Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Mengalah


__ADS_3

Namun aku hanya bisa membungkam mulutku.


"Aku yakin, anak buahmu pasti bisa menemukan mantan... maksudku menemukan anaknya Pak Reno. Seperti waktu kamu mencariku, kamu bisa menemukanku di pelosok desa terpencil seperti itu."


Aku menggeleng lemah. "Aku tidak bisa," tolakku. "Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan masa laluku."


"Tapi kamu sudah berjanji tadi...."


"Maaf, aku menarik janjiku."


"Mas, bahkan demi seorang ibu kamu tidak mau melakukannya?"


Aku menggeleng, sementara Suci menatapku dengan mata berkaca, tapi tak ada lagi kata yang terucap. Dia meraih tas tangannya dan mengeluarkan ponsel, lalu keluar dari kamar meninggalkan aku dengan keterpakuan.


Ah, andai dia tahu kebenarannya, mungkin seperti ini juga kejadiannya nanti. Bahkan, dia tak akan sekadar membawa ponselnya ke luar kamar, bisa jadi dia membawa pergi semua cinta dan kehangatan yang telah ia berikan untukku.

__ADS_1


Hmm... kenapa jadi begini? Dia sosok yang sesuai dengan harapanku: baik, hangat, juga setia. Dia juga perhatian dan penuh cinta. Dan saking semua itu ada pada dirinya -- aku malah kesulitan sendiri menghadapi kepeduliannya terhadap orang lain.


Bagaimana sekarang? Hampir satu jam sudah berlalu, tetapi Suci belum juga kembali ke kamar.


Apa dia masih kecewa? Masa aku harus menuruti kemauanmu, Sayang? Ngapain aku mencari orang yang sebenarnya dia ada di sini? Apalagi mesti jauh-jauh ke Bali.


Kuhela napas dalam-dalam dan akhirnya kuputuskan untuk mengalah. Aku keluar dari kamar dan mencari istriku yang sedang merajuk itu.


"Ann, kamu lihat Suci?" tanyaku sewaktu aku masuk ke dapur dan tidak mendapati diri Suci di sana. Hanya ada Anne yang sedang memeriksa ketersediaan stok bahan-bahan masakan di lemari es.


Dia pun menunjuk kamar Mbok Sari. "Tadi masuk ke kamar Mbok sambil menangis, Tuan," katanya. "Mungkin masih di dalam."


Dari luar kamar, setelah Anne masuk dan menyampaikan perintahku untuk memanggilkan Suci, kudengar Mbok Sari menasihati istri beliaku itu supaya dirinya jangan suka membesar-besarkan masalah dengan suami. Terus terang aku suka, aku merasa ada sosok orang tua yang peduli pada kami sebagai anak. Setelah Suci mengiyakan, dia pun keluar dari kamar itu dan berdiri saja di depan pintu.


Ayo, Rangga... kau harus terus mengalah padanya.

__ADS_1


Aku menghampirinya, dan...


"Eh, mau ngapain...?" Suci berteriak kaget begitu kedua tanganku menggendongnya.


Aku tersenyum -- melihat dia tersenyum. "Ini sudah larut, kita kembali ke kamar, ya? Masalah tadi kita bahas lain waktu. Oke?"


Dia kembali merengut, isyarat minta diiyakan permintaannya saat itu juga. "Please... iyain...," rengeknya tanpa peduli pada tenaga yang mesti kukeluarkan untuk menggendongnya menaiki tangga.


Huh! Padahal kukira dengan menggendongnya itu sudah cukup untuk membujuknya. Ternyata tidak cukup. Wanita ini cukup keras kepala, tapi ini karena hatinya yang terlalu baik.


"Hmm... iya. Nanti kubantu."


"Kamu mau kerahkan anak buahmu mencari si... siapa namanya?"


"Iya, Sayang...," kataku sambil terengah. "Nanti, ya. Kita ke kamar dulu."

__ADS_1


Euw!


Dia cekikikan. "Kekuatan lelaki tiga puluhan memang tak perlu diragukan."


__ADS_2