Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Berbagai Gangguan


__ADS_3

Sesaat setelah masuk ke dalam hotel, seorang karyawan lekas-lekas menghampiri kami. "Siapkan kamar untuk saya," kataku.


Karyawan itu mengangguk, lalu langsung ke meja resepsionis, mengambilkan kunci untukku dan lekas menghampiriku. "Kamar Bapak sudah dibersihkan. Mari, saya antar."


"Tidak perlu. Saya bisa sendiri."


"Mas," bisik Suci, "pesankan cokelat panas."


"Kemarikan kuncinya," pintaku. "Tolong bawakan cokelat panas ke kamar saya. Jangan pakai lama."


"Siap, Pak. Ada lagi yang Bapak butuhkan?" Ia langsung berlalu dengan sedikit tergesa-gesa setelah aku mengeleng.


Suci sangat senang, ini kedua kalinya kami menginap di hotel berdua, walau tanpa kesengajaan dan perencanaan. Namun, sayangnya sewaktu kami di dalam lift, ponselku berdering. Ada panggilan masuk dari Rhea. Awalnya, aku tidak ingin menggubrisnya. Tetapi, karena Suci yang meminta, terpaksa aku harus menggubris perempuan itu mesti hatiku menolak.


"Nanti kutelepon balik," kataku pada Suci supaya ia tidak rewel.


Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di lantai teratas, kami keluar dari lift, dan langsung menuju kamar paling ujung di lantai itu. Kamar favoritku. Tempatku menyendiri -- dulu sekali, sebelum ada Suci. Hanya aku yang boleh menempatinya. Dan ini pertama kali ada perempuan yang menemaniku di sini. Entah, kenapa rasanya menggairahkan memasuki kamar itu bersama Suci. Dan aku langsung berniat menariknya ke tempat tidur seandainya ponselku tak kembali berdering.


"Ada apa?" tanyaku ketus.

__ADS_1


"Mas...," tegur Suci, "jangan ketus begitu pada ibu hamil."


"Maaf, Ngga. Aku cuma mau bilang kalau... semua keperluanku sudah menipis. Bisa...?"


"Besok saya suruh Anne untuk membelikan semua kebutuhanmu. Sudah, ya, Rhe. Saya--"


"Sebentar," potongnya. "Emm... dua hari lagi aku ada jadwal periksa kandungan. Kamu bisa menemaniku, kan?"


Rasa kesal mulai merasuk. "Sori. Saya sibuk. Kamu bisa cek kandunganmu sendiri."


Suci dan Rhea menyahut bersamaan. Mereka sama-sama protes karena penolakanku. Kata Rhea, bulan lalu dia maklum sebab aku sedang sibuk-sibuknya mengurusi keluargaku, tentang Indie dan Billy. "Bulan ini mestinya kamu bisa menemaniku cek kandungan. Ini anakmu, Ngga."


Pun Suci, ia sempat melotot tajam padaku. "Temani," katanya.


"Nanti aku juga ikut."


"Kamu yakin? Aku takut kamu--"


"Tidak apa-apa."

__ADS_1


"Baiklah. Baiklah," kataku. "Nanti saya juga ke rumah sakit."


"Terima kasih," kata Rhea. "Jangan lupa dua hari lagi. Jam dua sore, ya. Aku tunggu."


Tut!


Langsung kuputuskan sambungan telepon sebelum Rhea bicara lebih lanjut.


"Kamu kenapa, sih, jadi orang begitu baik? Dibodohi orang nanti kamunya."


Suci malah terkikik. "Cuma kamu yang bisa membuatku bodoh," katanya. "Bodoh sampai aku cinta mati padamu."


"Bukan waktu yang tepat untuk bercanda."


"Pertanyaanmu yang tidak tepat."


"Hmm. Kenapa kamu baik pada Rhea? Dia itu seperti ular."


Suci menggeleng. "Kamu salah. Aku bukan baik padanya. Tapi pada anak di dalam kandungannya. Siapa tahu itu memang anakmu. Kalau benar, artinya kamu wajib bertanggung jawab dalam bentuk apa pun, ya kan? Aku tidak mau ada penyesalan nanti. Hanya itu. Kamu wajib peduli pada anak itu sampai tes DNA membuktikan kalau itu memang bukan darah dagingmu. Aku tidak akan bawel lagi kalau terbukti itu bukan anakmu."

__ADS_1


Santai sekali caranya menjawab. Kok bisa? Aku berdeham. "Kamu tidak sakit hati? Aku heran, kenapa kamu bisa begitu santai."


"Itu bukan anak hasil perselingkuhan kalian, Mas. Kenapa aku mesti sakit hati?"


__ADS_2