Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Permata Hatiku


__ADS_3

Sempurna -- satu kata yang pas untuk menggambarkan cantiknya Suci malam itu. Dia tampak bersinar dalam gaun cokelat muda yang kelihatan luar biasa disandingkan dengan rambutnya yang digelung ke atas.


"Kamu benar-benar cantik," pujiku sembari memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalaku di kepalanya -- sewaktu ia berdiri di depan sebuah cermin besar yang bisa menampilkan keseluruhan sosok dirinya yang luar biasa.


Dia tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi dan bibirnya yang manis -- yang rasanya ingin kukecup kalau saja kami tidak akan pergi ke mana-mana. "Kamu tidak akan malu menampilkan aku di depan publik, kan?"


"Tentu. Aku justru bangga. Kamu sempurna."


"Uuuh... sesempurna itu aku di matamu?"


"Yeah. Karena kamu memang luar biasa."


"Gombal kamu, Mas...."


"Serius...."


"Iyain aja, deh...."


"Tapi kamu sering lebih cantik daripada ini."


"O ya?"

__ADS_1


"Em, di saat kamu... tidak mengenakan apa pun."


Haha! Mata Suci langsung melotot. "Dasar! Omongan kamu nggak jauh-jauh dari *eks. Euw...! Risiko menikah dengan pria dewasa," gerutunya.


"Mending menikah dengan pria dewasa, tahu! Apalagi yang seperti aku, tampan, mapan, dan rupawan."


Ck! Mantan duda yang sangat percaya diri.


Suci terkikik-kikik menahan tawa. "Apa perlu kutambahkan kekar, kuat, perkasa, dan hebat di ranjang? Hah?"


"Boleh saja. Tapi yang terpenting, seberapa kamu -- merasa beruntung bersamaku?"


Emmmuach, dia mengecup pipiku. "Sangat beruntung. Aku wanita paling bahagia di dunia ini. Bahkan... kalau bisa aku akan berterimakasih padanya... seseorang yang melepaskanmu sehingga aku bisa menggantikan tempatnya, di sini, di sisimu, dan selalu hangat di dalam pelukanmu."


"I love you, Mas...."


"I love you more."


"So, kita berangkat sekarang?"


"Em, ayo."

__ADS_1


Dengan mesra, kami bergandengan tangan, keluar dari gedung kantor yang sudah sepi. Sebagian besar karyawan sudah pulang, hanya tersisa mereka yang lembur demi tidak membawa pulang pekerjaan mereka dan bisa berlibur santai esok hari.


Di depan gedung kantor, Billy sudah menunggu di mobilnya. Dia membukakan pintu mobil begitu melihat kami keluar dari pintu utama.


"Kamu tidak lupa membawakan pesanan saya?"


Dia mengangguk, lalu mengeluarkan kotak perhiasan yang cukup besar dan memberikannya padaku. Di dalam kotak itu ada sebuah kalung yang dikelilingi butiran permata. "Pakai," kataku pada Suci.


"Waw!" gumamnya, dia berdecak kagum saat membuka penutup kotak perhiasan itu. "Bagus sekali. Untukku?"


Aku mengangguk. "Selama kamu menjadi istriku, apa pun milik mamaku, itu artinya milikmu juga."


"Okay... I see. Aku ngerti, kok. Kamu terlihat tidak begitu antusias, pasti karena perhiasan ini pernah dipakai mantanmu, ya kan?"


Sekali lagi aku mengangguk. "Maaf, bukannya aku tidak ingin membelikan perhiasan yang baru. Tapi, apa pun milik mamaku, itulah barang-barang yang paling berharga bagiku. Dan harus dipakai oleh orang yang juga berharga untukku."


"Terima kasih sudah menganggapku begitu berharga. Aku terharu... aku merasa benar-benar istimewa di matamu."


Ya Tuhan, aku bisa merasakannya, Suci sangat tulus dengan ucapannya itu. Aku merasa sangat dihargai sebagai seorang pasangan, sebagai suaminya. Aku tersenyum seraya membelai pipinya. "Sama-sama, Sayang. Aku sayang kamu, Permata Hatiku."


"Aku juga sayang kamu...." Dia tersenyum dengan semburat bahagia yang nyata di matanya. "Jadi, kamu mau memakaikannya untukku? Tidak masalah, kok, walaupun kamu pernah melakukan hal yang sama dengan si masa lalu itu. Itu sedikit pun tidak mengurangi rasa bahagiaku. So, please? Pasangkan di leherku, ya? Em? Mau kan?"

__ADS_1


Well, akan kupasangkan.


__ADS_2