Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Luapan Emosi


__ADS_3

"Dasar murahan! Jangan panggil aku papa! Dasar tak tahu diuntung!" teriak Reno Dirgantara. Kemarahannya memuncak, wajahnya merah padam.


Rhea mengkeret, terhuyung ke ranjang, dan langsung di dekap sang ibu.


"Hentikan! Jangan sakiti anakku!"


"Minggir!"


"Jangan!"


"Hentikan!" teriakku.


Aku mencengkeram pergelangan tangan Reno dan menariknya keluar.


"Lepaskan! Anak itu harus diberi pelajaran!"


Aku geram dan hendak melayangkan tinju, tapi untungnya aku masih bisa mengendalikan diri. Kuturunkan tangan yang mengepal di udara. "Berhenti menyiksanya," kataku. "Ayah macam apa, sih, Anda ini? Apa Anda tidak kasihan melihat darah daging Anda sendiri?"


Tak terima dimarahi, Reno melotot dan mengacungkan jari ke arahku. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengeran* marah, kemudian pergi.


"Dia sudah pergi," kataku saat aku kembali ke kamar. "Aku juga mau pamit. Masih ada urusan."


Mereka berdua mengangguk, lalu sang ibu mengucapkan terima kasih kepadaku. Sungguh itu terasa seperti sebuah tamparan. Aku tidak layak menerima ucapan terima kasih itu. Sangat tidak layak.


"Kamu sudah meminta maaf, Nak?"


Rhea mengangguk, kemudian menggeleng. Lalu ia memberanikan diri menatapku. "Aku minta maaf," katanya.

__ADS_1


Aku hanya balas mengangguk. "Permisi," kataku, lalu segera keluar.


Tetapi...


"Tunggu," panggil Rhea. "Aku mau bicara."


"Ada apa?"


"Kita bicara di luar, please?"


Well, aku sengaja berjalan duluan dan menuju mobilku. "Katakan, ada apa?"


"Aku sedang hamil."


"Lalu?"


Ya ampun... dia menanyakan hal itu kepadaku?"


"Aku janji, Rangga, aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku... aku akan mencintaimu, setulus hatiku. Aku janji. Please? Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, ya?"


Yeah, aku tersenyum cemerlang, lalu maju dan mendekat. Kutatap perempuan di depanku itu dengan lembut dan kubelai rambutnya dengan mesra. Seperti dulu. Dia tersenyum sebagaimana mestinya, sebagaimana seseorang yang mendapatkan kesempatan kedua. Kemudian...


"Auw! Aduh!" Rhea tersentak, jelas kesakitan saat aku menarik rambutnya dengan kasar. "Sakit, Ngga. Sakit. Ampun...."


Huh! Dia memang tidak pernah memahamiku. Dasar wanita jalan*!


"Dengar," kataku, "aku bukan lagi Rangga yang mencintaimu. Jadi, jangan melewati batas. Paham?"

__ADS_1


Kembali merasa kesal, aku pun segera meninggalkan tempat.


Sepulang dari kediaman Dirgantara, aku langsung mendatangi rumah Billy. Setelah pintu terbuka dan pria itu berdiri di depanku, aku langsung menyerang dan melumpuhkannya, lalu mengamankan ponsel dan senjatanya. Billy dengan kebingungannya pun bertanya ada apa dan apa kesalahannya.


Aku menatap marah pada Billy. "Kapan terakhir kamu meniduri Indie?" tanyaku, berkacak pinggang di hadapannya.


"Maaf, Tuan, saya... emm... hanya sewaktu di Singapura."


Berengsek! Aku pun melayangkan tinju keras-keras ke wajahnya.


Billy terhuyung. Hidungnya berdarah dan matanya berkunang-kunang, ia memegangi pelipis dan mengerjap-ngerjapkan mata, namun ia tetap mampu menjaga keseimbangan badan sehingga tidak jatuh.


"Bicara jujur, Bill!" raungku. "Sewaktu kamu menemukannya kamu ajak dia ke sini, kan?"


Billy terkejut, dengan ragu dia mengangguk. "Maafkan saya, Tuan."


Bug!


"Berani-beraninya kamu!" kataku berang.


Aku melayangkan sebuah pukulan lagi. Kali ini membuat Billy terduduk di lantai. Wajahnya bersimbah darah, kepalanya terlihat benar-benar pening. Ia memberanikan diri membalas tatapanku dan berusaha bangkit. "Mohon ampun, Tuan. Saya... saya khilaf. Saya tidak sengaja melakukan--"


"Kurang ajar!"


Bug!


"Khilaf katamu? Heh?"

__ADS_1


__ADS_2