
"Tapi perceraian kita tidak sah." Rhea berdiri di sana, di depan pintu itu. "Kamu menceraikan aku sepihak, dan aku dalam keadaan hamil."
Suci melonggarkan pelukan, tapi satu tanganku masih mendekapnya di dadaku, sementara tangan lain mencabut pistol dan mengacungkannya ke kepala perempuan itu. Dia terkesiap. Ketakutan.
"Simpan pistol itu, Mas. Biar aku yang bicara padanya," kata Suci.
Aku menurut, kulepaskan tubuhnya dari dekapanku, menyimpan kembali pistolku, dan membiarkan Suci bicara.
"Maaf, Mbak. Mas Rangga sekarang suamiku."
"Aku juga masih istrinya. Perceraian kita tidak sah."
"Mbak, bisa dengarkan aku baik-baik? Mbak mau bebas, kan, dari sini?"
"Kenapa? Apa maksudmu? Dengar, ya, aku hamil anaknya Rangga. Dia--"
Suci berbalik. "Kita pergi, Mas," katanya. "Kurung lagi saja dia di sini."
__ADS_1
"No, please! Jangan. Jangan. Tolong, Rangga, tolong. Aku mau keluar dari sini. Tolong?" Rhea terduduk, bersimpuh di lantai dengan perasaan panik.
Aku diam saja menyaksikan istriku yang aku sendiri tidak mengerti: dia sedang berakting atau sungguhan? Mungkin lebih tepatnya -- aku ternganga.
"Kamu mau bebas, kan?"
"Iya, aku mau bebas. Aku mohon, bebaskan aku."
"Bisa dengarkan kata-kataku? Mau menurut?"
Rhea mengangguk, dia sadar dia dalam keadaan tidak berdaya.
Lagi, Rhea hanya mengangguk.
"Dan perlu kamu ingat, kamu sudah membunuh pria itu. Ada bukti rekaman cctv yang bisa diubah data-datanya menggunakan kamera lain. Kamu tentu tahu, mudah saja bagi suamiku untuk memanipulasi fakta. Tempat ini bisa diubah, saksi bisa dibayar, dan kamu akan menjadi satu-satunya tersangka. Kami bisa mengirimmu ke penjara kalau kamu tidak mau menurut. Mengerti?"
Wow! Amazing! Dia mantan model atau mantan pelaku kriminal? Sekali lagi, aku ternganga.
__ADS_1
"Aku mengerti," kata Rhea. "Aku janji, aku akan menurut. Aku tidak akan macam-macam, asalkan aku bebas. Tolong, aku ingin bebas. Aku tidak sengaja membunuh Biktor. Aku tidak ingin meladeni *afsu birahinya. Jadi, aku... aku mendorongnya. Aku tidak sengaja. Tolong, jangan kirim aku ke penjara. Kasihanilah aku. Aku mohon pada kalian."
Suci pun tersenyum penuh kemenangan. "Nasibmu ada di tanganku, dan itu tergantung bagaimana caramu bersikap. Kamu paham, kan?"
Rhea mengangguk, tak berani lagi membantah.
"Bagus. Sekarang bangunlah. Aku akan mengantarmu ke kamar Bibi Merry. Kamu bisa bersih-bersih di sana."
Well, Suci bisa mengatasi keadaan dengan baik. Hal yang tak pernah kusangka-sangka, kenyataan ini berbanding terbalik dengan ketakutanku selama ini. Suci memang istri yang bisa diandalkan.
Setelah mengantarkan Rhea ke kamar Bibi Merry dan meminta Bibi Merry untuk mengurusi Rhea, Suci langsung memintaku menghubungi Billy. Untuk apa?
"Aku ingin melihat langsung, apakah anak buahmu benar-benar menguburkan Biktor dengan layak."
Eh?
"Jangan asal timbun!"
__ADS_1
Ya ampun....