Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bulan Madu Lagi


__ADS_3

Oh, ini gila! Kurasakan sesak di dalam celana. Sejujurnya, aku pun menahan rindu yang sama. Tapi aku tak pernah berpikir untuk melakukan hubungan suami istri di dalam mobil, terlebih di parkiran umum seperti ini.


Tapi Suci sungguh berani, ia melepaskan ikat pinggangku, mengeluarkan diriku dari sarang dan bermain-main sejenak. "Ya ampun, Yang. Kamu gila, ya," kataku. Dan, uuuh...! Dia membuatku mengeran* tak tertahan.


Sejuta kenikmatan membuncah di dalam jiwaku.


Dan lebih dari itu, dengan berani ia melepaskan pakaian *alamnya, lalu naik ke pangkuanku. Dia nyengir. "Tidak kepingin membuka pakaianku? Hmm?"


Well, tanpa menyahut, kulakukan bagianku: melepaskan kancing-kancing itu dan membenamkan wajahku di sana.


Kemudian ia berbisik, "Kamu yang terbaik," pujinya. Dia terengah mendapatkan sentuhan super ekstra di bagian dada. Dan setelah puas, ia pun berbisik lagi, "Please... arahkan dirimu padaku."

__ADS_1


Itu soal mudah. Dengan segera aku terarah, masuk, dan Suci menekankan dirinya kepadaku.


"Dan kurasa sandaran kursi ini mesti diturunkan."


Tentu. "Sesuai keinginanmu." Kuturunkan sandaran kursiku hingga maksimal. Dan...


Oh, ya ampun, ini adegan bahkan jauh lebih baik daripada yang dimainkan oleh Anastasia dan Christian dalam film Fifty Shades yang fenomenal itu. Setidaknya ini sungguhan dan jauh lebih lama dari adegan di dalam film.


Bahkan bergilir, dengan sedikit memiringkan tubuh, kami bertukar posisi, aku di atas dan mengambil alih permainan. Dengan gaya yang *ensual, kedua kaki istriku melilit di pinggang, sementara kedua tangannya melingkari pundakku. Well, singa ini menunjukkan kebuasannya. Tubuh kami bermandikan keringat dan napas pun terengah-engah. Keadaan di luar mobil yang cukup ramai membuat adrenalinku lebih tertantang dan proses bercinta kali ini lebih menggairahkan dan nikmatnya juga terasa berlipat-lipat. Hubungan pernikahan yang sah membuat kami rileks dan merasa sah-sah saja mau bercinta di mana pun asalkan masih di dalam ruangan tertutup. Mobil milik pribadi, bukan? Dan meski tak begitu ekstra menghentakkan diri kepadanya yang sedang hamil, tapi... terapi cinta ini berhasil membuatnya merasa puas.


Aku cekikikan. "Luar biasa," kataku. "Kegilaanmu sungguh membuatku bahagia. Aku senang dan aku sangat mencintaimu. Pertahankan."

__ADS_1


Yap, dia memang gila, dan akulah si pria yang beruntung itu.


"Terima kasih. Tapi ini hanya pemanasan."


Iyuuuh... dia membuatku cekikikan. "Tentu saja, Sayang. Akan kita lanjutkan lagi nanti. Apa, sih, yang nggak untukmu?"


Yap, rintik hujan mulai menetes sesaat sebelum Simon menyerahkan kotak pizza itu kepadaku. Simon yang merasakan tetesan hujan praktis menutupi kepalanya dengan tangan.


"Ya ampun, hujan," gerutuku. Dengan cepat kuserahkan kotak pizza itu kepada Suci dan aku segera melajukan mobil ke jalan raya. "Kita mampir ke hotel, ya. Tidak apa-apa, kan? Pasti keburu," kataku.


Dan... nyaris. Hujan mulai melebat ketika aku memasuki halaman depan hotel Mama Sania yang tak jauh dari bakeri itu. Dan persis di depan pintu utama hotel, kuhentikan mobil dan segera keluar. Kuberikan kunci mobil ke security dan segera membukakan pintu untuk Suci.

__ADS_1


"Ayo, Sayang. Bulan madu menunggu." Kuulurkan tanganku dan Suci menyambutnya dengan riang. Aku yakin dia pun mengingat malam indah kami waktu itu, sewaktu kami di Singapura.


Yeah, malam yang indah itu. Bulan madu terlarang....


__ADS_2