
"Kamu serius mau merawat anaknya Rhea kalau perempuan itu mati?" tanyaku sewaktu kami menyusuri lorong demi lorong hingga sampai ke bagian depan rumah sakit.
Suci mengangguk. "Serius. Kalau kamu mengizinkan. Aku pasti bisa kok berbagi kasih sayang pada bayi itu."
"Oke. Bagaimana kalau kita matiin saja Rhea-nya?"
Plak!
Suci menepak bahuku, dan matanya seketika melotot. "Mau membunuh orang, kok pakai niat, sih?"
"Mau bagaimana lagi? Dia parasit, sih!"
"Parasit-parasit begitu, itu mantan istrimu, lo."
"Hmm...."
"Fakta, kan? Kamu pernah mencintainya dan mengarungi malam yang panjang bersamanya." Suci terkekeh. "Sekarang saja dibilang parasit, kalau dulu? Aku sangat mencintaimu, Rhea...." Bibirnya menyebil, mengejekku.
Euw...! Dasar, kali ini istriku itu menyebalkan!
Yeah, memang, dulu itu adalah kebodohanku. Tak mesti diingatkan, bukan?
"Aku heran, sih, sebenarnya. Kok bisa, ya, dia memintaku supaya aku membujuk suamiku untuk kembali rujuk dengan dia? Mantanmu aneh. Cantik-cantik, kok otaknya rada-rada minus? Herannya lagi, kok bisa dulu kamu jatuh cinta padanya?"
Hmm... lagi-lagi Suci tertawa penuh ledekan.
__ADS_1
Gemas dengan ledekannya, kurema* kuat-kuat jemarinya dalam genggaman tanganku hingga ia memekik. "Sakit, tahu...!"
"Makanya... kamu tu jangan--"
Seorang perempuan bercadar menabrakku ketika kami menuju parkiran.
"Maaf, maaf. Saya tidak sengaja--" kata-katanya terputus.
Kusadari, dari wajahnya yang tertutup cadar, matanya terbelalak menatapku, dan di saat itulah aku menyadari kalau aku mengenal sorot matanya, juga suaranya. Dia Lady Sandra. Aku sangat yakin itu. Dan di saat kusebut namanya, dia langsung berlari tunggang langgang menghindariku.
"Hei, tunggu!" teriakku.
Aku sempat mengejar, tetapi...
"Sialan!"
Namun, saat aku berbalik menghadap ke Suci, dia tengah gemetar menatap selembar kertas di tangannya.
"Sayang? Kenapa?"
Dia tidak menyahut, dan kusadari, sekarang wajahnya sepucat mayat.
"Apa itu?"
Kuambil kertas itu dari tangan istriku dan melihat nama Lady Sandra tertera di sana -- selembar kertas informasi hasil cek kesehatan dari rumah sakit. Dan...
__ADS_1
Betapa terkejutnya aku. Wanita panggilan itu dinyatakan terinveksi HIV.
Ya Tuhan... apa aku juga? Apa karena itu Lady melecehkan aku waktu itu? Untuk menjangkitkan virus itu ke tubuhku?
Seketika aku membayangkan diriku terbaring lemah di ranjang perawatan dengan selang infus berjuntaian di tangan.
Frustrasi. Kalau aku terjangkit, berarti Suci? Dan calon anakku di rahimnya? Tidak. Ini tidak mungkin. Aku sehat, dan kami semua baik-baik saja. Pasti. Penyakit ini... penyakit ini tidak mungkin menjangkitiku. Tidak mungkin. Bedebah! Sialan! Berengsek kau Lady!
Aku menggeleng-geleng tak jelas. Aku marah. Aku takut. Ngeri, dan segala macam perasaan tak jelas menguasai pikiranku. Tanpa sadar, aku tak bisa mengendalikan diri hingga berteriak di sana, memancing perhatian orang-orang di sekitar kami hingga mereka menatap keheranan.
"Kita mesti cek diri kita juga, Mas," kata Suci. "Ayo...," suaranya gemetar. Wajahnya yang pucat kini bersimbah air mata. Aku tahu dia sekarang ketakutan.
Aku mengangguk. "Tenang," kataku. Aku berusaha melawan ketakutanku sendiri di hadapannya. "Kita... kita pasti baik-baik saja. Ya... ya, aku tahu. Kita pasti baik-baik saja. Aku tahu virus itu tidak bisa terdeteksi terlalu dini. Tapi setidaknya, setidaknya hasil laboratorium waktu itu baik-baik saja, kan? Siapa tahu... siapa tahu sekarang hasilnya juga akan baik. Lagipula beberapa bulan ini, setelah kejadian itu, kita sehat, kan? Tidak ada keluhan, kan? Kita berdua bahkan tidak pernah jatuh sakit. Tolong, tolong jaga emosimu. Anak kita anak di rahimmu, Sayang. Please, kita bisa mengendalikan diri, oke? Percaya padaku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Rileks. Oke? Tenangkan dirimu. Aku mohon, Sayang?"
Suci mengangguk-angguk tanpa kendali. "Aku masih ingin hidup. Aku ingin melahirkan anakku. Ak--aku ingin punya kesempatan bersama anakku. Tapi, sekarang--"
"Ssst... tenang, Sayang. Tenanglah."
Dan, seketika itu kami berpelukan. Istriku yang biasanya luar biasa tegar itu, sekarang ini berada dalam kerapuhan. Tubuhnya gemetar, lalu ia terguncang-guncang -- menangis sesenggukan dalam pelukanku.
Aku berharap Engkau masih sudi menolong kami, Tuhan. Bantu kami melewati badai ini....
Tak bisa terelak, aku pun menangis. Sungguh, aku pun tak kalah cemas seperti apa yang tengah Suci rasakan. Bahkan, belum apa-apa, ketakutan ini membuatku putus asa. Ingin sekali rasanya menipu diri sendiri dan berharap: ini hanyalah mimpi buruk dalam tidurku. Dan ketika terbangun, kami berdua dalam keadaan baik-baik saja.
Tetapi, "tanda tanya" di depan mata -- sungguh menakutkan. Kami sedang tidak bermimpi.
__ADS_1
Aku mesti bagaimana, Tuhan?