
Aku hanya mampu menoleh ke kamera dengan gerak mulut mengucap kata tolong dan maaf saat mendapat kesempatan menoleh ke arah kamera. Kenapa? Karena aku berpikir kalau video itu akan dikirimkan kepada Suci untuk memfitnahku, dan untuk merusak rumah tangga kami. Namun kesempatan itu hanya sedikit, Lady menguasai mulut dan leherku hingga aku tak bisa lagi menoleh ke arah kamera.
"Terima kasih, Tuan," *esahnya dengan suara mendayu-dayu. "Ini timbal balik yang pas atas sejumlah uang yang Tuan berikan untuk menolong saya. Terima kasih. Dan jujur, saya sangat puas. Tuan sangat perkasa. Jantan sekali. Semoga servis saya juga memuaskan. Dan... panggil saya kapan pun Tuan menginginkan pelayanan saya. Saya akan selalu siap melayani Anda. Saya suka, ukuran Tuan membuat saya merasa puas. Saya... suka... sekali... ah... ah... oh... ouuuch...! Terima kasih, Tuan. Terima kasih...."
Dia, Lady Sandra, bergerak hebat di atasku dengan buah persik yang bergelayutan -- menuntaskan pekerjaannya dan meninggalkan jejak-jejak merah di sekujur tubuhku.
Bajingan!
__ADS_1
Siapa yang mengirimnya untuk melakukan ini kepadaku?
Dalam keadaan marah namun tak berdaya, aku memperhatikan pergerakan Lady. Aku tahu betul ketika ia berada di atas tubuhku -- menempel padaku, meski samar -- aku merasakan tubuhnya terguncang. Dia menangis dalam diamnya dan berusaha mengendalikan diri. Beberapa saat setelah itu, ia pun bangkit dengan matanya yang merah dan berkaca. Dengan tubuh yang masih polos, ia berjalan ke arah kamera dan meraihnya. Ia menekan tombol off, menyimpan kamera itu dan lekas-lekas berpakaian. Saat ia menghampiriku lagi, ia menyelimuti tubuhku hingga ke dada, lalu membungkuk. "Maafkan saya," bisiknya di telingaku, masih dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya. Bahkan dia sempat berhenti di depan pintu dan menoleh ke arahku. Dia menggigit bibir seakan menahan perih, barulah setelah itu ia keluar dan pergi.
Dalam ketidakberdayaanku itu otakku masih bekerja. Ada sesuatu yang terjadi pada perempuan itu. Dia datang bukan untuk cek baru karena aku belum memberikan itu kepadanya. Aku yakin dia sedang di bawah ancaman seseorang. Tapi siapa?
Namun, apa pun itu, yang ia lakukan tetaplah salah. Dan ini -- membangkitkan lagi amarah dan dendam di dalam jiwaku. Aku bersumpah, aku tidak akan peduli siapa pun sosok di belakang kejadian ini, dia mesti mati. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.
__ADS_1
Siapa yang akan datang menolongku? Aku bahkan tak bisa bersuara.
Ekor mataku melirik jam di dinding, sudah jam setengah enam sore saat Karin mengetuk pintu ruang pribadiku. Mungkin dia kebingungan di luar sana karena tak ada sahutan, sementara waktu menunjukkan jam pulang kantor sudah lewat setengah jam yang lalu.
"Pak, apa Pak Rangga tertidur?" tanyanya.
Aku tahu dia tak akan berani menarik handle pintu itu, dan aku juga tahu kalau ia juga kebingungan, mungkin sekaligus khawatir. Lalu, sejenak kemudian kudengar ia menghubungi Billy, namun Billy sudah sampai di rumah. Akhirnya dia memilih menghubungi Roby. Roby yang belum pulang merespons cepat, dia masuk ke ruanganku kurang dari lima menit kemudian. "Ngga, lu ada di dalam?"
__ADS_1
"Di dalam, kok, Pak. Setelah tamunya pulang tadi saya tidak ke mana-mana. Jadi saya tahu Pak Rangga masih ada di dalam."
Roby mengetuk lagi. "Gue masuk, ya, Ngga?"