
"Mohon ampun, Tuan." Billy berusaha bangkit. "Beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Saya bisa jelaskan semuanya, saya tidak punya niat buruk sedikit pun pada keluarga Tuan. Saya berani sumpah, saya tidak sangaja. Malam itu saya mabuk. Hujan deras. Saya meminum wine untuk menghangatkan tubuh. Tapi... saya khilaf. Sungguh, Tuan, waktu itu saya benar-benar dalam keadaan mabuk."
Aku mendorong Billy mundur sampai punggung Billy membentur tembok dengan keras. Kucengkeram bajunya dan menodongkan pistol ke pipinya. "Tapi kamu tahu dia adik Suci, wanita yang waktu itu akan saya nikahi. Kenapa kamu lakukan itu, Bill?"
Billy terlempar ke lantai akibat dorongan keras dariku. Ia meringis sambil menyeka darah di wajahnya. "Sudah saya katakan, Tuan, malam itu saya mabuk. Melihat Indie malam itu, saya... saya tidak dapat mengontrol diri. Saya khilaf."
"Sekarang dia hamil!"
Billy terbelalak. "Hamil?"
"Ya, dan itu gara-gara kamu!"
Tapi Billy malah menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi, Tuan, itu bukan berarti--"
Aku kembali menodongkan pistol ke pipinya. "Apa? Kamu mau menyangkal kalau itu bukan benihmu? Iya?"
"Bisa jadi, kan, Tuan? Dia--"
__ADS_1
"Diam!" bentakku. "Jangan sampai peluru ini bersarang di kepalamu."
"Tuan, tolong dipikirkan lagi matang-matang. Saya akan bertanggung jawab kalau--"
"Dia menstruasi sebelum bertemu denganmu, dan dia tidak berhubungan intim dengan siapa pun setelah malam itu. Mau berkelit apa lagi kamu?"
Billy mengangkat tangan, menyerah. "Baiklah," katanya. "Baiklah. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan menemui Indie dan orang tuanya."
"Bang Bill, aku sudah membereskannya. Perempuan itu sudah...." Diego tiba-tiba muncul, masih terengah-engah. "Astaga... kenapa? Ada apa ini, Bos?" tanyanya. Pandangannya beralih ke Billy yang masih terduduk di lantai dan wajahnya yang bersimbah darah.
Aku menatap kepada Haris. "Bawa dia," kataku
Aku mendelik. "Diam! Atau mau saya hajar juga?"
"Oke, oke. Sabar, Bos." Diego meraihnya, membantu Billy berdiri dan membawanya ke mobil. "Dia tidak akan dibunuh, kan?" bisiknya pada Haris.
Haris hanya mengedikkan bahu. "Semoga tidak. Kalau dia menurut pada Bos, dia akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Dia akan dibawa ke mana?"
"Ke rumah Bos."
"Oke. Nanti tolong obati dia, ya, Bro?"
Haris hanya mengangguk, menutup pintu di samping Billy dan masuk ke bagian kemudi, sementara aku duduk di samping Billy.
"Kamu asisten pribadi saya, sekaligus kaki tangan saya. Saya sangat mempercayaimu, tapi kamu malah menyalahgunakan kepercayaan saya. Miris. Kamu mencoreng nama baik saya di mata keluarga istri saya. Heh! Keterlaluan!"
Aku merasa kesal yang teramat, sementara Billy hanya menunduk, tak berani lagi menyahut. Sungguh, tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku kalau hubungan ini akan berubah nama.
Yeah, jalan hidup memang tak pernah terduga. Siapa yang menyangka kami akan menjadi saudara ipar?
"Ya ampun, Mas. Kenapa Billy sampai babak belur begitu?" tanya Suci setibanya kami di rumah.
Aku mendengus. "Itu belum seberapa. Lagipula dia pantas menerimanya," kataku.
__ADS_1
Sementara di saat bersamaan, Indie dengan rasa cemasnya -- dengan takut-takut melihat ke arah Billy. Selebihnya, dia hanya mampu menundukkan wajah di depan lelaki yang sudah menghamilinya itu.
"Maaf, Tuan. Boleh saya bicara empat mata dengan Nona Indie?"