh.. tinggi di rekam kejadian ini bukannya bakalan runyam dengan perusahaan Daddy.


"Lepaskan saya.. lepaskan saya.. saya akan balas dendam padamu, dasar rubah kecil. Ezra hanya akan menjadi milikku, awas saja kamu rubah kecil." Masih saja menjelek-jelekkan aku, padahal hidupnya akan mendekam di dalam penjara.


Jangan sampai ini kejadian, Daddy membangun usaha ini dari nol sebelum Daddy merawat ku sepuluh tahunan yang lalu, jika ada orang yang ingin menghancurkan reputasi Daddy akan ada bonus khusus dariku, aku akan buat ia tidak lupa sampai anak cucunya kelak tau.


"Dad."


"Daddy sudah tau, kamu suruh orang yang merekam dan hendak memviralkan vidio itu kalian bereskan," belum juga aku bilang Daddy sudah lebih peka duluan.


"Siap pak bos" serempak sekali orang-orang Daddy.


Setidaknya jika begini aku aman bersamamu dad, tapi hati ini yang tidak nyaman sebab di luaran sana banyak yang mencoba mendekatimu dad, aku takut kamu goyah dad.


Em.. makin cinta deh dengan Daddy meski sering buat kesal, apa Daddy sengaja bikin aku kesal dan benci agar anaknya nanti lahir mirip dirinya saja tidak ada akunya begitu.


Tidak bisa, mulai sekarang redakan amarah dan emosi pada Daddy jika tidak ingin anak yang sedang aku kandung hanya mirip Daddy seorang.


"Kenapa senyam-senyum sendiri hem?" sambil mencubit pipiku.


"Enggak ada, mana ada aku tersenyum-senyum sendiri dad!" bohongku.


Lagian aku masih dalam mode ngambek ke Daddy, entahlah kenapa aku jadi begini pada Daddy. Di dekati Daddy aku juga tidak terlalu suka, apalagi baunya Daddy sering membuatku tidak nyaman.


"Apa anak kita rewel sayang?" sambil mengusap-usap perutku.


Nyaman sih tapi.. sudahlah kenapa jadi begini sih bawaannya, aku sensi mulu. Lebih baik aku redakan emosi jangan sampai aku marah dan ngambek lagi ke Daddy.


"Sama sekali tidak daddy!" aku berikan Daddy senyuman terbaikku.


Daddy mengangkat kedua alisnya, seperti orang tidak percaya begitu.


"Sayang.. kamu sudah gak marah kan sama Daddy, syukurlah jika kamu sudah bisa tersenyum bahagia begini sayang. Yuk.. kita ke dapur dan kamu membuatkan Daddy makan, tapi.. ingat jangan kebanyakan bawang putih ya biar gak sesak di dada. Kalau kamu sih selalu membuat Daddy sesak nafas jika tidak ada kamu sayang."


Gombalan Daddy meluncur lagi, Hem.. sebaiknya aku memasakkan Daddy masakan yang sedikit bawang putih saja jika perlu hanya separuh siung saja atau seperempatnya saja.


"Jangan merayu seperti itu dad, geli mendengar rayuan gombal Daddy," ih.. menyebalkan ya jika suami terlalu bucin.


Bucinnya gak ketulungan dan gak nangung-nangung asalkan ada pasangan yang ia suka dan cintai dimana pun itu tidak peduli sebab yang lain di anggap numpang lewat saja gak singgah apalagi tinggal lama.


"Dad."


"Iya, ada apa istri kesayangannya Daddy ?" Daddy menggenggam erat tanganku.


Romantis ya suamiku ini, tapi aku kasihan dengan karyawan Daddy yang masih jomblo. Takut.. takut ia baper dan ingin segera punya pacar dan menikah biar bisa leluasa di dunia ini seperti miliknya sendiri yang lain cuma lewat.


Sabar ya bagi yang jomblo, aku doakan semoga segera menyusul seperti kami berdua.


Sedangkan di tempat lain Yuda dan Bella telah melihat vidio viral tersebut, tapi detik berikutnya vidio itu lenyap tanpa sisa.


"Lagi seru-serunya kenapa sudah di hapus sih." Kesal Bella.


"Kamu kenal dengan wanita yang ada di video itu?" Yuda menyalakan pematik api dan mengeluarkan sebatang rokok.


"Gak kenal buat apa juga, eh.. mau ngapain kamu. Sudah ku bilang jangan merokok di sampingku," langsung menyambar semuanya.


"Kembalikan."


"Tidak akan, selama kita jadi partner. Aku tidak akan membiarkan partnerku merokok, terserah saat aku gak ada," Bella membuang semuanya di tempat sampah.


Yuda mengernyitkan dahinya.


"Ada masalah?"


"Tidak ada, aku hanya tidak suka bau rokok iyu!" jawabnya berlalu pergi.


Bella berkali-kali menghela nafas setelah masuk ke dalam kamar mandi, ia tatap wajahnya dari pantulan kaca.


"Apakah hidupku akan seperti ini sampai nanti-nanti ?"


"Wajahku semakin tua, bukan semakin muda." Sambungnya lagi.


Bella terdiam sejenak sebelum ia memutuskan segalanya dengan baik dan benar, sepertinya jalan hidupnya hanya kegelapan saja ia butuh pencerahan dan kebahagiaan.


Bukan uang dan harta, melainkan rasa aman, nyaman dan tentunya damai.


Bella teringat kejadian dulu, saat dirinya di jual oleh adik dari ibunya sendiri dengan iming-iming gaji besar dan apa yang ia dapatkan malah justru rusak hidupnya di tangan sang Tante yang serakah, meski tantenya sudah tiada tapi bekas dirinya di perjual belikan waktu itu teringat jelas di benaknya. Karena frustasi tidak dapat melupakannya ia malah melanjutkan lagi pekerjaan kotornya sampai sekarang.


Tok


Tok


"Iya sebentar." Bella segera keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Lama sekali, aku pikir kamu pingsan sebab kualahan mengahadapi ku," masih sempat-sempatnya tertawa di depan Bella sambil mengejek.


"Sialan kamu, kamu pikir aku ini boneka silikon apa yang gak bakalan capek dan merasakan sakit." Ia dorong pundak Yuda dan ia beranjak pergi memunguti kembali baju-bajunya yang berterbangan kemana-mana.


Bella merasakan sakit di area pangkal pahanya dan tentunya pinggang, Yuda terlalu bernaf.su pagi ini. Seperti tidak dapat jatah berbulan-bulan saja.


"Aa.. ha.. ha..," Yuda hanya tertawa di dalam kamar mandi.


Bella memutuskan pergi dari apartemen Yuda tanpa pamit.


"Dasar laki-laki labil, awas saja nanti m-banking ku saldonya cuma tambah sedikit." Bella menggenakan masker penutup mulut dan hidung.


Yuda yang baru selesai mandi menatap ke seluruh penjuru ruangan, tidak ada wanita dewasanya.


"Hem.. setelah aku puaskan sampai merintih kesakitan dan menangis, masih sempat-sempatnya kabut ternyata." Yuda duduk di depan layar monitornya dan menatap cctv yang terpasang di seluruh ruangan.


Percintaan panasnya dengan Bella terekam jelas semua,Yuda menatap dengan jeli perlakuannya pada Bella tadi.


"Memang aku yang terlalu keras mengajarinya, lain kali akan lebih lembut padanya." Tanpa sadar Yuda berucap.


Kembali ke topik semula.


"Daddy."


"Iya sayang, ada apa?"


"Tidak ada dad, cuma.. kalau kejadian tadi sampai viral dan sudah ada yang menyebar luaskan bagaimana dad?" tanyaku ragu-ragu.


Sebab aku tadi menampar wanita itu pakai sepatu kets kedatanganku,kalau aku ikutan viral dan jadi terkenal takutnya banyak orang yang meminta tanda tangan lagi, aku jadi pusing sendiri nanti melayani fans fanatik ku.


"Kenapa wajahmu jadi kusut lagi sih sayang, masih kurang puas menamparnya pakai sepatu kets ?"


Daddy menaikkan kedua bahunya.


"Bukannya kurang puas dad, tapi sangat-sangat kurang puas. Kalau kejadian tadi membuatku terkenal dan banyak orang yang meminta tanda tangan gimana!" ucapan ku hanya di tatap saja oleh Daddy tidak ada reaksi apa-apa darinya, gimana sih Daddy ini.


"..."


"Daddy.. gimana solusinya ?" aku bertanya padanya tapi tetap tidak ada jawaban dari Daddy.


Ya sudah kalau gak di jawab, aku sih oke.. oke.. saya di abaikan dan gak di tanggapi. Cukup anggap perkataan kita barusan angin lalu saja untuk lawan musuh bicara kita, sakit sih gak di tanggapi tapi ya sudahlah mungkin telinganya kesumpelan.


"Jadi, kamu ingin terkenal sayang. Tapi bukannya itu gak baik ya terkenal karena menampar sepatu ?" sekarang malah gantian Daddy yang bicara.


Aku diamin saja, lagian salah sendiri aku minta pendapat malah gak ada jawaban darimu dad. Aku segera beranjak pergi usai melepaskan genggaman tangan Daddy dan memilih masuk ke dalam dapur yang tidak jauh dari ruangan pribadi Daddy, bersebelahan dan dapur ini khusus untuk tamu-tamu penting bahkan ada chef-nya juga.


"Tidak perlu, saya bisa!" jawabku.


Aku memilih melampiaskan kekesalan ku di masakan saja, lagian biasanya kalau bad mood banyak orang yang gagal dalam memasak.


Aku ingin mencoba memasak lagi, coba aku scroll di internet apa yang aku dapat masak hari ini maksudnya sekarang ini mungkin makanan yang mudah dan bahan-bahan ada di dapur.


Ezra mengejar istrinya dan ternyata istrinya pergi ke dapur, ia juga ingin tau dalam keadaan marah apakah masakannya ikutan marah dan rasanya tidak karu-karuan. Sepertinya iya deh rasanya bakalan hancur ini, kalau gak hancur ya rasanya keasinan, kemanisan, pahit atau bahkan rasa yang lain bisa jadi.


"Sayang " Daddy menyapaku, ngapain sih Daddy kemari.


Aku jadi gak konsen nih kalau di lihatin Daddy, di lihatin saja oleh chef saja sudah gerogi sekarang malah di tambahin Daddy datang dan masuk bahkan dia ada di sampingku.


"Kenapa Daddy kemari?" aku berusaha tenang dan gak gerogi tapi tetap saja aku gerogi berhadapan dengan Daddy.


"Daddy ingin bantu dan melihat istriku memasak di kantor!" sambil mengisyaratkan jari agar semua orang meninggalkan tempat tersebut.


"Benarkah ? membantu bikin kerusuhan begitu dad." Lebih baik ku ajak Daddy bercanda, biar jantungku ini normal detaknya.


"Ya gak begitu juga sayang, apa salah jika suami membantu sang istri memasak di dapur. Apalagi tempatnya pas banget loh sayang untuk kita beromantis-romantisan begini," malah ngeluarin jurus andalannya yaitu merayu hati istri biar luluh lagi.


Setelah setengah jam kemudian masakan pun jadi aku bisa bernafas lega, aku pikir aku bakalan masak membutuhkan waktu yang lama ternyata secepat ini kalau semuanya sudah siap dan tinggal di masak saja, bumbu sudah siap tinggal masukkan ke blender dan yang lainnya tinggal cuci lalu masukkan ke wajan yang sudah ku panaskan tadi sudah jadi.


"Bagaimana dad, terlalu berlebihan bawang putihnya?" tanyaku memastikan kejadian kemarin tidak terjadi lagi padamu dad.


"Enggak, malahan enggak ada rasa bawangnya sama sekali. Tapi tetap enak ko sayang!" jawabnya secepat mungkin melahap masakan ku.


Apakah seenak itu atau cuma segera cepat-cepat habis supaya masakan ku yang hancur tidak ada rasanya jika cepat makannya.


"Beneran enak dad, tapi kenapa terburu-buru sih dad makannya. Tidak enak ya jadi buru-buru makannya?" sedih aku tuh masakan ku di nikmati seperti ini oleh Daddy.


"Beneran enak, pas di lidah Daddy. Kamu mau coba sayang." Daddy menyodorkan satu sendok padaku.


Aku buka mulutku aku juga penasaran dengan masakanku, sebab tadi yang mencicipi langsung adalah Daddy bukan aku. Jadi aku sedikit hawatir dengan bumbu-bumbu yang aku masukkan tadi, meski aku menconteknya dari internet semoga rasanya sesuai dengan gambar yang aku lihat tadi di layar ponselku.


"Wah.. ternyata rasanya enak sekali dad, baru kali ini aku memasak dan masakannya jadi rasanya apalagi. Sangatlah enak." Aku memuji-muji masakanku sendiri.


Apa salahnya coba memuji masakan sendiri di depan suami biar hati aku senang sendiri, kalau suamiku bagaimana.

__ADS_1


"Dad, apakah Daddy senang dengan masakanku ?" aku menanti jawaban dari Daddy.


"Senang sayang, apalagi kamu menemani Daddy makan begini!"


"Ciye.. Daddy, bisa saja." Aku menyoraki Daddy.


"Kenapa tidak bisa, untuk istriku aku bisa melakukan apa saja," Daddy mencubit pipiku lagi


Hobi sekali Daddy ini mencubitku apa aku tambah gendutan sekarang, aku pikir cuma bagian perut dan pinggang saja yang gemuk ternyata pipiku juga ikutan gemuk.


Aan yang baru sampai mencari-cari bosnya, sudah ia selidiki seluruh penjuru ruangan bahkan kamar mandi dan kamar pribadi bosnya, terpaksa ia cek takut terjadi apa-apa. Tapi hasilnya nihil tidak di temukan baik itu pak bos dan juga nyonya mudanya.


"Kemana sih pak bos dan nyonya muda, di cari sedari tadi tidak ketemu-ketemu. Padahal mau lapor tapi gak ada di kantor, apa jangan-jangan sudah pulang, ya ampun punya bos satu saja bikin pusing apalagi ada dua atau tiga, bisa sering pingsan mendadak aku." Aan memijat pelipisnya.


"Mau tambah bos ceritanya"


Ezra langsung menyambar gumaman Aan, lagian kenapa juga bicara gak lihat tempat.


Aan menepuk jidatnya, mati sudah bonusnya bulan ini. Di tambah lagi bosnya gampang marah, dan ngomel-ngomel gak jelas lagi setiap harinya. Telinga sampai sakit mendengar omelan bosnya ini, untung saja nyonya mudanya tidak ikut-ikutan seperti pak bos.


"Kenapa menepuk jidat, hawatir bonus lenyap."


"Iya.. pak bos, pak bos harap di pertimbangkan lagi ya pak bos. Apa pak bos tidak kasihan dengan asisten pak bos yang malang ini," menampilkan wajah sedihnya.


Daddy ini kalau gak mau kasih bonus kenapa kasih harapan sih dad, Daddy ini ada-ada saja jahilnya pada Aan, sedangkan Aan berharap lebih lagi dapat bonus.


Daddy memegang dagunya sambil berpikir, apa ya kira-kira keputusan Daddy. Masih ada niatan kasih bonus atau tidak ya kira-kira, aku kasihan sama Aan yang bakalan gagal ngedate dengan para kekasihnya itu, sabar ya Aan. Jika bonusnya hangus, kamu sendiri sih yang salah ngapain memancing di air keruh begitu, sudah tau Daddy gak bakalan tanggung-tanggung menghukumnya.


"Pak bos.. apa jawabannya pak bos." Aan harap-harap cemas menantikan jawaban dari Daddy.


Aku juga berharap Aan gak dapat bonus, kasihan anak orang di sakiti doang. Dia pikir nyakitin hati orang gak sakit apa, kalau seandainya di balik dia yang di sakiti saat bucin-bucinnya sakit gak tuh hati. Aku yakin sakitnya sampai ke ulu hati plus ginjalnya ngarasain sakit juga.


Ya ampun doaku jelek banget sih.


Gak apa-apa kan sesekali mendoakan orang lain kecewa, lagian aku ingin lihat wajah Aan yang kecewa pada Daddy, pasti lucu.


"Tetap hangus bonusnya, lagian di belakang saya kamu berani-beraninya bilang begitu. Kamu pikir telinga saya gak dengar apa kamu sering mengumpat saya diam-diam, untung saja telinga saya masih waras gak seperti otak kamu yang di pikiran kamu hanya bonus dan wanita saja," kesal Daddy pada Aan.


Uluh.. uluh.. kasihan sekali Aan ini, Daddy bicaranya kenapa gak bisa di rem sih apa gak mikirin perasaan orang yang Daddy tindas. Kayaknya enggak deh, tapi perlakuan Daddy pada Aan ini hiburan tersendiri untukku, aku senang dan bahagia sekali.


"Kamu suka bukan." Bisiknya tepat di telingaku.


"Daddy tau," aku juga berbisik, sedangkan Aan tertunduk lesu.


"Saya permisi pak bos, nyonya muda." Aan kehilangan semangat hidup.


"Daddy tega sekali ya."


"Kenapa tidak, demi istri tercinta apa sih yang enggak bisa Daddy lakukan. Renang di tengah kolam renang Daddy berani bahkan jika kamu mau dan kamu minta,"


Himalaya memutar bola matanya dengan malas, semenjak menikah gombalan mautnya terus menerus berkembang biak.


"Kalau orang yang bisa berenang seperti Daddy ya pasti bisalah dad berenang ke tengah kolam renang, beda dengan orang yang tidak bisa berenang dad. Daddy ini ada-ada saja bicaranya." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


Mau buat kelucuan tapi garing gak lucu.


"Iya juga, sayang ayo ke ruangan Daddy." Langsung menarik pergelangan tanganku padahal aku belum setuju untuk masuk ke ruangan Daddy.


"Mau ngapain sih dad?" panik aku panik, jangan-jangan Daddy minta jatah di kantor lagi.


Masa sih mau ngelakuin itu di sini, aku malu sekali jika ada orang yang tau.


"Ngak ngapa-ngapain, mau kenapa memang sayang. Apa kamu berharap Daddy berbuat mes.um di ruangan Daddy ?"


Wajah Himalaya memerah.


"Enggak ko, memangnya aku bilang begitu pada Daddy !" jawabku panik.


Ezra tertawa .


"Aa.. ha.. ha.. kamu ini sayang jangan berpikiran yang negatif pada Daddy, Daddy juga akan mengontrol naf.su Daddy. Daddy tidak ingin anak kita dan kamu kenapa-kenapa sebab Daddy nya ini mementingkan naf.su Daddy semata."


"Iya Daddy, Hima tau. Tapi Hima juga hawatir, bukannya Hima su'udzon pada Daddy, tapi Daddy sadar sendiri kan jika naf.sunya Daddy ini gak ketulungan ,"


"Iya tau dan sadar, maka dari itu Daddy sebisa mungkin menahannya. Meski yang di bawah sini sudah sangat sesak sekali sayang." Daddy sampai mende.sah menahan gejolak di bagian bawahnya.


Apa perlu aku menawarkan bantuan pada Daddy, tapi aku.


Sepertinya tidak deh, tapi..


"Daddy apa perlu bantuan?" sambil ku dekati wajah Daddy.


"Perlu sayang, tapi.. tidak apa-apa. Daddy akan ke kamar mandi dulu sebentar ya!" jawabnya langsung kabur dari hadapanku.

__ADS_1


Seperti bertemu makhluk halus saja larinya, terbirit-birit ketakutan.


Himalaya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, heran juga biasa langsung cus tanpa menunggu persetujuan dari Himalaya.


__ADS_2