
Aku hanya sesenggukan. Malu rasanya sebagai lelaki -- sebagai seorang suami -- mesti sesenggukan di kaki istri seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, perasaanku benar-benar resah, ada rasa campur aduk yang bahkan aku sudah tidak bisa menjabarkannya -- perasaan apa saja yang kurasakan saat itu.
"Mas, tolong bicara. Aku yakin, aku pasti kuat mendengar penjelasanmu. Aku pasti bisa menghadapi ini, apa pun. Asal bukan pengkhianatan, aku akan memaafkanmu dan membantumu menyelesaikan semuanya. Tolong, katakan ada apa?"
Aku mendongak, mengangkat kepalaku dan menunjukkan wajahku yang penuh dosa. Air mataku tak henti mengalir sementara Suci menghapusnya.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke? Sekarang, please, aku mohon ceritakan padaku, ya? Ada apa?"
Kuhela napas dalam-dalam dan aku kembali menunduk, penuh kebimbangan. "Aku...," suaraku kembali tercekat. "Ini menjijikkan, Yang. Aku...."
"Menjijikkan? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Suci mencoba setenang mungkin, padahal aku tahu ia begitu gusar.
__ADS_1
Kupejam mataku dan berkata, "Aku... aku dilecehkan, oleh seseorang."
"Hah?" suara Suci nyaris tak terdengar.
Aku mengangguk, lalu menggeleng, ekspresi yang tak jelas. "Seseorang telah melecehkan aku," kataku kembali memperjelas.
"Apa maksudmu, Mas? Melecehkan? Melecehkan bagaimana?"
"Aku, aku belum mengerti sepenuhnya. Kok bisa? Jelaskan, Mas!" nadanya naik satu oktaf. "Kamu mabuk? Kamu menyentuh alkohol lagi? Iya? Itu artinya kamu cari penyakit dan aku tidak bisa mentolerir. Berarti kamu menjerumuskan dirimu sendiri. Aku tidak bisa menerima ini. Apa pun alasanmu!"
Astaga...
__ADS_1
"Bukan. Bukan seperti itu, Yang. Bukan karena alkohol. Aku dibius. Aku disuntik sampai semua tubuhku lemas. Aku tidak bisa bersuara. Tapi, aku... aku juga diberi obat... obat itu. Sampai berdiri, on, dan... aku dipakai."
Bagai tak percaya, Suci menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi aku ingin dia percaya padaku. Aku berdiri, membongkar tas kerjaku dan mengeluarkan map berisi selembar kertas keterangan medis, hasil cek laboratorium-ku waktu itu. Kuserahkan itu kepadanya meski ia mungkin tak mengerti dengan hasil print out pemeriksaan dari laboratorium itu.
"Kamu bisa bawa ini ke dokter dan mengecek kandungan obat-obatan yang tertera di dalam dokumen ini. Ini hasil pemeriksaan sewaktu aku masuk rumah sakit. Aku tidak berani menyentuhmu karena aku merasa kotor. Aku merasa diriku hina. Dan, aku tidak ingin kamu melihat tubuhku waktu itu. Makanya aku... ada, ada banyak jejak. Merah. Kotor. Aku bahkan sampai membenci diriku sendiri. Dan sekarang, terserah. Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku suda berkata jujur padamu."
Bagaikan tak punya muka, aku memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Suci yang mematung, terbungkam dan terpaku di sana. Walau sebenarnya serba salah. Tetap jika tetap di sana: aku takut keberadaanku akan membuat Suci tambah stres. Pergi: aku takut Suci kenapa-kenapa. Tapi kupikir, kehadiranku juga tak berpengaruh apa pun untuk kegalauan yang tengah ia rasakan, malah bisa memperkeruh pikirannya. Jadi ya sudahlah. Aku memutuskan untuk pergi dulu dari sana.
"Tenangkan pikiranmu," kataku. "Pikirkan ini baik-baik. Kamu punya hak untuk tidak percaya padaku dan kamu berhak untuk mengambil keputusan apa pun, oke? Sekarang aku akan pergi dulu. Tolong tetap hubungi aku kalau ada apa-apa padamu. Tapi yang pasti, aku sangat mencintaimu. Tolong jaga baik-baik anak kita. Permisi."
Aku berdiri, melangkah pergi tanpa keperdayaan.
__ADS_1