
Menggemaskan. Dia cute sekali. Aku bukannya fokus mendengarkan kata-katanya, tapi malah menikmati caranya menyampaikan itu, ekspresinya, caranya bicara, keluguannya, lucu sekali. Sungguh membuatku gemas.
"Ya, sudah. Aku ngerti."
Oke... kutarik tangannya dan kuajak dia duduk di sofa. Bukan, kuminta dia duduk di atas pangkuanku. "Kamu cantik. Sama cantiknya dengan mantan istriku. Bahkan, kamu jauh lebih muda, lebih fresh, lebih lucu, imut, cute. Semuanya ada di kamu. Tidak ada alasan bagiku untuk malu memperkenalkan dirimu sebagai istriku. Aku malah bangga bisa memperistrimu. Malah, kalau kamu tidak melarangku mengadakan penyambutan kehadiranmu di perusahaan ini, atau mengadakan resepsi pernikahan kita secara besar-besaran, aku akan melakukannya saking aku senang dan bangganya memperistrimu. Swear."
"Terus? Kenapa kamu tidak mau pergi ke acara itu? Masa cuma karena tidak mau bertemu dengan mantan mertua?"
Kamu tidak mengerti, Sayang. Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut menghadapi rasa bersalahku karena sudah mengurung anak mereka.
"Tidak usah dibahas," hanya itu yang bisa kukatakan.
Suci mengangguk paham. "Baiklah, tapi aku benaran boleh ikut, kan? Aku janji, aku akan berdandan ekstra cantik dan tidak akan mempermalukan suamiku di pesta nanti."
"Tidak perlu berdandan ekstra, kamu sudah cantik dari sananya."
"Haha, dasar gombal! Pujianmu bisa membuatku melayang, tahu!"
"O ya? Kukira hanya sentuhanku yang bisa melakukan itu."
Dia mendelik. "Uuuh... pancingan...."
"Yap. Dan aku sudah mendapatkan ikannya."
"Aku bukan ikan...," kata Suci sambil menyodok dadaku dengan main-main.
__ADS_1
"Kalau bukan ikan, lalu apa? Kamu suka menggeliat, kan? Menggelepar-gelepar seperti ikan. Ha ha ha."
Ya ampun, tanpa sengaja aku tertawa keras, sementara Suci mencebikkan bibir manisnya dua senti. Aku gemas, dan menyambar bibir itu dengan gairah yang mulai bangkit. Kami berpelukan dan berciuman bak sepasang remaja yang dimabuk cinta.
"Kamu memabukkan," bisikku seraya *eremasnya.
Dia mengerling senang. "Well, kamu benar-benar tahu cara membawa gadis ke ranjang, bukan?"
Aku tersenyum. "Hanya istriku, dan apa pun yang perlu dilakukan demi menyenangkannya."
"Aku suka," bisiknya.
"Dan aku cinta padamu."
"Me too...."
"Tentu saja, atasanku yang tangguh. Aku sudah di bawahmu, bukan? So, silakan. I am yours."
Thats right. She is mine. Dalam sekejap -- yang sebenarnya tak terlalu sekejap, semua pakaian kami sudah melayang dan bertebaran di lantai. Dan sekarang...
Eummm....
Kami berciuman, panas dan dalam, sementara ia membuka interval kakinya dan memberikanku akses masuk dan menyelami kedalaman cintanya. Tak pernah bisa kutahan, bermesraan dengannya selalu bisa membuatku bergairah. Kami bercinta, perlahan...
perlahan...
__ADS_1
dan...
Uuuh....
"Mas...."
"Nikmat?"
"Em, lebih dari apa pun. Kamu benar-benar memabukkan."
Well, kami bergelut habis-habisan, tak menahan apa pun. Dengan kaki dan lengan saling melilit seperti menyatu -- menempel dengan aroma keringat yang khas. Plop, plop, fizz, fizz. Dan ah!
Kami mencapai puncak. Sempurna. Sungguh, itu rasa lelah yang nikmat dan sangat memuaskan.
"Mas?"
"Emm?"
"Kamu masih hidup, kan?"
Eh?
"Aku mengkhawatirkan jantungmu. Olahraga ini terlalu ekstrim."
Hmm... dasar, istri belia-ku yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Aku baru tiga puluhan, Sayang...."