Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Rasa Bersalah


__ADS_3

Dengan jantung berdebar saat mendekati kamar utama, aku mendengar suara wanita dari dalam kamar itu. Aku mengetuk pelan, tapi tak ada sahutan. Kubuka sedikit pintunya dan aku mengintip ke dalam.


Wanita parubaya yang dulu berstatus sebagai ibu mertuaku itu -- duduk di tempat tidur, memeluk lutut seraya bergumam sendiri. Pandangannya terarah ke luar jendela. Wajahnya pucat sekali, pipinya cekung, tubuhnya kurus. Aku merasa air mataku jatuh saat samar-samar kudengar ia menggumamkan nama anaknya.


"Rhea... di mana kamu, Nak? Mama kangen. Mama mohon pulang, Sayang. Mama selalu menunggu kepulanganmu. Cepatlah pulang...."


Nyes...! Aku merasakan penyesalan yang teramat dalam. Dadaku disesakkan perasaan bersalah yang bergulung-gulung. Hatiku nelangsa saat melihat ibunya Rhea dalam keadaan seperti itu.


Dalam hati aku bertanya-tanya, sudah berapa lama ia seperti itu? Wanita yang biasanya ceria, selalu semangat demi anaknya, selalu memimpikan kehadiran seorang cucu, sekarang keadaannya sangat menyedihkan.


Aku membuka pintu lebih lebar dan masuk. Mama Rhesmi mendongak memandangku. Sinar harapan menyorot di dalam matanya.


"Dia sudah pulang?" tanyanya dalam bisikan.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Maaf, Ma," kataku. Aku tidak tahan dan melorot ke lantai. Entah kenapa aku menangis dan memeluk kakinya. Ia nampak kaget, lalu menarikku berdiri. Maafkan aku. Aku betul-betul berdosa membuatmu jadi seperti ini. Ampuni aku. Aku tidak berniat membuatmu depresi. Maafkan aku....


Tapi aku tidak berani untuk berterus terang. Betapa jahatnya aku. Aku menghukum Rhea karena kesalahannya yang sudah mengkhianatiku, tapi ternyata bukan hanya Rhea yang merasakan betapa menyakitkannya hukuman ini. Wanita yang pernah menyayangiku ini juga terkena dampaknya. Keadaannya malah lebih prah daripada keadaan Rhea.


"Kamu tidak perlu seperti ini." Dia mengelus kepalaku. "Nak, Mama sudah lama menunggumu. Mama mau meminta tolong. Tolong Mama."


Tanpa perlu kutanya, aku tahu apa yang ia inginkan.


"Tolong Mama. Bantu Mama mencari keberadaan Rhea. Tolong? Mama tidak bisa mengandalkan diri Mama sendiri. Mama juga tidak bisa mengandalkan papamu. Dia tidak akan pernah mau mencari anak Mama. Dia bahkan tidak pernah pulang. Dia tidak peduli pada kami. Rhea tidak bersalah, Nak. Dia hanya korban. Demi kebaikan Mama, dulu dia rela menuruti perintah papanya untuk menikah denganmu. Tolong, jangan membencinya, ya? Mama mohon... maafkan kesalahannya, Nak. Tolong...."


Kau jahat, Rangga. Sangat jahat....


Karena didorong oleh rasa bersalah, hari itu aku berjanji akan membawa Rhea pulang. Entah sadar atau tidak, entah karena rasa kasihan atau apa, tapi aku ingat -- aku berjanji pada ibunya Rhea: aku akan membawa Rhea kepadanya.

__ADS_1


"Dengan syarat, Mama harus jaga diri Mama baik-baik. Mama harus makan dan minum vitamin. Rangga mau Mama sehat. Oke?"


Seulas senyum tipis akhirnya terbit di bibirnya. Dia juga langsung makan begitu aku menyuapinya. Sekilas, aku teringat Mama Sania, dulu aku pernah berlaku sebagai anak yang manis seperti ini kepadanya. Sewaktu ia sakit dan hanya ada aku dan Bibi Merry yang merawatnya.


"Mama dengar kamu sudah menikah, Nak. Apa betul?"


Aku mengangguk. "Ya," kataku.


"Kamu tidak mengajak istrimu ke sini?"


Aku berpikir sejenak, tapi akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya, "Ada, Ma. Dia di luar."


"Ajak ke sini. Kenalkan pada Mama."

__ADS_1


Eh?


__ADS_2