Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Ketakutanku


__ADS_3

Tetapi, itu tak berarti semuanya baik -- karena hatiku dalam keadaan tidak baik. Betapa berpengaruhnya kejadian itu terhadap kehidupanku. Setelah keluar dari rumah sakit, aku terus-terusan merasa gusar. Ingatan-ingatanku tentang kejadian itu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rahasia yang kusembunyikan dari Suci membuatku merasa seolah aku sedang berkhianat, padahal tidak sama sekali. Tapi aku tetap tidak bisa jujur. Dan hal yang paling parah adalah karena aku merasa kotor, aku merasa diriku tak pantas untuk menyentuhnya. Seolah aku akan menularkan penyakit kepadanya atau sekadar membuatnya ikut kotor dan tak suci lagi seandainya aku bersetubuh dengannya. Akhirnya, lambat laun Suci pun mulai curiga. Kami yang biasanya rutin bercinta, tapi sekarang aku bahkan tak menyentuhnya selama berhari-hari.


Sakit. Perih, ketika Suci bertanya kenapa.


"Aku hanya tidak mau kandunganmu kenapa-kenapa."


"Kamu bohong, Mas. Aku tahu kamu tidak jujur, ya kan?"


"Yang, jangan menangis. Aku tidak bisa melihatmu sedih."

__ADS_1


"Makanya jelaskan. Jujur supaya aku tidak berpikir yang tidak-tidak."


Aku melengos, menyembunyikan wajahku seperti yang kulakukan belakangan ini.


"Kamu jahat, Mas. Kamu membuatku tertekan. Aku merasa kamu berubah. Apa karena aku hamil? Bentuk badanku mulai berubah? Atau karena aku tidak bisa bercinta dengan ekstra? Jawab aku! Atau jangan-jangan kamu punya perempuan lain? Kamu sudah puas di ranjang lain, iya?"


"Jangan berpikir negatif, ya?" kataku lemah. "Mulai besok kamu ikut aku ke kantor, kamu bisa lihat, kamu bisa pantau kalau aku hanya di kantor seharian dan tidak pergi ke mana pun."


Dia menggeleng. "Bisa jadi kamu seharian di kantor. Mungkin kamu tidak berbohong soal itu. Tapi, mungkin saja, kan, ada yang datang ke sana? Ada yang memuaskanmu di ruang pribadimu? Hmm?"

__ADS_1


Aku tidak bisa menjawab. Itu tidak benar, tapi juga tidak salah sepenuhnya.


Aku tidak bisa menyentuhmu sebelum aku jujur kepadamu, Sayang. Tapi aku juga tidak bisa jujur. Aku takut ini akan berdampak buruk pada kandunganmu. Hanya itu.


Tetapi pada akhirnya, mungkin inilah saatnya bagiku untuk jujur. Siap tidak siap aku mesti menanggung segala risikonya. Aku lebih takut Suci stres karena prasangka-prasangka buruknya terhadapku.


"Sini," kataku. Aku menggiringnya, menyuruhnya duduk di sisi tempat tidur, lalu aku berlutut di sana, kusurukkan wajahku di atas pangkuannya. Dan, kurasakan jemarinya menyentuh lalu mengelus kepalaku.


Tetapi, Suci malah semakin terisak. "Aku tahu," katanya. "Belakangan ini, hampir setiap malam kamu terbangun, kamu termenung sendiri. Dan ketika kamu kembali ke tempat tidur, kamu selalu tidur di sisi perutku, aku tahu kamu memelukku setiap malam. Tapi kenapa? Jangan buat aku bertanya-tanya, Mas. Kesalahan apa yang telah kamu lakukan sampai-sampai kamu jadi bersikap seperti ini? Kamu menyesal, kamu terpuruk, kamu sangat merasa bersalah. Tapi, apa pun itu, aku bisa menilai kalau kamu ingin memperbaiki semuanya, ya kan? Kamu ingin mempertahankan keluarga kita. Aku tahu itu, kamu ingin menjaga keutuhan rumah tangga kita. Tapi bukan begitu caranya. Bukan dengan terus-terusan merahasiakan masalah itu dariku. Percuma, kamu tidak akan tenang. Iya, kan, Mas? Aku benar, kan? Jadi sebaiknya kamu terbuka padaku. Jujur saja, ada apa? Aku mohon beritahu aku, Mas...."

__ADS_1


__ADS_2