Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Support Istri


__ADS_3

Walau berat, aku meninggalkan kamar hotel dan mengajak Suci ke kantor. Dengan semangat dan keceriaannya, Suci meminta Karin memanggil beberapa orang office girl untuk membersihkan ruang pribadiku. Ruangan yang sudah lama terkunci. Aku tidak pernah lagi membukanya sejak peristiwa pelecehan sialan itu.


"Jangan diingat-ingat," kata Suci. Dia duduk di depan meja kerjaku sementara menunggui para office girl itu bersih-bersih. "Fokus saja pada pekerjaanmu, ya? Kamu bisa."


Aku mengangguk walau sulit rasanya untuk fokus pada pekerjaanku -- pada berkas-berkas di atas meja kerjaku. Kusandarkan tubuhku ke belakang seraya mengangkat dokumen dan membacanya, membaca baris demi baris tulisan yang rasanya tidak bisa kumengerti, bukan karena sulitnya, tapi karena aku tidak bisa mencerna apa yang kubaca sehingga itu semua tidak masuk ke otakku.


"Tidak bisa, Yang. Aku tidak bisa berkonsentrasi." Kulempar dokumen itu ke atas meja. "Ada kamu. Aku memikirkan perasaanmu."


Suci menatapku dengan prihatin. "Tunggulah sebentar lagi, ya." Dia berdiri, mengecek pekerjaan karyawan, dan menyuruh mereka supaya cepat-cepat menyelesaikan tugas bersih-bersih itu.


Dalam beberapa belas menit kemudian mereka sudah selesai, para office girl itu pun segera kembali untuk mengerjakan pekerjaan lain.


"Nah, ayo. Biar kubawakan dokumen-dokumen itu."


Suci mengajakku masuk ke sana, dia menaruh dokumen di tangannya itu ke meja di depan sofa, lalu ia menyemprotkan parfumnya, aroma khas melati pun menyeruak ke seluruh sudut ruangan.

__ADS_1


"Hanya aromaku yang boleh ada di sini." Dia menaruh kembali parfumnya, lalu menghampiriku. Dengan kedua lengan melingkar di pinggangku, dia menatap mataku dalam-dalam. "Jangan khawatirkan perasaanku. Aku baik-baik saja. Dan kamu, kamu jangan mengingat-ingat lagi kejadian itu. Kalau pun teringat, alihkan perhatianmu ke hal lain. Ada aku di sini."


Oh, Tuhan... Suci berjinjit, dia mencium bibirku dan dengan terampil membuka jasku.


"Kamu ingin bekerja dulu, atau...?"


Aku menginginkannya. Dirinya. Sosok istri yang begitu luar biasa. Tapi untuk bercinta di atas ranjang itu...


"Kita tidak perlu ranjang baru. Baru ataupun yang lama, yang perlu dibersihkan itu pikiranmu."


Aku tahu. Aku tahu itu.


Yeah, lagipula si Lady itu tidak berbaring di sampingku. Aku terlalu banyak berpikir hingga tak menyadari kancing-kancing kemeja-ku sudah terbuka semua.


"Kamu ingin bekerja?"

__ADS_1


Dia melepaskan kemeja-ku, mengambil hanger di belakang pintu dan menyampirkan kemeja dan juga jas-ku di sana, lalu ia mengambil dokumen-dokumen yang tersusun di atas meja, mengajakku ke ranjang dan menaruh dokumen itu di atas tempat tidur.


"Yakinlah kalau aku baik-baik saja. Perasaanku sama sekali tidak terluka, setidaknya lukanya sudah sembuh. Sekarang kamu bisa bekerja. Demi kita, demi aku dan anakmu. Oke? Atau perlu sambil kupijat?"


Cepat-cepat aku menggelengkan kepala. Menolak. "Tidak perlu," kataku. Aku melepas sepatuku, kemudian duduk di ranjang, kuambil dokumen-dokumen itu untuk kembali membacanya. Suci ingin aku kembali seperti sediakala. Maka itu yang akan kulakukan. "Terima kasih, Sayang."


"Yap. Aku yakin kamu bisa berkonsentrasi. Cepatlah bereskan dokumen-dokumen itu karena kamu punya janji yang harus kamu tepati siang ini." Dia merebahkan diri di sampingku, meraih bantal dan tersenyum.


Aku menggeleng-geleng dan balas tersenyum. Begitu pengertiannya dia, dukungannya sungguh luar biasa. Cara yang sangat sederhana namun memancarkan energi yang sangat positif.


"Yang?"


"Emm? Ada apa?"


"Rasanya aku belum bisa berkonsentrasi, tapi kali ini karena hal lain."

__ADS_1


Haha! Dia terkekeh-kekeh, pun aku. Dengan bahagianya, kusingkirkan berkas-berkas kerjaku dan aku bertelungkup di atas tubuh cantiknya. Tidak perlu menunggu siang untuk menunaikan janjiku.


"Dasar suami mesuuuuuuum...!"


__ADS_2