
Sama-sama perhatian 🥰🥰
"Kenapa bibir kamu manyun sayang?" tanya daddy tidak merasa membuat ku seperti ini.
"Barusan kena sedotan debu!" acuh ku pada Daddy.
Daddy bukannya marah malah gemas, setelah dapat untung pasti hatinya membaik sedangkan aku lemas sendiri.
Dret
Aku lihat pesan masuk dari siapa ternyata dari nenek buyut, ada apa ini kenapa mengirimkan pesan begini padaku. Aku perlihatkan SMS yang masuk tersebut pada Daddy agar dia juga tau jika neneknya mengirimkan pesan singkat padaku.
"Jangan di tanggapi, abaikan saja tidak penting."
Rasanya tidak sopan begini pada orang yang lebih tua dariku apalagi dia adalah nenek buyut ku yang artinya sebentar lagi jadi nenekku bukan nenek buyut ku lagi.
"Tapi.. sebagai orang yang lebih muda bukannya harus meminta izin dulu Daddy ?" tanyaku lagi-lagi mendapatkan ke..cupan di pipiku.
"Tidak usah sayang, orang itu akan mengacaukan segalanya. Dan tidak akan membiarkan kita berdua bahagia sayang!"
aku mengangguk tapi aku harus siap-siap dan juga waspada, walau bagaimanapun nenek buyut ini bukan orang sembarangan.
"Contohnya kedua orang tua kamu, em.. mas Ezra." Malu-malu aku ucapkan kata-kata mas.
Tentu saja Daddy terkejut aku memanggilnya dengan sebutan mas Ezra.
"Ganti jangan panggil mas, kamu kira aku ini mas-mas an apa," Daddy memang tidak suka aku panggil mas.
"Terus.. bagaimana ? di panggil Daddy suruh ganti setelah aku panggil mas Ezra juga tidak mau. Maunya apa sih Daddy." Geram ku pada Daddy.
"Ya sudah panggil Daddy kesayangannya saja seperti Daddy memanggilmu gadis kesayangannya Daddy,"
nah ini yang aku suka, lagian lebih enakan panggil seperti biasanya aku terlalu nyaman memanggilnya dengan Daddy begitu juga dengan Daddy yang sudah nyaman memanggilku dengan sebutan gadis kesayangannya Daddy meski terkadang sayang saja yang di ucapkan.
"Sayang Daddy." aku peluk erat-erat Daddy.
Badannya yang lebih besar dariku membuatku begitu nyaman dan merasa sangat aman, meski terkadang aku kesal dengan nya tapi aku juga bahagia.
Mungkin ini namanya kebahagiaan yang tiada tara nya dan tidak dapat di beli dengan apapun itu bahkan harganya saja tidak bisa di beli.
"Kalau sayang, mana ininya?"
aku mengendorkan pelukanku, aku menatap dan merangkai setiap kata-kata Daddy yang hampir sama seperti si mes..um kedua siapa lagi jika bukan Yuda si sableng mes..um itu.
__ADS_1
Apa semua laki-laki memang kodratnya begini mes..um gitu, aku rasa cuma Daddy dan Yuda doang otaknya terus berkerja di daerah itu.. itu..
Padahal jika dipikir-pikir tidak ada salahnya aku nurut pada Daddy. Ku beranikan mendekati wajah Daddy yang tampan dan glowing licin, takut nanti bibirku tergelincir di dadanya Daddy.
cup
cup
"Apakah sudah puas Daddy kesayangan?" aku sedikit mencondongkan tubuhku.
Alhasil malah pinggangku di tarik kuat oleh Daddy.
"Aw.. sakit Daddy,"
"Kurang banyak, sini Daddy ajari yang benar. Sudah berkali-kali juga melakukannya tapi tetap saja hasilnya nihil nol besar."
"Memang Hima tidak ingin mau gimana lagi," memang apa adanya aku berucap.
Bukan tidak mau belajar untuk memuaskan has..rat tapi aku benar-benar malu jika aku harus jadi wanita li..ar dan agres..if seperti wanita jala..Ng saja.
"Harus belajar jangan ada kata-kata tidak ingin, Daddy tidak suka mendengar itu sayang."
Aku terlena lagi, kenapa setiap ada kesempatan Daddy begini.
Daddy langsung menunjuk-nunjuk wajah Aan.
"Sejak kapan kamu di situ? tidak sopan."
Ezra menyilangkan kedua kakinya.
"Maaf.. menganggu, tapi ini perlu tanda tangan anda pak bos." Bergetar ketakutan.
Aan ini lucu ya, kalau kemarin-kemarin aku malu ketahuan oleh orang-orang yang berkerja di rumah Daddy dan di kantor Daddy tapi setelah hubungan kami berdua jelas dan sangat jelas benderang rasa malu itu berubah menjadi rasa percaya diri.
"Sini berkasnya, kenapa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan saya?" ketus sambil membaca berkas yang di berikan Sang pada dirinya.
"Sudah berkali-kali saya ketuk bahkan saya juga melihat adegan anda dengan nona Hima pak bos!" jujur sekali.
Aku tersipu malu, bagaimana ini.
Sudahlah tidak apa-apa hitung-hitung memberikan sedikit tambahan informasi jika bosnya yang terkenal dingin dan anti wanita ini sembuh total berkat diriku dan aku harus bangga.
Jika bukan karena ku pasti sampai detik ini Daddy tidak punya sifat begitu Li..Ar pada wanita apalagi pada gadis se polos dan se lugu aku, sombong dikit boleh lah sesekali membangga-banggakan diri.
__ADS_1
Rasa-rasanya hidungku yang pesek ini akan panjang sebab aku terus-terusan sombong sebab berhasil membuat Daddy ku ini bertekuk lutut di hadapan ku.
"Lain kali jika sudah tau saya dan istri saya mau mesra-mesraan jangan di ganggu pekerjaan lagi, mau saya pecat kamu."
Ancam Daddy pada Aan.
"Maaf pak bos, bukannya saya lancang pada pak bos bukannya nona Hima calon istri pak bos dan sekarang nona Hima belum resmi jadi istrinya pak bos kenapa bapak berani menganggapnya sebagai seorang istri ? selain itu ini di kantor pak bos dan lihat," telunjuknya pada kaca jendela tanpa gorden yang menutup seperti biasanya.
"Kamu ini.. cepat pergi buat mood saya kotor saja."
Daddy menatap tajam Aan yang lancang berbicara tanpa di saring, sudah tau daddy mudah tersungut emosi berani-beraninya menganggu Daddy.
"Kejam banget bos, padahal tanpa aku bos tidak punya apa-apa bahkan anak buah dimana-mana juga tidak punya"
umpat Aan setelah keluar dari ruangan Ezra.
"Hatchu... gatel banget hidungku." Daddy menggaruk hidungnya berkali-kali sambil ia pencet berharap rasa gatal di hidungnya cepat mereda tapi tetap tidak reda.
Sepertinya banyak yang menggunjingkan Daddy, kasihan.. tapi justru aku senang jika begini Daddy tidak akan ada waktu untuk menggoda dan mencari kesempatan dalam kesempitan bukan.
"Ini Daddy," ku sodorkan tisue kering pada Daddy lalu ku berikan tisu basah untuk membersihkan area hidungnya.
"Perih sayang." Manjanya Daddy kumat lagi.
Sudah lebih baik aku turuti saja dan memberikan Daddy perhatian lebih, sepertinya daya imun Daddy menurun minggu-minggu ini.
"Benarkah Daddy ?" sepertinya iya Daddy kesakitan dengan lubang hidungnya.
Aku membantu mengusap hidung Daddy dengan air bersih yang berada di wastafel, tisu kering sengaja aku basah kan.
"Apa sudah mendingan daddy?"
"Sudah sayang, terimakasih ya!" ia usap pipiku berkali-kali dengan ibu jarinya.
Aku mengangguk.
Kecerobohan ku barusan membuat hidung Daddy sakit.
"Maaf Daddy, maaf gara-gara Hima kasih tisu basah itu. Hidung Daddy jadi perih."
"Tidak apa-apa, justru Daddy senang kamu seperhatian ini pada Daddy. Rasa sayang dan cinta Daddy pada gadis kesayangannya Daddy bertambah berkali-kali lipat," ia peluk erat-erat tubuh mungil calon istrinya.
•
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan membaca karya aku, jangan lupa ya tinggalkan jejak 🥰🥰