
"Oh," *esahnya, dia gugup dan salah tingkah. "Maaf, Rangga. Mama tidak bermaksud untuk...."
Aku menggeleng kecewa. Tidak terima pada permintaan Mama Rhesmi yang tidak memikirkan perasaan Suci. "Dia tidak pantas untuk dikhianati. Hatinya tulus, dan dia terlalu baik." Aku pun tersenyum simpul padanya. "Aku tidak akan pernah mengkhianati wanita sebaik dirinya."
Mama Rhesmi menggeleng seraya menyeka air matanya. "Maaf, Rangga. Mama tidak memintamu untuk mengkhianatinya. Mama--"
"Cintanya tidak layak untuk dibagi."
"Ya, Mama paham."
"Tolong jangan bicara seperti itu lagi, ya, Ma? Dia juga sedang hamil."
"Oh, maaf, Mama tidak tahu, Rangga. Selamat, ya. Mama turut senang mendengarnya."
Agak kurang tulus, kurasa. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja dan mungkin karena obrolannya dengan Suci tadi yang tidak mengenakkan yang masih mempengaruhi suasana hatinya. Atau bisa jadi karena teguranku. Tapi mau bagaimana lagi, orang-orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain ketika mereka berbicara, mereka juga layak mendapatkan balasan yang setimpal.
Setelahnya, aku menunggu Suci keluar dari kamar mandi dalam keheningan. Setelah agak lama, dia pun membuka pintu kamar mandi dengan wajahnya yang sudah kembali fresh, tidak lengket lagi, dan dengan wangi melati yang semerbak. Dia pun sudah berganti pakaian. Senyum yang terukir di wajahnya menyiratkan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja. Sungguh aku bersyukur untuk itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum? Jangan macam-macam lo, Mas. Jangan bikin kukitku lengket lagi."
Iyuuuh... ketegarannya berbanding lurus dengan otaknya yang konslet. Memangnya salah kalau aku tersenyum? Sekalian saja, kujahili dia: kupeluk dan kuciumi lekuk lehernya. "Mau bagaimana lagi? Istriku sangat menggairahkan."
__ADS_1
"Mas...," rengeknya.
"Apa, Sayang?"
"Iiih...."
"Aromamu memikat."
"Jahil! Lepaskan aku...."
"Baiklah. Akan kulepaskan. Aku bisa menunggu sampai kita pulang."
"Silakan, Nyonya Sanjaya," kataku setelah membukakan pintu di bagian penumpang.
Suci jadi tersenyum geli melihat tingkahku. "Ada apa, sih, denganmu?" tanyanya begitu aku duduk di balik kemudi. "Jangan aneh-aneh lo, Mas. Di rumah nanti saja. Aku sudah dandan ulang dan fresh begini. Jangan diapa-apain dulu."
Hah! Lucu sekali dia.
"Tidak, kok. Aku juga capek."
"Terus, kenapa senyum-senyum aneh begitu?"
__ADS_1
"Tidak ada." Aku meraih dan menggenggam tangannya. Lalu, sambil menatap dalam kedua matanya, aku berkata, "Aku hanya merasa bersyukur karena memilikimu. Kamu luar biasa dalam segala hal. Segala sisinya."
Alis Suci bertaut. "Tentang apa ini maksudnya?"
"Kamu tadi melihatku bersama Rhea, kan?"
"Emm...."
"Jujur saja."
"Em, iya, aku melihat kalian. Mamanya juga melihat. Makanya aku ajak beliau masuk supaya dia tidak melihatmu kasar pada anaknya. Aku tidak melihat sampai akhir. Tapi aku percaya padamu."
"Terima kasih. Terima kasih atas kepercayaan yang begitu besar, terima kasih atas ketegaranmu, dan... terima kasih atas sikap dewasamu. Kamu benar-benar sosok yang luar bisa. I love you."
Dia mengangguk. "Sama-sama, Mas. Tapi jangan menciumku sekarang. Aku takut celanamu sesak di waktu yang tidak tepat." Dia cekikikan.
"Dasar konslet kamu, Yang. Suasana lagi hangat, malah berkelakar."
Suci meredam tawanya. "Maaf, aku hanya tidak ingin mantan istrimu itu melihat kita lagi dan kepingin dengan apa yang sudah ia lepaskan. Karena dia sudah ada di sini."
Oh, ternyata. Aku menoleh ke samping, Rhea tengah berdiri di ujung teras. Menunggu?
__ADS_1