Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 67


__ADS_3

Aku harus kuat, sambil tersenyum aku di depan mbak yang berkerja di bagian dapur.


Ezra menghentikan langkahnya saat dirinya sampai di depan pintu kerjanya, harus berbuat apa coba.


"SIAL" ia memukul tangannya ke tembok.


Lalu Ezra masuk ke dalam ruang kerjanya, tidak ada satupun dari pekerjaannya yang beres semua kacau.


"Sial.. sial.. sial.." ia membuang semua berkas-berkas yang ada dan ruangan tersebut menjadi acak-acakan.


Himalaya juga sedang galau dilema, mau kembali ke kamar ragu jika tidak ia penasaran dengan suaminya, ada apa sih padahal tadi masih baik-baik saja saat di kantor dan masih tertawa bersama.


"Daddy.. dad.. kamu dimana ?" ku lihat kesana kemari tapi Daddy tidak ada, kemana sih Daddy apa jangan-jangan ia berada di ruangan kerjanya.


Apa sebegitu sibuknya Daddy sampai-sampai begini ke aku, aku di abaikan. Tidak masalah jika aku tapi jangan anak yang tidak bersalah ini yang akan menjadi korban keegoisan kamu Daddy.


Ezra memilih diam dan bungkam, besok lusa kedua orang tua Romi dan juga adiknya akan datang, entah ke rumahnya atau langsung ke kantor yang jelas ia ingin menghindari masalah yang membuatnya mengingat kejadian dulu dan luka itu.


Himalaya memutuskan kembali ke dapur dan membuatkan secanggih teh untuk suaminya.


"Mbak, ajarin dong caranya membuat teh hangat?" tanyaku pada pembantu di dapur.


"Caranya begini nona, pertama panaskan air sampai mendidih. Sambil menunggu air panas sampai meletup-letup nona siapkan satu kantong teh begini, lalu ambil gula pasir satu sendok!" jawabnya.


Aku paham, ya ampun betapa memalukannya diriku. Membuat teh yang sangat sederhana saja aku sampai-sampai tidak bisa, aku harus belajar lagi.


Selama ini Daddy memang suka minum teh dari pada kopi, jadi aku yakin mood Daddy akan baik-baik saja sebentar lagi. Semoga doa-doaku terjawab.


Akhirnya teh buatan ku jadi juga.


Tok


Tok

__ADS_1


"Masuk bik."


"Ini pak bos tehnya," aku sedikit kesal di samakan mbak-mbak yang kerja pada Daddy.


Ezra mengerutkan alisnya.


"Apa Daddy heran?" tanyaku sambil ku letakkan secangkir teh di atas meja kerja Daddy.


"Iya, tumben," ia mencicipi teh buatan ku.


Daddy hanya diam, pasti kemanisan kalau tidak kepahitan rasanya.


"Enggak enak dad?" aku was-was sekali.


"Enak ko.. enak sayang!" jawab Daddy dengan senyum yang dipaksakan.


"Dad." Ku pegang tangannya.


Himalaya tidak ingin menyakiti hati suaminya.


"Hima.. jika Daddy di paksa menikah bagaimana."


Deg


Hati siapa yang tidak terluka mendengar suami yang kita cintai dan kita bangga-banggakan menanyakan hal yang tidak pernah ku harapkan terlontar dari mulutnya apalagi jika tulus mengucapkannya.


Sakit tak berdarah inilah yang aku rasakan, jika Daddy di paksa menikah dan Daddy setuju secara lagi ia melukaiku.


"Maksudnya Dad?" berpura-pura kuat padahal air mataku hendak tumpah.


Jangan Hima.. jangan menangis, kamu harus tenang oke.


"Tadi.. sewaktu kamu makan, yang berjualan adalah orang tua dari salah satu sahabat Daddy yang bernama Romi sayang. Daddy pernah cerita bukan jika orang tua dari sahabat Daddy mengajukan untuk menikahi putrinya."

__ADS_1


Penjelasan Daddy membuat otakku seketika kosong.


"Sayang.."


"Jadi, Daddy menerimanya ?"


Ezra terdiam.


"Benarkah Daddy akan menerimanya ?" tanyaku sekali lagi.


Daddy menggeleng, tapi ku lihat ragu.


Apa akan ada poligami seperti cerita yang pernah aku lihat dan baca-baca, kenapa yang aku takutkan kini mendekati pernikahan kami. Jika Daddy benar-benar balas budi dengan menikahi adik dari korban kecelakaan tak sengaja dulu.


"Dad.. jika ini adalah yang terbaik, agar Daddy terlepas dari belenggu itu Hima tidak apa-apa dad." Ucapku sebenarnya tak rela jika Daddy menikah dan memberikan aku madu pahit.


"Sayang.. kenapa kamu punya pikiran begitu sayang, Daddy lebih baik masuk penjara dari pada Daddy harus menikahi adiknya Romi. Romi pasti juga tidak mau aku menikahi adiknya seandainya dia masih ada," Daddy memelukku erat.


Aku membalas pelukan Daddy, dan ku cium dada bidangnya.


Aku mencintaimu dad.


"Sayang, lihat Daddy."


Ku tatap mata teduhnya yang bagus seperti elang.


"Ada apa dad?" aku takut jika daddy berubah pikiran dan mengiyakan permintaan kedua orang tua sahabatnya dulu.


"Daddy mencintaimu sayang dan juga menyayangimu sayang, tanpa ada embel-embel terpaksa ataupun karena rasa bersalah. Dengarkan Daddy, jika nanti ada sesuatu di pernikahan kita.."


"Kenapa tidak di lanjutkan dad, Daddy mau bicara apa?"


Tangis ku pecah saat pertanyaanku tidak kunjung di jawab oleh Daddy.

__ADS_1


__ADS_2