
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Keterangan yang sama yang tercantum pada enam lembar hasil print out pemeriksaan medis atas namaku dan nama Suci.
__ADS_1
Wajah Suci yang semula pucat pasi sebelum mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium itu kini sudah kembali normal. Dia sudah bisa tersenyum kembali meski air mata masih mengalir dari matanya -- air mata bahagia dan bentuk dari rasa syukurnya.
"Aku sangat lega," katanya, dan kami pun langsung berpelukan.
Benar-benar lega.
Sebenarnya, dari kemarin Suci sudah berhenti menangis. Dia sudah bilang kalau dia akan ikhlas apa pun yang terjadi. Termasuk kalau hasil test kami menunjukkan hasil yang positif. Namun, bukan berarti di dalam hatinya tidak memiliki harapan. Sama sepertiku, harapan itu ada, dan tentu saja -- kami memiliki harapan yang besar. Namun, sebagai manusia biasa, akhir dari harapan yang menggantung kepada Tuhan itu pastilah berbentuk kepasrahan.
Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Di dalam hati ini, perasaan yang sempat kacau balau itu sudah kembali tentram. Apalagi setelah memeluk dan melihat senyum bahagia di wajah senduhnya, semua beban di hati rasanya wusssh... menguap begitu saja.
Demi kebahagiaan Suci, maka aku akan ikut ke mana pun tempat yang ia inginkan, termasuk pulang ke rumah ibunya dan aku juga mesti membujuk Billy untuk membawa Indie supaya turut menginap di rumah ibu mertua kami.
Well, tanpa banyak A I U E O, langsung kulajukan mobil ke rumah ibu mertuaku. Dan, persis di saat Billy dan Indie keluar dari mobil mereka, aku dan Suci sudah memasuki pelataran parkir di kediaman Mama Rani. Kemudian, belum lagi mesin mobil kumatikan, Suci sudah membuka pintu dan keluar dari mobil. Cepat-cepat dia menghampiri sang adik yang sekarang kehamilannya sudah sangat besar.
__ADS_1
Praktis, aku menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. "Yang... Yang, kan ada suaminya. Kok kamu yang repot?"
Tapi baguslah. Dengan begitu, Billy punya kebebasan untuk menghampiriku -- yang awalnya kukira ia hanya ingin bertegur sapa, ternyata bukan. Ada sesuatu yang lebih penting daripada itu: dari balik jasnya, Billy mengeluarkan koran yang terbit sehari yang lalu.
Ya Tuhan... kuhela napas dalam-dalam dan melepaskan rasa sesak dari dalam dadaku. Di halaman pertama koran itu, terpampang foto Lady Sandra yang mengalami luka parah. Dia tewas akibat tabrak lari. Penabraknya kabur. Dan, yang membuatku melesak, kejadiannya itu persis kemarin, sesaat setelah kami bertemu di rumah sakit, pun lokasinya, masih di sekitar sana.
Apa dia tertabrak karena kemarin aku mengejarnya? Atau karena takdir dan kelalaiannya sendiri? Dia sengaja ingin bunuh diri? Atau... ada yang sengaja ingin menghabisi nyawanya? Kenapa ini mesti terjadi, Tuhan?
"Pencarian kita sudah menemukan jalan buntu, Mas. Dia sudah mati. Lalu sekarang kita harus bagaimana?"
Aku menggeleng. "Sebaiknya kita tidak usah membahas soal itu dulu, Bill. Saya... saya mau meminta tolong. Tolong kamu carikan informasi mengenai anak-anak asuhnya. Bagaimana dengan mereka?"
"Mereka... maaf, Mas, mereka semua sudah... dititipkan... di panti asuhan."
__ADS_1
Aku mengangguk. "Di mana?"