
Ezra mencari kesana kemari tapi tidak menemukan sosok istrinya, kemana dia.
"Sayang.. kamu dimana?" Ezra mencari kesana kemari tapi hasilnya nihil.
Himalaya manyun, ia kesal sebab suaminya membiarkan dirinya bicara sendirian. Ya.. kalau lawannya benda mati no problem tapi yang di ajak bicara manusia dan masih hidup, apa mungkin pendengarannya berkurang banyak mengigat usianya tidak muda lagi. Tapi.. umurnya belum ada tiga puluh enam tahun ini, masa sih sudah berkurang banyak.
"Salah sendiri membiarkan aku bicara sendirian, lagian kenapa Daddy cuek ke aku tadi. Sekarang pusing sana pusing sendiri mencariku, meski ada beberapa orang bodyguard tapi mereka aku suruh diam tadi dengan isyarat tangan." Aku melipat kedua tanganku di depan perutku, tapi tentunya tidak berlebihan sebab ada anak.
Ezra bertanya pada bodyguard pribadinya tapi mereka bilang tidak tau.
"Dimana istri kesayangan saya ?" tegas Ezra pada bodyguard-nya.
"Maaf pak bos, kami bertiga tidak tau pak bos !" jawab salah satu dari mereka.
"Bagaimana kalian bertiga tidak tau, dasar tidak becus." Ezra kesal langsung menuju ke dalam mobil.
Cklek.
"Sayang." Terkejut dan hampir terjungkal.
"Kamu.. kamu.. sedari tadi ada di sini sayang, kenapa tidak bilang sayang jika kamu kembali lebih dulu ke dalam mobil?" tanya Daddy panik bahkan ia juga mengecek suhu tubuhku dari dahi terus ke leher dan telapak tanganku.
Aku memilih diam dan menatap kepanikan Daddy saja, kesal sih tapi mau bagaimana lagi jika sudah terjadi. Aku tadi memang sempat di abaikan tapi, susahlah kenapa marah berkelanjutan sampai sekarang lebih baik bukannya berdamai dengan keadaan bukan.
"Sayang.. jangan diam saja, maafkan Daddy sayang jika Daddy tadi sempat mengabaikan kamu sayang." Permohonannya sepertinya tulus.
"Dad.. sebenarnya ada berapa banyak sih rahasia yang Daddy sembunyikan dari Hima, apa jangan-jangan Daddy ini bukan manusia biasa?" tuding ku agar Daddy mau jujur dan cerita apa adanya padaku bukan ku dapatkan informasi dari orang lain lebih dulu.
"Em.. tidak ada sayang, Daddy hanya orang biasa seperti laki-laki lain di luaran sana !"
"Apa buktinya jika Daddy manusia biasa."
"Ini!" jawabnya ringan sambil mengusap perutku.
__ADS_1
Eh iya Daddy manusia biasa, tapi bukan itu maksudku.
"Daddy.. aku serius, apa ada sesuatu yang sedang Daddy sembunyikan dari hima?" ku tegaskan lagi pertanyaanku.
Ezra menggeleng.
"Baiklah jika Daddy enggan bercerita pada Hima, Hima tau tidak semua hal pribadi bisa terbuka bahkan sekalipun ia orang yang paling ia cinta dan sayangi." Aku memilih bersandar di kaca mobil sambil berangan-angan kehidupanku selanjutnya.
Keputusan ku menikah dengan Daddy sudah baik dan pas, tinggal Daddy saja mau bagaimana melayarkan kapal bahtera rumah tangganya denganku.
Jika Daddy sudah tidak mau denganku, aku hanya berharap cukup aku yang dia lukai dan duakan tapi tidak dengan pasangannya yang baru.
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba suara kilat dan petir di langit begitu menggelegar.
BLEDER
BLEDER
aku sampai menutup kedua telingaku, tak lama setelah itu hujan dan angin deras menerpa mobil yang kami tumpangi berdua, Daddy yang menyetir lalu ia memilih menepikan mobilnya.
Begitu juga dengan bodyguard pribadinya Daddy yang memang menggunakan motor agar lebih leluasa melindungi kami. Tapi mereka semua kehujanan sedangkan kita tidak, aku merasa iba melihatnya.
"Dad.. kita makan dulu yuk, ajak mereka sekalian mumpung kita beristirahat tepat di depan warung nasi." Aku ingin berinisiatif lebih dulu.
Cacing-cacing di perutku sudah meronta-ronta apalagi bayi yang aku kandung ingin makan ayam goreng itu, sepertinya enak sekali. Aku harus makan bukan hanya sekedar mencicipi, bahkan yang lebih parah hanya mencium aroma dari makanan tersebut.
"Sayang jangan ke situ, Daddy.."
Daddy mau protes apa coba.
Aku sudah lebih dulu memesan makanan di warung itu dengan semangat, tapi tangan Daddy mengisyaratkan untuk tidak memesan makanan.
"Kenapa sih dad, ada apa?"
__ADS_1
Belum juga Daddy menjawab seorang wanita paruh baya dan suaminya menyapa Daddy.
"Nak Ezra, sudah lama tidak kemari tumben?" tanya ibu pemilik warung makan.
Ezra tersenyum kikuk, sungkan mau baik atau tidak.
"Eh.. Bu.. pak.., bagaimana kabar kalian?" tanya Daddy nampak akrab, aku sedikit tersisihkan.
"Baik.. kami baik, oh ya Ezra kemana saja selama ini. Kenapa tidak main-main lagi ke rumah?" sambil mengajak duduk di kursi, Daddy yang terlihat sungkan mengikuti saja.
Terlalu aneh bukan, apa kedua orang tua ini adalah orang tua dari mendiang sahabat-sahabat Daddy. Yang jelas aku tidak tau dan tidak akan ikut-ikutan berbicara, tidak sopan lebih baik aku duduk di kursi dan meja lain saja.
"Maaf pak sibuk!" jawabnya biasa-biasa saja.
Aku hanya mengernyitkan dahi saat Daddy dan laki-laki paruh baya itu, mereka mengobrol di salah satu kursi yang tersedia di warung ini.
"Sibuk apa kamu, besok-besok datang kemari Ezra. Anak gadis saya sudah besar, dia tumbuh cantik." Bisiknya bangga pada Daddy.
Aku masih bisa mendengar itu, suamiku di tawari pria paruh baya itu dan Daddy tidak menolaknya. Sudahlah aku ma..
"Ini pesanannya nak." Ibu pemilik warung mengejutkan aku.
Aku langsung menatapnya.
"Terimakasih," aku tersenyum padanya sebagai hormatku pada penjual ini yang sudah ramah tamah terhadap tamunya.
Aku tidak mendengar percakapan apa-apa lagi saat makanan dan musik di warung ini di putar, sangat cocok menikmati makanan sambil mendengarkan musik.
Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Daddy terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, entah apa.
"Bagaimana Ezra dengan tawaran kami, kamu tidak lupakan jika Romi putra kami."
"Iya saya ingat betul pak, saya memang harus bertanggung jawab atas kejadian itu, tapi.. saya juga berhak menolaknya," Ezra memilih menolak dan terancam masuk ke sel tahanan dari pada terbelenggu dengan orang yang tidak seharusnya ia pedulikan.
__ADS_1
Anak pertama ibu Narti dan Antok adalah salah satu sahabat Ezra yang saat itu Ezra ajak balap liar malam itu.
Lagi-lagi aku berusaha mendengar percakapan mereka, tapi percuma saja tidak dengar.