
Suci menggelengkan kepala, menolak permintaan itu. Jelas, karena dia khawatir membiarkan adiknya berdua saja dengan lelaki yang kami belum tahu sebenarnya apakah dia benar-benar punya niat baik atau justru menyimpan amarah di dalam dirinya.
"Tidak apa-apa. Dia tidak memegang senjata," kataku pada Suci. "Kita tunggu di luar." Lalu aku menoleh kepada Billy. "Jangan berani macam-macam. Kalau tidak, habis kamu di tangan saya!"
Billy mengangguk, aku dan Suci langsung keluar dari ruang kerjaku di mana sejak tadi Indie ada di sana dan tidak berani keluar, tentu karena ia merasa malu pada seisi rumah.
Dari luar, terdengar suara Indie yang memulai obrolan di antara mereka. Indie meminta maaf atas semua kekacauan yang ia rasa itu disebabkan oleh dirinya, terlebih pada keadaan Billy yang saat itu babak belur karena kuhajar habis-habisan. "Sungguh, Mas. Aku tidak bermaksud meminta Mas Billy bertanggung jawab," ujarnya. "Aku sadar, ini salahku sendiri. Aku... aku ingin menggugurkan anak ini, tapi Mbak Suci dan Mas Rangga... mereka melarangku."
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar yakin kalau itu anak saya?" tanya Billy.
Indie terisak. "Aku yakin. Seratus persen aku yakin. Sebelum terakhir kita melakukannya, aku menstruasi. Dan setelah... setelah dengan... kamu di malam itu, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan pria lain. Tapi tidak apa-apa kalau Mas Billy tidak percaya. Aku tidak akan menuntut Mas Billy untuk bertanggung jawab. Aku sadar akulah yang salah. Aku yang terlalu murahan."
"Saya akan menikahimu, tapi dengan perjanjian hitam di atas putih. Saya ingin melakukan tes DNA setelah kamu melahirkan. Apa kamu bersedia? Kamu tidak akan keberatan?"
Indie bersedia. Dia menyetujui permintaan Billy untuk melakukan tes DNa setelah anak itu lahir. Lalu tak disangka-sangka, ia berkata, "Aku rela diceraikan, dan Mas boleh menuntutku kalau aku terbukti berbohong. Aku siap dipenjara." Lalu hening, hanya terdengar isakan tangis. "Mas," kata Indie, "kalau bisa... tolong nikahi aku. Maaf... bukannya aku bermaksud memaksa atau memohon belas kasihan, tapi sekarang aku menyesal sudah membuat malu keluargaku. Aku sedang berusaha memperbaiki diri, demi Mama dan demi Mbak Suci, aku juga tidak mau mempermalukan kakak iparku. Tapi setelah itu kalau Mas mau menceraikan aku, aku akan terima sekalipun terbukti kalau ini anak Mas Billy. Tidak apa-apa. Aku rela diceraikan."
__ADS_1
"Apa kamu keberatan, Mas?"
Billy menghela napas dalam-dalam, dan akhirnya dia bicara, "Saya rasa kamu sudah bicara jujur. Saya akan menikahimu. Dan sekali lagi saya tekankan padamu, kalau nanti terbukti itu bukan darah daging saya, mungkin...," ia berdeham, "saya ingin kita berpisah, dan saya tidak ingin dibebani tanggung jawab atas anak yang bukan darah daging saya. Begitu juga sebaliknya, kalau itu memang anak saya, saya akan mencintaimu dan menjadi suami yang baik untukmu. Juga ayah yang terbaik untuk anak kita. Saya berjanji akan membahagiakan kalian. Saya harap kamu tidak berbohong. Jangan berani menjebak saya dalam pernikahan yang salah."
"Tidak, Mas. Tidak sama sekali."
"Saya pegang kata-katamu."
__ADS_1
"Yeah. Terima kasih."
"Tidak perlu berterimakasih. Kalau kamu yakin dengan kebenaran itu, itu berarti sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menikahimu. Kita akan menikah secepatnya."