Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Istri Luar Biasa


__ADS_3

"Mama mau kenal?"


"Ya, di mana dia?"


"Sebentar, biar Rangga panggilkan."


Aku beranjak, membuka pintu dan memanggil Suci, lalu membawanya masuk dan memperkenalkannya pada mantan ibu mertuaku itu. Ia tersenyum melihat Suci. "Kamu cantik," pujinya.


"Terima kasih, Tante," katanya, lalu tersenyum.


"Panggil Mama, seperti Rangga."


"Oh, oke. Emm... Mama."


"Jaga suamimu baik-baik, ya. Dia lelaki baik. Mama mau dia bahagia." Ia pun tersenyum. Senyuman yang nampak begitu tulus.

__ADS_1


Hatiku terenyuh. Aku mesti memenuhi permintaannya, pikirku. Semua ini berakar dariku dan keserakahan Reno Dirgantara. Kalau dia tidak memaksakan putrinya untuk menerima lamaranku, ini semua tidak akan terjadi. Tapi Rhea juga bersalah. Andai saja dia setia dan menerima saja dicintai olehku, ini juga tidak akan terjadi. Tapi... benar juga yang dikatakan oleh Jessy waktu itu, soal hati itu tidak bisa dipaksakan. Dan seandainya Rhea setia, hatiku juga tidak akan berlabuh pada Suci.


Setelah selesai menyuapinya makan, aku segera berpamitan dan mengajak Suci pulang, dan tak lupa menitip pesan pada Mbok Ira untuk terus mengabariku tentang keadaan ibu yang sangat merindukan anaknya itu. Kami pun segera kembali ke mobil setelah Mbok Ira mengiyakan.


"Jadi?" tanya Suci. "Kamu mau, kan, membawa Rhea pulang pada mamanya? Please...?"


Aku mengangguk. "Tapi aku bingung bagaimana caranya. Aku...."


"Aku tahu," kata Suci. "Aku tahu dia di mana."


Hah?


"Kamu tahu... mak--sud--nya?"


"Mas... aku tahu kamu mengurungnya."

__ADS_1


"Sayang," suaraku hilang. "A--aku...."


"Aku tidak akan marah kalau kamu mau membebaskannya. Dia manusia, bukan hewan peliharaan."


"Yang, maaf. Aku...." Aku mulai gusar. Aku begitu panik karena hal yang mengejutkan ini. "Aku... minta maaf. Aku tidak bermaksud--"


Dia menyambarku. Mendekapku ke dalam pelukannya. "Rileks, jangan paranoid," Suci berkata pelan, agak berbisik. Lalu ia melepaskan pelukannya dan menciumku bibirku. Aku membalas ciuman itu, merasakan ketulusannya yang seperti obat penenang. Kami berciuman selama beberapa menit -- dengan sepenuh perasaan.


"Kamu tidak marah padaku, kan?" tanyaku begitu bibir kami saling melepaskan. Aku menatap Suci dengan penuh harap, tapi Suci malah tersenyum meski ada air mata yang menetes di pipinya.


Dia menggeleng. "Apa pun kekacauan dan kesalahan yang pernah kamu lakukan dulu, aku akan membantumu memperbaikinya. Seperti janji pernikahan kita, kita akan sama-sama berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Hmm?"


Kamu sangat baik dan sangat tulus. Bahkan untuk kesalahan sebesar ini kamu bisa memakluminya. Kamu benar-benar sosok istri yang luar biasa.


"Semalam... waktu aku keluar dari kamar, aku berpapasan dengan Bibi Merry. Bibi bertanya kenapa aku menangis. Dan... setelah aku cerita, Bibi Merry memberitahuku tentang ini. Awalnya aku marah, tapi... aku memilih untuk mengerti semuanya. Bibi Merry menaruh harapan padaku untuk bisa membantumu lepas dari kelamnya masa lalu. Aku... aku akan berusaha, Mas. Aku akan selalu ada untukmu."

__ADS_1


Aku terharu, Tuhan. Terima kasih. Lalu aku memeluknya lagi cukup lama. "Aku bersyukur mendapatkan istri sebaik dan sebijak kamu. Pemikiranmu dewasa. Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar sosok istri yang luar biasa. Kamu sangat baik."


Suci mengangguk, lalu lekas-lekas menghapus air matanya. "Jadi bagaimana? Kita pulang dan...?"


__ADS_2