Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Mengejutkan


__ADS_3

Payahnya, aku tidak berani masuk karena takut menghadapi kekecewaan istriku itu. Aku hanya berani melihatnya dari belakang -- menatap sosoknya yang seolah terpaku dengan kenistaan yang ia saksikan di dalam sana. Kenistaan yang telah diperbuat olehku, suaminya.


"Sepertinya dia tertidur, mungkin dia kelelahan," akhirnya Suci menggumam, lalu ia menghampiri Rhea dan menyelubunginya dengan kain di tangannya -- persis di saat aku memberanikan diri mengintipnya ke dalam. Suci membangunkan wanita itu dengan menepuk bahunya pelan-pelan. "Mbak, bangun," katanya.


Saat itu, Rhea terkejut dan sontak beringsut duduk -- berusaha menyembunyikan tubuh polosnya dari pandangan Suci. "Siapa kamu?"


"Aku Suci, istrinya Mas Rangga."


Rhea tertegun. "Apa? Is... istri?" Lalu ia menggeleng-geleng tak jelas. "Tidak. Tidak. Ini tidak benar. Rangga tidak boleh menikahi wanita lain. Kamu...."


Plak!


"Sayang...!" Aku refleks melompat menyambar tubuh istriku yang terhuyung. "Kamu tidak apa-apa?" tanyaku pada Suci yang tengah meringis kesakitan dengan sebelah tangan menempel di pipi.


Dia menggeleng. "Tidak apa-ap--"

__ADS_1


Dalam kelebat yang bersamaan, Rhea menghambur memelukku. "Rangga, aku--"


"Lepas!" bentakku seraya -- tanpa sengaja mendorongnya, dan, tidak peduli saat ia meringis kesakitan seperti kepedulianku pada Suci. Tetapi...


Rhea benar-benar kesakitan dan memegangi perutnya -- yang saat itu kami sadari: ada yang tidak beres pada diri wanita itu. Perutnya terlihat besar.


"Aku hamil, Ngga. Ini anakmu...."


Tidak! Tidak mungkin! Aku terkejut. Hatiku menolak. Kepalaku menggeleng. "Jangan bohong, tidak mungkin itu anakku."


Aku panik, ikut menggeleng seperti orang gila karena takut Suci menelan mentah ucapan Rhea. "Sayang, please... percaya padaku. Itu tidak mungkin anakku. Dia berbohong."


"Kenapa? Kamu tidak bisa menyangkal, Rangga. Ada kemungkinan ini anakmu. Aku tidak menstruasi sejak kamu mengurungku! Kita pernah melakukan itu sebelumnya. Tiga kali. Tiga kali, kamu ingat?"


Seakan tidak sanggup menghadapi kenyataan itu, Suci berdiri dan langsung berlari. Namun sia-sia, aku berhasil mengejar dan menangkapnya. Kupeluk ia erat-erat. Sekeras apa pun ia meronta, aku tidak melepaskannya. Meski ia memukulku, bahkan menggigit bahuku.

__ADS_1


"Luapkan saja," kataku pelan sambil menahan rasa sakit karena gigitannya, hingga dia sendiri tidak tega dan akhirnya menyerah. Dia balas memelukku. "Aku bisa menjelaskan semuanya, Sayang. Aku menyentuhnya sebelum kami resmi bercerai. Sumpah, demi Tuhan. Tolong percaya. Lagipula itu belum tentu anakku. Bisa saja itu anak Biktor. Please... percaya padaku. Tolong...."


Dia tidak menyahut. Tubuhnya masih terguncang-guncang karena isakan tangis.


"Aku memang penjahat, Yang. Tapi aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, demi kamu. Aku punya kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahanku, kan? Iya, kan?"


Dia mengangguk, dan pelukan kami pun melonggar, lalu aku mencium bibir manis itu -- yang masih bersedia menerima ciumanku.


"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon?"


"Em," dia mengangguk lagi, "aku tidak akan meninggalkanmu."


"Terima kasih, Yang. Terima kasih...." Kami kembali berpelukan. "Berjanjilah, seburuk apa pun keadaan, kamu akan tetap ada di sisiku. Berjanjilah."


"Iya, aku berjanji, aku akan bertahan di sisimu, seburuk apa pun keadaan di antara kita. Aku akan selalu mendampingimu. Aku mencintaimu, Mas."

__ADS_1


Aku tahu, tadi ia hanya shock mendengar pernyataan mengejutkan dari mulut Rhea. Terima kasih, Tuhan. Betapa baiknya wanita ini. Terima kasih telah mengirimkannya untukku.


__ADS_2