Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Test Ketulusan


__ADS_3

Matahari sudah terbenam di balik taman dan rumah hampir satu jam yang lalu. Kini langit sudah gelap dan bertabur bintang. Tidak hanya tiang-tiang lampu, tiap pohon juga diterangi dari bawah dengan lampu berbagai warna. Begitu indah hingga aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan ke taman tempat pesta malam itu diselenggarakan untuk menikmati efek keseluruhan pada lapangan rumput terawat dan kolam yang cukup besar di kejauhan.


Merasa puas dengan pemandangan indah yang baru saja kunikmati itu, aku pun berbalik untuk kembali ke ruang hias, menjemput istriku yang juga menjatahkan dirinya mendapatkan pelayanan mekap dari pihak perias pengantin pernikahan Indie. Aku sudah memperingatkan istri belia-ku itu supaya tidak ke mana-mana sebelum aku sendiri yang menemuinya, menggandengnya, dan berada di sampingnya di sepanjang acara pesta pernikahan Indie dan Billy. Kupikir, karena aku meninggalkannya di ruang rias bersama para perias, juga bersama Indie tentunya, dan beberapa orang pengawal yang berjaga di depan rumah, kupikir itu akan aman. Kupikir di dalam rumah itu aman. Ternyata tidak. Sama sekali tidak. Aku keliru. Sebab, ternyata, Rangga si fotografer sialan itu tetap nekat menemui Suci hingga ke dalam rumah. Mereka berada di depan ruang rias. Berdua.


"Kamu benaran sudah menikah, Ci?" tanyanya.


Kusimpulkan ia baru saja bertemu Suci dan baru mulai bertanya. Awalnya aku ingin menghampiri dan menarik keluar pemuda berkamera itu, tapi tidak jadi. Aku ingin melihat reaksi Suci secara langsung. Bukannya tidak percaya kepadanya, tapi aku harus memastikan sendiri seperti saat aku mengintai Rhea dan Biktor dulu.


Apakah Suci banar-benar tulus mencintaiku, atau selamana ini yany ia tunjukkan hanyalah sekadar kamuflase saja? Aku akan tahu....


Suci mengiyakan. "Benar," katanya. "Sebelas November yang lalu. Kami menikah di kampungku. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Mas Rangga bertanya seperti itu? Kamu tidak percaya?"

__ADS_1


"Apa kamu bahagia?"


"Tentu saja. Malah aku sangat bahagia. Suamiku pria yang baik. Dan dia sangat mencintaiku," Suci menjawab ramah.


"Oh." Rangga melesak kecewa. "Kamu tahu, tidak, kalau dari dulu aku benar-benar naksir berat padamu? Kamu tahu itu, kan?"


Suci menggeleng. "Tidak," katanya enteng.


"O ya?"


"Ya, Ci. Aku--"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Tapi walaupun aku tahu, aku akan pura-pura tidak tahu. Saat itu kamu memilih berpacaran dengan Siska, walaupun kamu tahu banyak orang yang mengira kita berdua pacaran. Yeah, kita sudah putus sebelum jadian. Dan aku, aku sudah sakit hati sebelum kita pacaran. Dan, percaya atau tidak, aku punya batasan-batasan. Anti bagiku merebut kekasih orang."


Rangga menggeleng. "Aku sudah putus dengan Siska. Ingat waktu kita ke Bali dulu? Pulang dari sana aku langsung memutuskannya. Aku ingin mempersiapkan diriku untukmu, Ci."


"Sudah? Dua menitmu sudah habis. Silakan pergi."


"Tapi, Ci, aku belum selesai. Aku mau kamu--"


"Stop! Please, oke? Stop, Mas. Perasaanku ke kamu sudah tidak ada lagi. Kamu mengerti itu? Perasaanku padamu sudah lama mati."


Tidak terima. Si Rangga masih menggeleng-geleng tidak jelas, lalu, dia meraih tangan Suci. Dengan sigap Suci menepisnya.

__ADS_1


"Sori, tapi tolong jangan melewati batas. Jangan kurang ajar, oke? Aku sekarang sudah bersuami dan aku sangat mencintai suamiku. Tolong hormati itu!"


__ADS_2