
Pernikahan adik perempuan Suci akan berlangsung pada akhir pekan kedua bulan Desember dan merupakan sesuatu yang selama berhari-hari sudah ia tunggu-tunggu. Suci ingin ikut terlibat dalam segala persiapan itu. Meski hanya pernikahan sederhana dan undangan yang tak sampai ribuan, pernikahan itu haruslah menjadi momen yang tak terlupakan bagi sepasang pengantin yang akan segera mengarungi bahtera rumah tangga mereka yang kami semua yakin -- mereka pasti akan bahagia.
Sebagai calon kakak ipar yang baik sekaligus seorang atasan yang wajib royal kepada sosok seorang asisten pribadi yang loyal itu -- aku menghadiahi pernikahan seperti yang mereka inginkan dan semua biaya yang akan kutanggung sepenuhnya. Tentu, itu juga diawali atas permintaan istriku. Kupikir kenapa tidak, Billy pantas mendapatkannya mengingat semua jasanya yang selalu berhasil mengerjakan semua perintahku selama bertahun-tahun. Dan yang paling utama, apa sih yang tidak untuk Suci? Semuanya akan kupenuhi.
Berdasarkan permintaan ibu mertuaku, pernikahan itu akan diselenggarakan di halaman belakang rumah mereka dengan konsep garden party. Aku sangat setuju untuk itu, sebab aku tidak ingin istriku pergi ke mana pun selagi aku tidak ada di sampingnya. Dia harus tetap di dalam lingkungan rumah saat aku bekerja. Pekerjaan kantor yang menumpuk tak mungkin bisa kutinggalkan. Bahkan, sang calon mempelai pria juga mesti tetap bekerja kecuali di saat pemotretan foto kartu undangan dan fitting baju pengantin. Selebihnya, dia mesti menyelesaikan pekerjaan yang sudah kujatahkan padanya tempo hari.
Selama aku bekerja, Suci tetap berada di bawah pemantauanku. Ada Simon, Jody, Leo, Diego, dan Haris yang berjaga di rumah ibu mertuaku. Juga ada Anne yang kutugaskan mengekori Suci ke mana pun ia pergi. Dengan demikian aku bisa bekerja dengan tenang.
"Kamu terlalu berharga," kataku sebagai jurus membela diri saat Suci mengataiku suami posesif. Kendati demikian, ia tak pernah protes. Dia mengerti sepenuhnya kalau apa pun yang kulakukan itu demi kebaikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Yeah, paling-paling dia tersenyum. "Siapa suruh aku mencintai seorang Tuan Rangga?" ujarnya dengan gayanya yang santai dan sedikit ledekan.
"Ya, apa pun itu, semuanya karena aku terlalu mencintaimu. Kamu sangat berharga, Sayang."
Begitulah kami selama beberapa hari, mesti terpisah selama beberapa jam. Dia sibuk dengan semua keceriaannya menangani persiapan pernikahan sang adik, dan aku sibuk dengan semua kebosanan pekerjaan kantor yang tak ada selingan. Sebab, tak ada Suci bersamaku, menghangatkan ranjang ruang pribadiku. Bahkan hanya sekadar senyum manis dan wajah cantik yang biasa kulihat di depan meja kerjaku.
Ck!
Dia sering mengirim whatsapp seperti itu padaku di waktu-waktu tak terduga. Bahkan pernah di saat aku baru selesai meeting dengan salah satu klien dan otakku sedang penat-penatnya. Aku yang biasanya hanya merespons, "Iya, Sayang," kala itu membalas whatsapp-nya dengan iseng. Alhasil, aku cekikikan sendiri dibuatnya.
__ADS_1
《 Anu? Apa itu?
》 Ih, pura-pura gak ngerti.
《 Memang gak ngerti. Coba sebut apa namanya?
》 Sudah, sudah. Aku tidak mau kamu keterusan dan jadi pingin. Nanti kamu nggak tahan dan melampiaskannya di sana.
Hmm... dia meragukanku???
__ADS_1