Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Billy berdeham. "Maaf, Nyonya, tapi sebelumnya saya tidak pernah mencari tahu. Tapi...." Sekali lagi, Billy menggeleng. "Saya tidak tahu pasti tentang istrinya. Tapi Biktor punya anak usia dua tahun. Laki-laki. Dulu dia pernah minta dibebaskan dengan alasan anaknya sedang sakit."


"Ya Tuhan...," Suci mengeran*, jengkel, lalu ia menatap kepadaku. "Kamu tahu, kan, apa yang mesti kamu lakukan setelah ini?"


Jawabannya muncul dalam bentuk anggukan. "Yeah, aku tahu. Aku akan memberikan sejumlah uang untuk anak itu." Dan tentu saja secara diam-diam.


"Bagus," kata Suci.


"Kamu terlalu baik, Yang."


"Bukan. Aku tidak begitu baik. Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab. Biktor jelas bersalah, tapi anaknya tak mesti menjadi korban. Apa aku benar?"


Aku terenyuh. "Terima kasih atas kepedualianmu."


"Untung saja aku tidak terlalu baik pada orang lain. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu ke polisi dan kamu akan dibui untuk mempertanggungjawabkan semuanya."

__ADS_1


Ih, ngeri sekali sih, dia. Dia benar-benar tak sepolos yang kukira. Menarik. Semakin ke sini, sosoknya semakin membuatku terpikat. Kadang dia manis seperti seekor kucing, tapi sekarang dia seperti macan betina yang siap-siap menerkam kalau aku berbuat salah. Hati-hati kau, Rangga....


"Hei, Tuan, hormatlah sedikit pada jasad itu. Bantu mereka mengangkat petinya."


Hmm... bawel. "Iya, oke, Nyonya...."


Aku pun mendekat ke tepi lubang. Dan ternyata, memakamkan mayat itu sebaiknya menggunakan jasa ahlinya. Sewaktu kami mengangkat petinya dan hendak memasukkan peti itu ke liang kubur, ketidakseimbangan terjadi. Peti itu miring dan terasa ada pergeseran jasad di dalamnya. Sehingga, setelah peti ditaruh di dasar liang, Suci rewel dan menyuruh kami memastikan.


Benar, jasadnya bergeser dan terdempet ke dinding peti.


Aku hendak melangkah mundur -- tapi tidak sebelum melihat sekilas. Wajah yang pucat itu dan bola mata mayat yang tidak tahu kenapa agak terbuka seakan menatapku. Aku bergidik.


Keempat orang menengadah. "Tapi tangan kami kotor," kata Leo.


Itu keputusan termudah yang pernah kuambil.

__ADS_1


Aku berpaling kepada Billy yang menyeringai dan menutupi wajahnya. Ia membalas pandanganku dengan tatapan tertegun dan wajah pusat pasi. "Saya, Tuan?" katanya dengan napas tertahan. "Turun ke sana?"


Aku tersenyum. "Sori, Bill. Untuk kedamaian arwah yang mesti kita hantarkan. Silakan."


Hah! Andai kau tahu, Billy hebat hampir dalam segala hal, tapi dia cukup percaya bahwa ketika hendak menguburkan sesosok mayat tapi ada saja gangguan, itu berarti bumi menolak jasadnya dan alam tidak menerima perpindahan arwahnya. Billy merinding. Lucu sekali! Aku yang baru saja bergidik ngeri jadi nyaris tak bisa menahan tawaku.


Billy melakukan tugasnya.


Setelah mata yang terbuka itu kembali menutup dan posisi mayat sudah dirapikan, keempat petugas makam dadakan itu kembali menutup peti mati Biktor dan mereka mulai menimbunnya dengan gundukan tanah.


Dan akhirnya selesai. Aku ingin segera pulang -- segera kembali bermesraan dengan istriku tersayang.


Tetapi...


Ada saja gangguan!

__ADS_1


"Aku mau menumpang ke toilet. Kebelet. Temani aku, Mas...," rengek Suci, padahal kami sudah stand by di dalam mobil.


Euw... ampun...! Ada-ada saja, ya, kaum perempuan itu. Memangnya tidak bisa ditahan lagi?


__ADS_2