
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pada pukul dua siang, acara pengikatan itu dimulai di rumah kaca yang indah. Anggrek dan mawar beraneka warna di mana-mana: tumpah ruah di atas pot, membingkai pintu-pintu, dan disematkan ke ujung tiap baris dengan pita-pita putih dan pink pucat. Aku bahagia sekali melihat istriku, ibu mertuaku dan adik iparku yang berseri-seri pada hari itu. Kebahagiaan mereka adalah tujuan hidupku saat ini. Keluargaku yang baru.
Hari itu, karena jasaku dan Suci tidak dibutuhkan, kami duduk saja di barisan pihak mempelai wanita, menjulurkan leher-leher kami untuk menonton kuartet alat musik gesek yang sedang memainkan serangkaian komposisi klasik favorit pernikahan.
"Ya ampun...," seru Haris. "Billy kelihatan keren sekali hari ini. Dan aku mengatakan ini sebagai lelaki heteroseksual yang sudah teruji."
Uh! Aku terpaksa mengakui bahwa Haris benar. Billy nampak keren sekali dalam balutan jas pernikahan yang serba putih itu. Nampak serasi dengan Indie yang juga dalam balutan gaun sutra putih pas badan yang berekor panjang, mawar putih dan setangkai lavender ungu yang memberikan sepercik warna di atas jantungnya.
"Jadi kepingin menikah lagi," bisikku pada Suci dan aku langsung menerima cubitan keras di perutku. Tatapan mata Suci yang tajam seolah berkata: jangan coba-coba!
Hah!
"Aku hanya bercanda...."
Dan, setelah rangkaian prosesi yang cukup panjang, mereka dinyatakan sebagai pasangan suami-istri, mereka bertukar cincin dan Billy mencium kening pengantinnya. Dengan demikian formalitas acara telah selesai, saatnya kedua pasangan pengantin itu berdansa diikuti para tamu yang terhibur.
Setelah resepsi sore yang diisi banyak tawa, sedikit air mata, dan sekian banyak orang penuh sukacita, acara dilanjutkan dengan foto-foto keluarga dan para tamu undangan yang ikut berfoto dan bersalaman dengan sang pengantin. Karena aku tidak terlalu suka berfoto, aku pun hanya berfoto beberapa kali, kemudian berjalan ke meja dan mengambil segelas minuman. Dan, di saat itulah aku lengah.
__ADS_1
Seorang cowok dengan kamera di tangannya menghampiri istriku.
"Suci?" katanya.
Suci agak kaget. Dia menoleh, ingin tahu siapa yang menepuk punggungnya, dan seketika itu -- cowok itu memeluk Suci erat-erat.
Berengsek! Kurang ajar sekali dia, pikirku. Cowok itu membuat darahku mendidih.
"Wah, kamu sedang apa di sini?"
"Ini pernikahan adikku," kata Suci. "Kamu sendiri?"
"Waw! Hebat kamu, Mas. Salut aku dengan kamu yang sekarang. Makin sibuk pastinya."
Mereka nampak akrab. Lelaki itu menatap Suci dengan ketakjuban. Aku tidak suka melihat ia menatap lekat istriku dengan tatapan lelakinya. Tapi aku tahu aku harus pandai membawa diri demi tidak mempermalukan diri sendiri dan juga keluargaku.
Aku berdeham. "Yang," panggilku.
__ADS_1
"Eh, Mas, sini." Suci menarik tanganku ketika aku menghampirinya. "Perkenalkan, ini suamiku."
Seolah jleb! Cowok itu tertegun dengan pupil matanya yang seketika ikut melebar. "Kamu sudah menikah?"
Suci mengangguk. "Rangga Sanjaya," ujarnya memperkenalkan diriku kepada temannya itu.
Cowok itu semakin tercengang. "Rangga Sanjaya dari Sania Property? Pemilik hotel...?"
Aku mengangguk. "Ya. Saya," kataku, lalu aku mengulurkan tangan.
"Oh, waw! Hebat kamu, Ci...," serunya seraya menyambut jabat tanganku. "Nama saya juga Rangga. Tapi kita berbeda nasib." Dia terkekeh.
Oh, dia Rangga yang pernah disebut-sebut oleh Suci, pikirku. Lalu aku pura-pura melirik ke jam. "Sudah jam segini," kataku pada Suci. "Masuk, yuk?" Aku langsung meraih tangannya dan menariknya masuk.
"Lo, Mas. Tapi...," protes Suci sambil berjalan.
"Aku menyuruhmu masuk. Bisa dengar kata suami?"
__ADS_1
"Ya ampun, jangan bilang kamu cemburu."
Langkahku terhenti, lalu kutatap istriku mata istriku lekat-lekat. "Terserah apa katamu. Tapi aku tidak suka jika lelaki lain memelukmu dan menatapmu seperti tadi. Paham?"