
Terkuras tenagaku karena pelampiasan rindu yang menggebu. Aku yang baru selesai mandi kembali berkeringat. Peluh yang nikmat dan dipenuhi rasa syukur. Kepuasan dahaga setelah berhari-hari tersiksa oleh dendam yang tak berujung. Tapi hari ini hormon bahagia menyeruak keluar dari jiwaku tatkala melihat Suci bahagia, senyum cantiknya mengembang sempurna dan menyejukkan mata dan hatiku.
"Terima kasih, Sayang. Kau membuatku kembali merasa Suci." Aku menghempaskan tubuhku di samping istriku setelah mendaratkan satu ciuman hangat di keningnya.
Kami terlentang, mengatur napas masing-masing sementara jemari kami saling bertautan.
Sejenak kemudian Suci menoleh, masih dengan senyuman cantiknya. "Aku mencintaimu. Suci punya cinta yang besar untuk Mas Rangga. Cinta yang suci."
Aku tersenyum kepadanya, senyuman dengan rasa syukur. "Terima kasih, Sayang. Aku juga mencintaimu."
"Jangan menyembunyikan apa pun lagi, ya?"
"Em, ya, Sayang. Pasti."
"Janji?"
"Janji, Yang. Aku janji. Sumpah demi pernikahan kita."
__ADS_1
Aku mendekat ke perutnya, mencium anakku. Ingin memeluknya lama-lama kalau saja ibunya tidak merengek: rengekan manjanya yang khas. "Anak kita pengertian, Mas. Dia tahu mamanya kangen sekali pada papanya. Peluk aku, ya?"
Bagaimana bisa aku menahan senyum, istriku yang cantik itu luar biasa pintar menaburkan bunga-bunga cinta yang rasanya bermekaran di mana-mana, memenuhi ruang kamar yang hangat ini.
"Baiklah, Papa peluk Mama dulu, ya, Sayang." Kukecup lagi anakku lewat perut ibunya, lalu beringsut, menarik selimut, dan menyandarkan Suci ke dadaku.
Dengan jemari lembutnya, Suci menelusuri namanya di dadaku. "Kita cinta sejati, kan, Mas? Kita tidak akan terpisah, apa pun yang terjadi, ya kan?"
"Aamiin, kecuali oleh kematian."
"Aku sedang tidak membicarakan soal kematian."
"Kita tidak akan pernah terpisah, apa pun masalah yang terjadi di antara kita. Sebesar apa pun masalah itu. Iya, kan? Aku akan selalu ada di sini, asalkan kamu selalu setia dan selalu mencintaiku. Itu saja."
Terenyuh hatiku karena kata-katanya. Betapa suci cintanya kepadaku. "Aku bodoh kalau mengkhianati istri sebaik kamu. Kamu sangat sempurna. Dan, ya, aku juga memastikan kalau kita tidak akan terpisahkan sebesar apa pun masalah yang akan terjadi. Aku tahu kamu tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku percaya."
Sampai detik itu dan seterusnya aku lega: tidak akan pernah ada masalah apa pun yang bisa mengoyakkan cinta di antara kami.
__ADS_1
"Omong-omong, tolong ceritakan padaku bagaimana kronologisnya? Detail!"
Aku menatapnya, dan bertanya apa dia yakin mau mendengar cerita menjijikkan itu secara detail?
"Aku sanggup, Mas. Tidak akan terjadi apa-apa padaku ataupun anak kita. Kami kuat. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya dan ingin menilai, kira-kira apa tujuannya, siapa dalangnya, atau apa pun. Tolong?"
Dia terlalu berapi-api. Aku masih menatapnya dan membiarkannya dengan kalimat-kalimatnya yang super panjang itu. Aku berusaha tenang supaya ia juga tenang. "Jangan berapi-api," kataku kemudian. "Ingat emosimu harus selalu stabil. Ingat kandungan."
Berusaha tenang, Suci mengangguk-angguk dan mengiyakan. "Maaf," katanya. Dia menghela napas dalam-dalam, lalu memintaku mencium bibirnya dulu, plus di setiap jedah ceritaku nanti.
Gagasan yang bagus. Dengan begitu Suci bisa mendengarkan ceritaku dengan lebih tenang. Ya, walaupun masih ada cela baginya untuk sedikit emosi, tapi ciumanku langsung mendarat dan membekap mulutnya. Dia tidak jadi emosi. Meski... durasi ceritaku menjadi lama, lebih lama dari durasi bercinta kami di babak pertama kami tadi, hingga perlu extra part pada babak kedua. Tidak masalah, demi kestabilan emosinya, juga demi anakku yang ada di rahimnya. Jagoan kecilku, Sanjaya Junior.
"Baiklah, kalau menurutmu si Lady itu tidak sepenuhnya bersalah, aku akan percaya. Mungkin memang begitu. Mungkin dia berada di posisi serba salah karena di bawah ancaman seseorang. Tapi... satu hal, jangan pernah kamu tunjukkan siapa orangnya kepadaku. Aku takut saat melihat wajahnya nanti aku bisa terbayang saat dia memakaimu."
Aku sependapat. "Pasti," kataku. "Kamu tidak perlu melihatnya. Dan sayangnya juga perempuan itu seperti ditelan bumi. Anak buahku tidak bisa menemukannya di mana pun. Mungkin juga dia sudah mati. Bisa jadi, kan?"
Yap. Pencairanku tidak menghasilkan informasi apa pun. Siapa dalangnya?
__ADS_1
Roy, atau Raymond?
Tapi keduanya sama-sama tidak menunjukkan gelagat sedikit pun.