
Sewaktu aku bangun keesokan paginya, Suci tengah berdiri di dekat jendela, menatap ke luar, ke pagi menjelang siang yang gerimis. Sulit untuk tidak melihat arti simbolis dari sikapnya yang memunggungi diriku.
"Selamat pagi, Sayang." Aku beringsut duduk.
"Sudah menjelang siang, Mas."
"Selamat pagi menjelang siang."
"Tidak lucu, Mas."
"Wajar dong. Aku bukan pelawak."
"Terserah kamu sajalah."
"Ada apa? Masih memikirkan yang semalam?"
"Hm, bagaimana aku bisa mengabaikannya?"
"Kamu mau aku menyantuni anak dan istri si bajingan itu? Akan kulakukan asal kamu jangan menyebut-nyebut soal malam itu lagi."
Suci berbalik. "Semua ini membuatku tampak buruk, Mas."
"Aku tahu," kataku dengan tergesa-gesa. "Cobalah memikirkan ini dari sisiku, suami yang selalu membutuhkanmu di sisiku. Dari sisi anak kita kelak yang jika terlahir dan mesti hidup tanpa ibunya, bagaimana? Please, kami tidak bisa jauh darimu. Kami membutuhkanmu, Sayang."
Suci kembali berbalik dan menatap ke luar jendela. "Ya, aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku juga tidak mau berpisah dengan anakku nanti."
__ADS_1
"Nah, begitu. Masa aku harus mencari ibu pengganti untuk anakku."
"Ibu pengganti atau istri pengganti? Hmm? Tapi boleh saja, asal kusunat dulu kamu sampai habis."
"Hah! Tega sekali kamu, Yang. Tapi omong-omong, aku akan berterimakasih kalau aku tidak harus berbicara dengan punggungmu."
Untuk kedua kalinya, Suci berbalik. "Lapar? Mau makan apa?"
"Mau kamu."
"Ayolah... jangan bercanda."
"Serius... aku mau kamu."
"Mas...."
"Tidak."
"Ayolah...."
Aku menepuk-nepukkan telapak tangan ke tempat tidur, mengisyaratkan dia supaya kembali meringkuk bersamaku.
"No," sahutnya masih menolak.
"Hei, tidak boleh menolak permintaan suami seperti itu."
__ADS_1
"Hmm... sablengnya kamu," ujarnya sewaktu akhirnya dia menyerah.
Suci kembali naik ke kasur, merangkak ke dekatku dan aku langsung mendekapnya erat-erat. "Terima kasih, aku mau bicara dengan anakku, ya?"
Dia mengangguk. "Silakan," katanya.
Maka aku pun mengelus perutnya. "Selamat pagi menjelang siang, Jagoan. Ini Papa. Kamu dengar Papa, kan? Baik-baik, ya. Yang sehat, yang kuat. Papa sangat menyayangimu, Nak. Papa menantikan kehadiranmu."
Suci cekikikan.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
Dia menggeleng. "Kamu yang lucu. Janinnya masih sangat kecil. Jantungnya saja belum tentu sudah berdetak. Terus kamu panggil jagoan. Memangnya kamu yakin dia laki-laki?"
"Biar saja. Laki-laki atau perempuan tetap akan kujadikan jagoan. Dan... aku akan terus mengajaknya bicara. Seperti itu, kan, para ayah yang tak sabar menantikan kelahiran anak pertamanya?"
Senyum manis istriku mengembang juga akhirnya. "Iya, Mas. Aku senang kamu sangat antusias."
"Maka dari itu, aku mau kamu selalu di sini. Aku mau terus mendampingimu, bersama anak kita. Aku mau tiap hari memberikan perhatianku pada kalian. Tolong, jangan tinggalkan aku, ya?"
Seperti perempuan-perempuan yang sering memanfaatkan air mata, lelaki juga bisa. Aku contohnya. Dengan mata yang berkaca, Suci tidak akan pernah tega membiarkan aku merasakan keperihan-keperihanku seperti di masa lalu. Dia akan tersentuh kalau aku memelas bahkan mengiba kepadanya.
Akhirnya dia pun mengangguk. "Kami akan selalu di sini. Bersamamu. Aku janji."
"Trims, Sayang."
__ADS_1
Aku tersenyum, dan ini saatnya merebahkan tubuhnya. Kemudian, kutarik selimut hingga menutupi kepala. Pura-puranya masih gelap. Suci pun jadi terkikik-kikik di dalam selimut. Tentu saja, sekarang giliran mamanya si dede yang mendapatkan perhatian ekstra. Lagipula di luar sana sedang gerimis. Cuaca pagi ini sungguh dingin. Istriku nampaknya sangat perlu dihangatkan.