Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Menunggu....


__ADS_3

Kalau kau berada di posisi kami, apa yang akan kau lakukan saat dirimu menanti hasil pemeriksaan kesehatanmu -- di mana -- hanya ada dua kemungkinan yang akan kau dapatkan: sehat, atau sakit lalu sekarat dan pasti akan mati?


Tentu saja, setiap manusia itu akan mati. Tetapi, bukankah kita menginginkan kematian yang tidak menyakitkan? Mati yang tiba-tiba tanpa riwayat penyakit yang menggerogoti jiwa kita hingga kita mengembuskan napas kita yang terakhir. Kematian yang mudah, bukan harus melewati hari demi hari dalam kesakitan hingga menanti-nantikan kematian itu segera datang menghampiri. Siapa yang ingin?


Bukan aku. Bukan Suci. Juga bukan kalian semua yang membaca tulisan ini. Tentu tidak satu pun di antara kita yang ingin terjangkit HIV, virus yang mematikan itu.


Oh, seandainya bisa, aku ingin sekali bersikap tenang, serileks mungkin menunggu hasil pemeriksaan laboratorium itu keluar. Tapi tentu saja itu tidak akan bisa untuk kulakukan. Rasa berdebar itu ada. Nyata di dalam jiwa. Tapi aku dan Suci sudah sepakat untuk tidak membicarakan soal itu sedikit pun.


Selama menunggu, kami nyaris tidak melakukan satu pekerjaan pun yang sifatnya berhubungan dengan dunia luar. Kami hanya berdiam diri di dalam kamar hotel. Berdua. Meringkuk seperti sepasang ayam. Tentu saja, satu-satunya yang membuat kami mesti melibatkan orang lain pada saat itu -- hanyalah soal makanan. Yap, kami juga tidak ingin mati karena kelaparan. Sebab itu, kami butuh makan dan harus memesan makanan.


Sebenarnya, walaupun rasa khawatir itu cukup besar dan membuatku gemetar, tapi, jauh di dalam hati ini -- harapan kami untuk sehat itu tak kalah besar. Sebab itu, di dalam hatiku, aku pun menyimpan kepercayaan bahwa kami berdua dalam keadaan sehat. Apalagi, merujuk dari hasil tes cepat antigen kemarin, kepercayaan dan harapan itu kian membumbung tinggi di atas kepala.


Namun, aku tetap tidak ingin pergi ke kantor, sebab aku tidak mungkin bisa berkonsentrasi dalam bekerja dalam situasi seperti ini. Jadi, ya sudahlah. Aku dan Suci sepakat menjadi sepasang ayam yang meringkuk di atas kasur kami yang empuk.


Konsentrasi bekerja itu akan kembali dengan sendirinya jika nanti hasil pemeriksaan dari laboratorium itu keluar dan menunjukkan hasil negatif.


Dan, berhubung semalam aku agak susah tidur hingga larut malam, akhirnya pagi ini aku dikuasi oleh rasa kantuk yang berat. Sementara, di sampingku, Suci sudah terbangun dan masih berbaring dengan remote tv di tangannya. Dia mengganti-ganti saluran televisi dan nampak tak menemukan acara yang ia sukai, hingga kesibukannya berakhir dengan game di ponselnya. Dan itu, itu yang kami lakukan hingga berjam-jam menghabiskan waktu di kamar hotel yang sunyi dan sepi. Selain itu, yang kami lakukan hanyalah makan, tidur, mandi, dan bercinta.


Bercinta?


Tentu saja. Kenapa tidak?


Kebahagiaan hakiki, selagi kami masih hidup dan saling memiliki satu sama lain, kami akan mengekpresikan cinta di antara kami setiap kali hasrat itu merasuki jiwa. Hasrat untuk bercinta, memadu kasih dengan indahnya -- dan pastinya, sebelum mati.


Dalam masa menunggu ini, ada satu obrolan penting yang kuingat. Sewaktu aku dan Suci kembali ke tempat tidur pada malam kedua itu, ia berkata, "Aku ingin mengatakan sesuatu," katanya.


Aku menoleh. "Apa itu?" tanyaku.

__ADS_1


Dia mengedikkan bahu dengan ekspresi datar, tidak sedih, tidak juga bahagia. "Tentang kematian, seandainya kita tidak punya waktu untuk hidup lebih lama."


"Yang...."


"Emm?"


"Kita kan sudah sepakat--"


"Hanya mengobrol biasa, Mas. Bukannya untuk bersedih-sedihan...."


Well, aku menghela napas dalam-dalam. "Apa yang mau kamu bahas? Maksudku, intinya, apa?"


"Tentang kehidupan setelah kematian, dan apa yang kita tinggalkan setelah kita mati."


Oh, istriku....


"Kamu percaya surga dan neraka?"


Aku mengangguk.


"Nah, kalau kita mati sekarang, masih muda begini, yang baru taubat, kira-kira... nanti kita akan dilempar ke mana? Ke surga, atau dilempar ke neraka?"


Aduh... pertanyaan berat.


"Aku... aku tidak terlalu mengerti soal itu, Sayang. Ya... kita... kita sudah berusaha menjadi orang yang baik. Setelah menikah, kita tidak lagi berzina. Aku sudah tidak pernah menyentuh alkohol. Aku kerja halal, menghasilkan rizki halal. Dan kita tidak melakukan perbuatan maksiat ataupun perbuatan jahat. Kita tidak mencuri, tidak merampok, kita juga tidak menyakiti orang lain. Maksudku, kalaupun iya pernah, kita tidak pernah melakukan itu dengan sengaja. Tidak pula dengan niat yang jahat. Iya, kan?"


Suci hanya tersenyum seraya menyimak celotehanku yang panjang.

__ADS_1


Aku menunduk sejenak, lalu mengedikkan bahu. "Aku tahu itu semua belum cukup untuk menghapuskan dosa-dosa kita di masa lalu. Entah, bisa terhapus ataukah tidak. Kalaupun tidak bisa terhapus, ya... jelas, hal-hal baik yang kita lakukan setelah kita menikah, itu sama sekali belum seimbang dengan dosa kita di masa lalu. Yeah, kurasa... sama sekali belum cukup untuk menyeimbangi dosa yang sudah kita perbuat. Apalagi untuk melampui banyaknya dosa kita. Mustahil, namanya juga kita baru bertaubat. Jadi... entahlah."


"Menurutmu, kita akan masuk neraka? Karena amal baik kita belum banyak? Hmm?"


Aku mengangguk lagi.


"Apa dengan bertaubat itu tidak cukup? Tidakkah... maksudku... bukankah yang terpenting kita sudah bertaubat dan berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan tidak berbuat kesalahan lagi?"


Hoaaaaah... dasar laki-laki bodoh dan tidak berguna! Aku jadi benci pada diriku sendiri. Aku sama sekali tidak paham tentang hal ini.


"Aku tidak tahu, Sayang. Aku tidak mengerti. Aku... pengetahuan agamaku nol besar."


Kali ini Suci meraih dan menggenggam tanganku begitu erat. "Semoga kita masih diberikan kesempatan hidup, ya. Diberi umur yang panjang, supaya kita bisa beramal baik lebih banyak, untuk menutupi dosa."


Aku mengangguk lagi. "Aamiin," ucapku. "Dosaku sangat banyak. Entah cukup atau tidak umurku untuk menutupi dosa-dosa itu dengan pahala."


"Kita lakukan yang terbaik, Mas. Seandainya pun... amit-amit, kalau hasil test kita nanti positif, kita masih bisa menggunakan sisa waktu kita untuk berbuat amal baik, ya kan? Jangan disia-siakan. Percuma punya banyak harta, kalau nanti kita mati semuanya tertinggal untuk orang lain. Anak kita saja belum lahir untuk mendapatkan warisan. Jadi, untuk siapa?"


Kubalas genggaman tangan yang menggenggam satu tanganku itu dengan erat, dan aku mengangguk lagi. "Aku janji. Kita akan lebih sering melakukan kebaikan, akan lebih sering berbagi dan beramal," aku berjanji.


"Em, kalau bisa... selain untuk tabungan dan masa depan anak-anak kita nanti, boleh, dong, harta kita, maksudku... hartamu... kita pakai untuk beramal. Misalnya kita sumbangkan ke panti asuhan. Mungkin... panti tempat dulu kamu... tinggal. Hmm? Bagaimana?"


Makjleb! Serasa ada biji kedondong yang menyangkut di tenggorokanku.


Dan aku hanya bisa -- kembali mengangguk.


Maafkan aku, Tuhan. Aku seakan lupa dari mana asal-usulku. Aku hanyalah anak yang tumbuh besar di panti asuhan sebelum Mama Sania mengadopsiku. Kenapa selama ini aku tidak ingin lagi mendatangi tempat itu? Tempat di mana aku pernah bernaung.

__ADS_1


Kusadari, selama ini -- sebagai manusia biasa -- ternyata aku kurang bersyukur.


__ADS_2