Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Cokelat Termanis


__ADS_3

"Kamu lagi apa, Sayang?" tanyaku.


Waktu itu aku baru saja keluar dari toilet saat melihat Suci berjibaku dengan bahan-bahan masakan di meja dapur. Aku pun menghampirinya.


"Mau bikin kue," sahutnya.


"Kue?"


"Yap. Kue ulang tahun untuk suamiku tersayang."


"Ya ampun, Yang. Ngapain, sih, susah-susah bikin? Kan bisa beli."


"Apanya yang susah? Ini gampang, kok. Segampang mengajakmu bercinta."


Hmm... dasar....


Ia terkekeh, begitu senang karena meledekku. "Memang gampang, kan? Tinggal dibuka, dimasukin, diadon-adon, terus ditaruh di tempat yang hangat. Jadi deh, keluar dari cetakan. Si mungil yang manis dan lucu."


"Nanti kamu capek, Yang."


Dia menggeleng sambil terus menyiapkan bahan-bahan adonan ke atas meja. "Nggak bakal capek, kok. Bikin anak aja nggak capek. Masa bikin kue begini doang capek, sih?"


"Ya sudah. Terserah kamu saja. Tapi aku temani, ya."


"Uuuh... manisnya suamiku. Terima kasih, Mas. I love you."


"Sama-sama. Tapi janji, jangan menghambur-hamburkan adonan. Aku tidak mau kamu sampai kecapekan karena mesti bersih-bersih, oke?"

__ADS_1


Dia mengangguk. "Iya, Mas. Tenang saja kalau soal itu, mah. Memangnya aku anak remaja yang merayakan ulang tahun dengan cara seperti itu?"


"Bagus kalau begitu. Jadi, apa yang bisa kubantu?"


Suci tersenyum. "Tidak perlu. Kamu cukup duduk dan temani aku. I love you." Dia menurunkan ritsleting dan melepaskan gaun tidurnya.


"Hm, kenapa mesti lepas baju?"


"Takut ada yang jahil, terus bikin kotor gaunku."


"Ya, ya, ya, aku mengerti. Tapi asal kamu tahu, ya, aku itu paling anti memubazirkan makanan atau bahan makanan. Aku tidak suka. Sayang tahu kalau buang-buang makanan. Anak di panti belum tentu bisa makan tiga kali sehari."


Suci tersenyum paham lalu mengacungkan jempol kepadaku. "Tapi buat jaga-jaga saja. Daripada nanti gaun tidurku jadi kotor."


Aku mengangguk. "Terserah kamu."


Wew! Dasar! Lagi-lagi dia sengaja meledekku. "Ya sudah. Kalau begitu aku nonton tv saja."


"Bagus kalau begitu. Tanpa kamu, kue-ku pasti matang lebih cepat."


Hah! Sebegitu tinggikah hasratku sampai-sampai Suci begitu suka meledekku?


Well, mungkin saja.


Aku pun segera beranjak ke ruang tv, duduk santai di sofa dan menekan remote. Sebenarnya aku tidak terlalu suka menonton tv, tetapi aku sedang tidak ingin menyibukkan diri dengan ponsel karena aku bukanlah tipe orang yang menggandrungi sosial media. Jadi aku hanya menonton siaran berita. Kendati demikian, aku masih mengajak Suci mengobrol ringan, sekadar menanyakan apa dia capek, masih lama atau tidak, apa ada yang perlu kubantu, dan lain-lain -- hanya supaya ia tidak merasa kuacuhkan dan aku sibuk sendiri dengan kenyamananku.


Setelah beberapa menit berlalu, kulihat Suci sudah menaruh adonannya ke dalam oven. Dan sewaktu aku kembali ke dapur untuk mengambil minum, Suci tengah sibuk dengan cokelat di tangannya. Ada cokelat yang diserut yang aku tahu itu untuk taburan kue, dan sebagian lagi ia lelehkan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghiasnya, Mas. Aku kasih cokelat saja tidak apa-apa, kan?"


Aku mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku tahu, meski tampilannya sederhana, rasanya pasti enak, dan kesannya tetap istimewa. Karena kamu membuat kue itu spesial untukku."


"Bisa saja kamu. Dasar gombal!"


"Itu bukan gombalan, Sayang."


"Lalu apa?"


"Itu pujian atas usahamu demi menyenangkan aku."


Kurasa Suci senang mendengarnya. Dia mengangkat wajah dan menatapku penuh arti. "Sini, cicipi ini," katanya. Dia mengangkat spatula dari lelehan cokelat dan mendekatkannya ke bibirku. Aku mencicipinya.


"Enak, manis," kataku.


"Seperti itulah dirimu. Manis."


"O ya? Kurasa itu bisa lebih manis lagi."


Aku meraih tangannya, mencelupkan jari telunjuknya ke lelehan cokelat, mendekatkannya ke mulutku, lalu mengatupkan bibir saat jarinya berada di mulutku.


Ugh! Suci tersenyum hangat. Senyum di bibirnya mengembang sempurna.


"Bagaimana kalau seperti ini?" Ia mencoletkan ujung spatula berlumur cokelat ke dadanya, dan ia menatapku dengan binar cinta di matanya.


Tentu saja. Kepalang tergoda, aku menambahkan coletan cokelat ke dadanya, ke lehernya, juga ke bibirnya. Lalu, seraya tersenyum, kupeluk ia dan perlahan menghimpitkannya ke dinding.

__ADS_1


Well, dia cokelat termanis yang pernah kucicipi. Lebih manis dari semua cokelat yang ada di seluruh dunia.


__ADS_2