
Well, kuturuti apa pun kemauannya asal dia berjanji bahwa dia akan makan setelah tes darah nanti.
Puji syukur, tes darah di dua rumah sakit lainnya pun menunjukkan hasil negatif. Kami tinggal menunggu hasil uji Sel-T dan konfirmasi dokter dari tiga rumah sakit. Dan, seperti janjinya, Suci menepati janji itu kepadaku, dia mau makan. Dan itu menjadi aji mumpung bagiku, di restoran, kujejali dia dengan makanan-makanan yang banyak, mumpung dia mau makan. Dan setelahnya, kuminta ia untuk meminum pil tidur. Aku mau dia istirahat, dan otaknya jangan berpikir terlalu keras.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan untuk anak kita, hanya itu," kataku.
Dia mau menurut. "Tapi kita pulang ke hotel, ya? Aku tidak mau orang-orang di rumah melihatku seperti ini."
"Ya. Apa pun untukmu."
Ya Tuhan... dia malah semakin ingin menangis. "Aku ingin hidup lebih lama," rengeknya. "Aku mau terus disayang kamu. Mau ketemu anakku. Aku belum mau mati...."
"Ssst... kita pulang sekarang," ajakku.
__ADS_1
Kukeluarkan dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan kutaruh di atas meja. Aku bangkit, menggenggam tangan istriku yang masih gemetar dan menggandengnya ke mobil. Tanpa kata-kata, kulajukan mobil menuju hotel. Sesungguhnya tenggorokanku terasa sakit, dan napasku terasa sesak. Bukan karena HIV, tapi karena kesedihan dan kecemasan yang melanda istriku. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak bisa membujuknya, apalagi menghiburnya.
"Boleh tidak, kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan?" tanya Suci sesampainya kami di kamar hotel.
Aku menggeleng. "Aku ingin kamu istirahat. Titik! Dan jangan bantah aku!"
"Bagaimana kalau kita tidak punya waktu banyak? Bagaimana kalau kita mati dalam waktu cepat?"
Aku menatap tajam padanya. Nelangsa.
"Diamlah. Tolong?"
"Tapi aku...."
__ADS_1
"Kamu mau apa?"
"Aku mau minum obat, mau mandi, dan yang terpenting, aku ingin bercinta denganmu. Beri aku momen yang manis. Cintai aku dengan kegilaanmu. Aku ingin malam ini milikku. Please...?"
Demi Tuhan dia membuatku menangis. Aku mengangguk, mengambilkan obat tidurnya plus segelas air putih untuknya. Setelah Suci meminum obat itu, ia melepaskan pakaiannya sendiri, pakaianku, dan menarikku ke kamar mandi. Dia yang memulai adegan bercinta yang menyedihkan ini. Sambil menangis, dia mencoba menikmati -- seolah -- sedang menikmati apa yang masih bisa ia nikmati di akhir hidupnya dan ia akan mati besok.
Sungguh, sakit sekali hatiku menyaksikan air matanya, juga senyum yang coba ia kembangkan dari bibirnya yang menahan getir.
"Aku ngantuk," keluhnya. Tubuhnya melemah, dia lunglai dalam pelukanku.
Dan aku semakin teriris sembilu. "Tidurlah," kataku. "Tidur, Sayang. Tidurlah yang nyenyak."
Tak bisa kupungkiri, aku marah, aku menangis, tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktu. Aku juga ingin tertawa. Ingin sekali rasanya menertawai wanita muda yang lugu ini. Permintaannya yang aneh seolah dia benar-benar ingin menyambut kematian itu.
__ADS_1
Sambil menggeleng-geleng, kugendong tubuh polosnya yang masih basah. Kududukkan sementara ia di sofa sembari mengeringkan tubuh dan rambutnya, lalu menggendongnya lagi ke tempat tidur dan segera menyelimutinya.
Dengan ketidakberdayaanku, kupeluk istriku dan aku berbaring di sampingnya. "Selamat tidur, Sayang." Kucium keningnya dengan sayang. Sungguh getir, aku berbisik di telinganya, "Kita akan baik-baik saja. Pasti. Tuhan Maha Baik, bukan?"