Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Pertengkaran


__ADS_3

"Tapi kita juga tidak berhak melarang," kata Suci lirih. "Seperti kita yang menuntut pertanggungjawaban Billy atas kehamilanmu, pasti seperti itu juga perempuan itu dan keluarganya. Mbak tidak bilang apa yang Mbak katakan ini benar, tapi... mau tidak mau kita harus membiarkan Billy bertanggung jawab. Dan kamu harus kuat. Wajib kuat."


Sekarang Indie sudah sesenggukan. "Aku tahu, mungkin ini hukuman untukku. Aku kira aku akan bahagia terus karena aku dan suamiku sudah memiliki cinta di antara kami. Sudah saling memiliki, bukan sekadar terikat oleh pernikahan. Tapi... ternyata... ternyata malah begini. Siapa aku yang mau memperbaiki kesalahan terus maunya bahagia, maunya dicintai dan mencintai sepenuhnya? Mestinya aku sadar diri kalau di dalam kehidupan itu akan ada karmanya. Ada timbal baliknya. Dan...."


"Sudah, Sayang. Semuanya sudah terlanjur. Sudah terjadi. Sekarang, kita ikuti saja alurnya. Yang tabah. Mungkin sakit saat kita melewati setiap harinya, tapi yang penting kita utamakan dulu janinmu, ya? Dia harus sehat dan terlahir sempurna. Dan itu tergantung padamu, bagaimana kamu menjalani hari-hari dan bagaimana kamu merawatnya. Yakinlah, kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Kamu rawat dia dengan baik, pertumbuhannya pasti juga baik. Sebagai ibu, utamakan buah hatimu, ya? Jangan stres. Janji pada Mbak?"


Indie mengangguk. Aku percaya dia benar-benar mencerna kata-kata Suci dengan baik. "Aku janji," ucapnya. "Kami akan baik-baik saja. Pasti, Mbak. Pasti."


"Bagus. Seperti inilah adiknya Mbak. Kamu tidak sendiri. Ada Mbak, ada Mama, dan ada Mas Rangga juga. Everything gonna be ok. Trust me."


Yeah, jika bicara tentang anak. Cinta itu nomor sekian. Tapi kelak saat anak-anak sudah dewasa, pasangan akan kembali menjadi yang pertama dan utama.

__ADS_1


Dan sekarang kekhawatiranku pada emosi Suci sudah menurun. Aku mesti menemui Billy. Meski aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan padanya, karena tak ada nasihat yang bijak dalam situasi seperti ini. Tidak untuk kedua belah pihak. Dan kau tahu, rasanya cuma satu hal yang kuinginkan saat menemuinya nanti, yaitu -- menghajarnya habis-habisan.


"Ke halaman belakang sekarang," perintahku melalui sambungan telepon. "Saya tunggu."


Billy muncul dua menit kemudian. "Ada apa?" tanyanya, untuk pertama kali dia bicara dengan nada ketus kepadaku. "Kalau kalian sudah tahu apa yang terjadi, itu bagus. Tapi maaf, bukan bermaksud tidak sopan, tapi saya rasa ini bukan ranah kalian dan kalian tidak berhak untuk menghakimi saya."


"Sudah?"


Bug!


Lalu, dengan susah payah Billy berdiri seraya menyeka darah di sudut bibirnya, sementara Indie yang sama histerisnya dengan Suci, cepat-cepat menghampiri Billy dan membantunya berdiri. "Ya Tuhan, Mas. Kamu tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


Billy menggeleng. "Saya tidak apa-apa," katanya, lalu ia kembali menantangku, "Silakan, pukul saya sesuka Mas Rangga. Pukul saja sampai puas."


"Kamu menantang saya?"


"Mas, Mas... sudah, ya. Yang sabar," kata Suci.


"Saya suruh kamu ke sini baik-baik, tapi kamu malah menantang saya. Kurang ajar!


"Cukup, Mas! Mas mau pukul saya silakan! Tapi seperti yang saya katakan, Mas tidak berhak ikut campur dengan masalah ini! Ini masalah pribadi saya!"


Geram. Darahku mendidih. "Kurang ajar!

__ADS_1


Bug!


Tinjuku kembali melayang.


__ADS_2