Hot Daddy Dan Gadis Polosnya

Hot Daddy Dan Gadis Polosnya
Bab 6


__ADS_3

Jangan lupa like dan bintang lima ya.



Nenek tersenyum ramah sambil mengenakan syal di lehernya, nenek sakit kah atau memang sekarang kebiasaan nenek berubah.


Aku yakin pasti nenek berakting seperti dua bulan yang lalu, biar dapat simpati dan keinginan tercapai.


Haduh.. nenek.. nenek.. bukannya bertaubat menjadi lebih baik malah cari penyakit, bukannya setiap perkataan dan perlakuan yang di buat-buat akan kembali pada diri kita sendiri. Buat apa sih berbohong? apa faedahnya coba?


"Bagaimana kabar nenek? kenapa nenek pakai syal. Apa nenek sakit?" tanyaku sambil mencium punggung tangan nenek Anisa.


"Tidak apa-apa, cuaca mulai dingin makanya nenek pakai syal. Kamu harus pakai syal juga seperti nenek, eh.. wajah kamu pucat sekali Hima, apa kamu sakit."


Tumben nenek seperhatian ini bahkan menyentuh dahi dan leherku untuk mengecek suhu badanku secara langsung. Pasti ada yang tidak beres ini, coba aku ikuti saja permainan nenek.


Daddy berjalan mendekati kami berdua.


"Hima sakit nenek, dia hari ini datang bulan." Daddy mencium punggung tangan nenek Anisa.


"Kamu.. ini sebagai daddy nya sungguh ceroboh, Hima sakit begini kamu sama sekali tidak perhatian. Apa pantas seorang Daddy membiarkan putrinya seperti ini?" Nenek memarahi Daddy.


"Tumben nenek perhatian" Daddy ini kenapa suka sekali menyalakan api, padahal baru juga sampai.


Di tambah lagi perutku rasanya melilit, sakit banget terpaksa aku tahan dulu.


"Gimana gak perhatian, coba kamu lihat wajah Hima. Bahkan dia mau pingsan tidak kamu bantu naik ke atas." Nenek ini malam memakan kan aku pada Daddy.


Apa nenek tidak sadar jika cucu kesayanganmu ini selalu berbuat mes..um. Aku bahkan takut jika di biarkan berdua saja dengan dia.


"Siap nenek, Ezra akan segera membantu Hima gadis kesayangannya Daddy ke lantai atas," Daddy tanpa persetujuanku langsung menggendongku ala bridal style.


Aku hanya bisa bersembunyi di dada bidang Daddy, aku malu sekali usia dua puluh dua tahun masih di gendong begini, dulu waktu masih anak-anak gak apa-apa. Lah.. sekarang ini usia ku bukan anak-anak lagi.


Pasti semua orang memandangku sekarang.

__ADS_1


Sesampainya di kamar lantai atas Daddy meletakkan aku di salah satu kursi pijat, agar tubuhku nyaman. Tapi bukannya nyaman justru rasa sakitnya kian meningkat.


"Aduh.. Daddy.. sakit Daddy." Keluhku sambil ku pegang kuat-kuat perutku yang terasa di hantam balok besar.


"Sakit," Daddy langsung panik dan menggendongku lagi dan pada akhirnya aku di rebahkan di atas sofa.


Setidaknya tidak horor, aku takut jika Daddy merebahkan badanku di atas tempat tidur.


Tok


Tok


"Apa nenek boleh masuk?" Anisa mengetuk pintu tersebut sambil membawakan jamu tradisional yang baru saja ia buat untuk pereda nyeri saat datang bulan.


"Masuk saja nenek!" jawab Daddy dengan nada lembut.


Aku hanya diam, rumah ini benar-benar tempat orang berlatih akting cocok sebagai produksi film kolosal saja.


Buat apa nonton acara di televisi jika langsung seperti ini saja sudah ada tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun untuk menontonnya.


"Ini nenek bawakan jamu tradisional untuk kamu, jangan lupa langsung di minum agar rasa nyeri di perut kamu reda Hima. Nenek tinggal dulu, oh.. ya Ezra kamu harus awasi Hima dengan baik dan pastikan jamu itu diminum" pergi dari kamar.


Ezra hanya diam tanpa mengiyakan ucapan neneknya, memang tidak sopan tapi mau bagaimana lagi jika orang yang di segan i dan di hormati tidak menganggap orang yang umur di bawahnya ada bahkan terkesan meremehkan orang yang lebih muda.


"Nenek sudah pergi, sini Daddy bantu minum jamunya." Tanpa basa basi Daddy menuangkan jamu tersebut ke dalam gelas untuk aku minum.


Aku menerimanya dan segera meminum jamu itu sampai habis, tapi belum seperempat gelas aku merasakan tangan Daddy masuk ke dalam baju dan mengusap lembut perutku.


Seeerrr


Geli dan hangat.


"Daddy.. bisa tidak kondisikan tangannya, sekarang ini kita berada di rumah nenek buyut Daddy." Aku menatap tajam Daddy lalu ke tangan Daddy yang masih menempel di perutku.


Daddy cengegesan tanpa rasa berdosa, santai slow...

__ADS_1


"Daddy ikhlas ko ngelakuinnya demi gadis kesayangannya Daddy," tangan besar dan halusnya itu mulai menjelajah ke atas.


Apa Daddy tidak sadar desiran hangat itu membuat bagian inti ku mengalir deras, bocor deh...


"Benarkah? bukan karena ha..srat semata Daddy?" sengaja sedikit aku kencangkan suaraku.


Kesal sekali.. sudah tau ada orang yang sedang datang bulan tapi malah menggoda.


"Hust.. jangan kencang-kencang dong sayang, nanti nenek buyut menghukum Daddy. Daddy malas berurusan dengan nenek lampir!" bicara lirih.


"Nenek lampir, gak boleh bicara begitu Daddy. Meski nenek buyut menyebalkan tapi dia tetap orang tua yang harus di hormati Daddy." Tuhkan aku mulai menceramahi Daddy.


"Di hormati dari segi apa coba? nenek lampir aja gak mau menghargai orang yang lebih muda darinya dan menanggap dirinya yang paling benar sendiri, makanya dulu papa kawin lari dengan mama tanpa restu dari nenek lampir, lagian apa dia gak ingat jika bukan karena kakekku sebagai suaminya yang punya rasa kasihan dan memungutnya dari jalanan mana mungkin derajat nenek lampir naik sampai sekarang," ucapan Daddy benar sekali.


Aku harus menghindari dengan yang namanya cinta, aku tidak mau di cintai oleh orang cuma lataran rasa kasihan semata. Lebih baik tidak sama sekali dari pada sakit di belakangnya.


Aku harus tau diri dan sadar diri sebelum aku terlena, memang Daddy perhatian denganku bahkan aku merasa seperti kekasih gelapnya. Tapi aku yakin Daddy hanya memanfaaatkan aku demi misi yang entah tidak aku ketahui, kenapa harus aku.


"Alasan Daddy, aku mau istirahat Daddy dan segera pindahkan tangan Daddy dan cukup bermain-mainnya"


"Ya sudah.. nanti kalau sudah sembuh Daddy mau cek oke." mengedipkan mata sebelah kanannya.


Aku tidak mengiyakan permintaan Daddy, buat apa coba.


Malam harinya.


Perutku sudah membaik dan nyaman tidak sakit lagi, sepertinya aku bisa ikut bergabung malam ini jika di izinkan oleh nenek buyut yang super cerewet itu.


"Kenapa kamu turun Hima, bukannya istirahat malah kelayapan. Biarkan Daddy kamu itu yang ke atas dan mengambilkan makanan untuk kamu Hima." Perhatian sih tapi nadanya ketus banget.


Heran aku dengan nenek buyut Anisa, sulit di kendalikan semakin bertambah usia malah semakin cerewet, apa semua para orang tua begini. Aku rasa di dunia ini hanya nenek buyut Anisa yang paling cerewet dan tidak bisa di ganggu gugat keputusannya.



Hay.. kalian yang lagi baca karya terbaru emak. Besok kan sudah hari Senin, boleh ya teman-teman yang punya bonus vote boleh di luncurkan ke karya ini.

__ADS_1


Terimakasih untuk teman-teman yang senantiasa mendukung karya baru emak. Emak gak pernah menyangka karya baru ini banyak yang like dan suka.


Love.. love untuk kalian semua🥰🥰🥰


__ADS_2