Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kembali Semula


__ADS_3

"Mau ke mana?" aku bertanya sewaktu melihat Suci sudah berdandan cantik pada keesokan paginya.


Istriku, Suci, biasanya dia tidak berdandan kalau kami hanya di rumah. Paling hanya memakai lipstik dan itu pun hanya sehabis mandi. Tapi pagi itu dia berdandan dan itu praktis membuatku bertanya.


"Mau ke rumah Mama, kalau kamu tidak ada pekerjaan tentunya."


Tentu saja tidak ada. Kalaupun ada kegiatan di luar rumah, aku pasti sudah mengatakannya dari kemarin. Lagipula ini hari sabtu, waktunya libur dari rutinitas pekerjaan kantor.


"Kenapa mendadak, Yang?"


Dia nyengir lebar lalu meminta maaf. "Aku kangen sama Mama," katanya. "Tapi kalau kamu ada pekerjaan lain--"


"Tidak ada. Tapi aku mesti mandi dulu. Tunggu, ya."


Cepat-cepat aku ke kamar mandi dan menyelesaikan mandiku dalam waktu singkat, lalu berpakaian, sementara Suci tengah menyiapkan rantang makanan untuk dibawa ke rumah ibunya. Dia ingin kami sarapan bersama di sana.

__ADS_1


Di jalan, kami melewati rumah Reno Dirgantara. Aku tidak tahu kenapa aku menoleh dan memandangi pekarangan rumah yang sudah lama tak kupijaki itu.


"Pulang nanti kita mampir ke sini, ya," kata Suci tiba-tiba. Entah bagaimana dia tahu kalau itu rumah mantan mertuaku.


Aku menggeleng. "Tidak perlu," tolakku.


"Ayolah... jangan memutuskan hubungan seperti itu. Kan yang bersalah itu anaknya. Bukan ibunya. Beliau dulu pasti sangat baik padamu, ya kan?"


Aku diam saja, meski di ingatanku berkelebat kenangan tentang dulu. Ibunya Rhea dulu memang sangat baik, dia menganggapku seperti anaknya sendiri meski sang anak begitu cuek padanya.


Tiga puluh menit kemudian, kami berdua sampai di rumah keluarga Nugraha. Ibunya Suci sudah berdiri di depan pintu menyambut kadatangan kami.


Suci tersenyum, menyambut pelukan ibunya. Wanita parubaya itu pun memeluknya erat-erat.


"Suci kangen...," katanya, mereka saling melepaskan pelukan, dan sang ibu memegang wajah anaknya itu dengan kedua tangan. Katanya, dia pun sangat merindukan sang anak. Kemudian ia menciumi kening Suci dengan sayang.

__ADS_1


Kurasa benar dugaanku selama ini, mamamu sangat menyayangimu. Tapi terkadang keadaanlah yang menyetir cara manusia bersikap sehingga mereka sampai khilaf.


"Ayo, masuk," ajaknya. "Nak Rangga, mari."


"Iya, Tant," kataku.


"Panggil Mama," tegur Suci.


"Iya, sori lupa, Sayang," kataku. "Belum terbiasa."


Di dalam, Indie baru muncul dari lantai atas. Nampaknya ia baru saja selesai mandi. Ia langsung menyambar kakak perempuannya itu dan memeluknya erat-erat. Waktu itu, wajah Suci sangat ceria, seolah dia baru saja mendapatkan kesempurnaan hidup tanpa kekurangan apa pun. Hatinya memang sangat baik, masa lalu yang buruk itu tak sedikit pun menyisakan dendam. "Ayo, kita sarapan bareng. Mbak sempat masak tadi di rumah."


"Aku sih tadi sudah sarapan," sahut Indie. "Tapi siapa yang bisa menolak masakan Mbak Suci? Rela deh berat badanku semakin bertambah."


Mendengar pujian itu, Suci mencubit gemas pipi adiknya. "Iya, kamu gemukan, ya, sekarang. Bisa semakin gemuk lo nanti kalau banyak makan, kayak ibu-ibu hamil."

__ADS_1


"Amit-amit, Mbak...," pekik Indie.


Mereka cekikikan, tertawa senang, dan sangat bahagia. Celotehan demi celotehan tak henti meramaikan suasana. Meski tak banyak yang kulakukan, tapi melihat istriku itu sangat merasa senang, itu juga sudah sangat membuatku senang. Karena kebahagiaan Suci selalu menjadi yang utama bagiku.


__ADS_2