
Anak-anak asuh, atau keponakan-keponakan Lady Sandra di tempatkan di panti yang sama di tempat di mana dulu Mama Sania mengadopsiku. Entah kebetulan atau takdir seperti apa yang ditentukan oleh Tuhan, tapi yang pasti itu akan mempermudahku untuk melihat sendiri keadaan mereka.
Sungguh, apa yang kemarin menimpa Lady Sandra itu sedikit mengusikku. Meski ada kemungkinan kecelakaan yang menimpanya adalah suatu kecelakaan murni, tapi kemungkinan yang lebih besar bahwa dia mengalami kecelakaan atas dasar karena dia tidak awas dan tidak berhati-hati gara-gara aku mengejarnya, itu berarti kecelakaan ini juga disebabkan olehku meski aku tidak berniat untuk membuatnya celaka -- intinya tetap -- peristiwa kecelakaan ini berhasil mengusikku, membuatku merasa bersalah. Namun, di sisi lain, aku sangat berusaha untuk bersikap biasa saja di depan anggota keluarga. Terkecuali di depan Suci, meski aku sudah berusaha setenang mungkin, tapi istri cantikku itu tahu benar bagaimana aku. Sehingga pada malam harinya dia mengajakku untuk lekas-lekas ke kamar, kemudian dia bertanya, "Ada apa?" tanyanya lembut. "Kamu kenapa?"
Aku menggeleng.
"Jangan bohong, Mas. Ada sesuatu yang tidak kuketahui, ya kan?"
Hmm... dia terlalu mengenalku.
"Aku cinta padamu."
"Aku juga cinta--"
"Kamu tahu itu, kan?"
"Em."
"Sebab itu aku peka. Aku tahu suamiku sedang menyimpan beban dariku, ya kan?"
Aku mengangguk.
"Mas, aku sangat mencintaimu, kamu tahu, kan? Sebab itu aku sangat peduli padamu."
Ya Tuhan, sesak. "Aku tahu, Sayang. Tapi--"
"Apa kamu masih mencintaiku?"
__ADS_1
"Sayang... pertanyaan--"
"Jawab saja, Mas."
"Ya, aku cinta, masih cinta. Pertanyaanmu itu--"
"Berbagi denganku. Apa pun yang kamu rasakan, apa pun beban yang kamu simpan, berbagi denganku. Itu gunanya aku sebagai istri, teman hidup untukmu."
Aku mengangguk. "Aku...."
"Jangan bilang kamu tidak mau membebaniku atau apa pun alasan yang sejenis. Aku lagi hamil, aku tahu itu. Tapi itu bukan menjadi alasan peranku untuk... kamu mengerti itu, kan? Tolong, berbagi denganku."
Ya ampun, kasihan sekali dia. Diamku justru membuatnya terbeban. Tapi lucu juga, dia menggemaskan di saat dia sebegitu pedulinya terhadapku. Dia membuatku sedikit tersenyum. "Aku tidak apa-apa," kataku akhirnya. "Aku cuma kelelahan."
"Kalau begitu aku pijit."
"Aku pijit. Jangan menolak."
"Sayang... kita istirahat. Oke?"
"Kamu itu--"
"Besok kita bicara lagi, ya?"
"No! Kamu kan--"
"Besok."
__ADS_1
"Mas...."
"Oke?"
"Em."
"Jangan cemberut."
"Iya, tapi janji, besok ceritakan--"
"Iya, Sayangku...."
"Mas...."
"Istirahat."
"Pasti sulit." Suci menggeleng. "Baik kamu ataupun aku, kita pasti akan susah tidur kalau keadaan kita masih begini. Karena aku tahu kalau kamu menyimpan sesuatu. Kamu merahasiakan sesuatu dariku."
Buah simalakama, aku tahu itu. Cerita pada Suci, atau tidak bercerita sama sekali, itu akan sama saja hasilnya. Tapi sungguh aku lelah, ada perasaan yang membuatku, hatiku, dan lidahku tak mampu lagi untuk bercerita.
Well, aku mengangguk lagi. "Besok aku akan cerita. Aku janji. Tapi malam ini aku butuh istirahat, dan... aku butuh obat tidur. Kamu juga, kurasa. Lebih baik begitu, kan? Supaya kita sama-sama bisa istirahat."
Oh, akhirnya Suci setuju. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Tubuhku, juga pikiranku butuh istirahat, pun Suci. Pikiranku tidak boleh terus larut dalam perasaan bersalah, dan aku tahu persis dengan bagaimana aku yang sekarang -- aku tidak bisa bahagia di atas kematian seseorang, atau bersikap biasa saja seolah kecelakaan tragis itu tidak disebabkan olehku. Aku tidak bisa. Sebagaimana Suci yang juga tidak akan bisa tenang sebelum dia mendengar cerita dariku, begitu pula pada saat ataupun setelah dia mendengar ceritaku nanti, pasti dia juga akan merasa terbeban.
Tidak ada solusi terbaik selain istirahat, biar saja waktu menyetir takdir ini ke arah mana. Dan pada akhirnya, kami membutuhkan obat tidur.
Jaga kewarasanmu, Rangga. Lempengkan otak. Wajib!
__ADS_1