Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Perempuan Sinting


__ADS_3

Suci tidak suka jika kulitnya lengket meskipun ia suka aroma tubuhku yang berkeringat. Tapi untuk dirinya sendiri, dia tidak akan tahan kalau tidak membersihkan kulitnya dengan air. Bahkan kalau bisa, dia akan menyempatkan diri untuk mandi. Tidak terkecuali saat ini, dia buru-buru membenahi pakaiannya, membawa pakaian ganti dan seperangkat alat mekapnya. Dengan percaya diri, dia pergi duluan ke rumah Dirgantara dan disambut oleh Mama Rhesmi dan langsung menumpang ke kamar mandi. Sementara aku mesti sibuk dengan seabrek barang belanjaan yang kemarin ia belikan untuk Rhea. Dan persis di saat aku membuka pintu belakang mobil, tahu-tahu Rhea berdiri di belakangku dan dengan lancangnya ia memelukku.


"Yang... tidak jadi mandinya?" tanyaku tanpa menoleh.


Sial! Kukira itu Suci. Karena tidak ada jawaban, aku pun menoleh dan mendapati mantan istriku dengan air matanya. "Biarkan aku memelukmu sebentar. Aku kangen."


"Lepas," kataku masih menahan sabar. "Jangan sampai aku bertindak kasar."


Dia menggeleng. "Sebentar saja, Ngga."


Well, yang model begini tidak boleh dikasih hati. Kulepas tangannya dengan kasar dari tubuhku. Dia perempuan, dia bahkan tidak memiliki setengah dari kekuatanku.


"Tolong, jaga sikap! Ingin tetap hidup, kan?"


"Ngga--"

__ADS_1


"Diam!"


"Aku kangen kamu...."


"Aku tidak, dan aku tidak bertanya."


Dia terisak semakin jadi. "Aku menyesal dengan semua kesalahanku yang dulu. Tolong, beri aku kesempatan?"


"Sinting!"


"Please, Ngga. Demi anak kita?"


Perempuan itu tidak berubah. Dia tetap jalan* yang tidak bisa menghargai orang lain.


"Aku mohon, atau mungkin... kita coba dulu."

__ADS_1


"Apanya yang--"


"Sentuh aku. Siapa tahu dengan begitu kamu...."


Tanganku berhenti di udara. Aku hampir saja menampar perempuan itu kalau tidak bisa menahan diri. Aku tidak ingin membuat Suci kecewa dengan sikap kasarku pada wanita yang ia kira tengah mengandung anakku.


"Dengar aku," kataku. "Berubahlah. Seorang wanita itu wajib punya harga diri yang tinggi. Ingat, Rhe. Aku sudah pernah memberikanmu status terhormat, dari perempuan yang sudah tidak suci lalu menyandang status istri. Tapi kamu menyia-nyiakan itu. Kamu mengecewakan aku, dan kamu juga menghancurkan kehidupan anak dan istrinya Biktor. Dan sekarang kamu mau kembali melakukan hal yang sama lagi? Hmm? Gila kamu, ya. Kalau bukan karena Mama Rhesmi dan Suci, sudah kukirim kamu ke alam yang sama dengan lelaki berengsek itu."


Tidak berpengaruh. Dia masih menangis, yang menurutku hanya akting semata. "Please...," katanya super pelan, "kita coba dulu, ya? Kamu ingat, kan, masa-masa kita dulu? Aku bisa lebih dari Suci. Kamu bisa lebih puas denganku."


Kali ini aku terkikik-kikik. Ingin rasanya aku tertawa keras tanpa perlu kutahan. "Dia memang tidak sepiawai kamu. Kenapa? Karena dia belum banyak pengalaman. Kamu tahu, dia perawan. Dan bukan tubuh yang bisa dinikmati oleh pria lain di belakang suaminya."


"Siapa yang bisa menjamin itu?"


"Aku. Aku mempercayai istriku sepenuhnya. Seratus persen."

__ADS_1


"Manusia bisa berubah, Ngga. Jangan naif. Bisa jadi dia juga kucing-kucingan di belakangmu. Mungkin saja dia berbagi tubuh dengan orang-orang di sekitarmu, ya kan? Dan ya, pasti ada banyak bodyguard di sekelilingnya. Barangkali dia bermain dengan salah satu dari mereka saat kamu tidak ada. Siapa yang tahu."


Hah! Dia sedang mencoba menggoyahkan keyakinanku terhadap Suci. Tidak akan mempan!


__ADS_2