Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Cobaan Terakhir


__ADS_3

Dengan setengah hati dan kepercayaan diri yang cukup tinggi, aku memenuhi keinginan Suci untuk menjenguk Indie yang baru saja melahirkan putra pertamanya. Bayi kecil yang diberi nama Nugraha Putra Pratama, kombinasi nama dari kedua kakeknya: Nugraha, nama ayah Indie, dan, Pratama nama dari ayahnya Billy sekaligus nama Billy sendiri.


Yah, setelah beberapa minggu dunia kami terasa aman dan Suci menuruti perintahku untuk berdiam diri di rumah sejak kami pulang dari rumah sakit saat menjenguk Jessy lahiran waktu itu, aku juga merasa bersalah jika aku tidak mengizinkan Suci untuk menjenguk adiknya sendiri di rumah sakit. Kupikir, karena di bawah pengawasanku secara langsung dan dikawal oleh beberapa orang bodyguard, itu akan aman bagi Suci untuk berada di luar rumah. Tapi ternyata aku salah. Salah besar.


Awalnya, semua berjalan normal dan baik-baik saja. Suci nampak sangat bahagia saat dia bertemu Indie dan melihat keponakannya yang tampan. Namun, itu tidak berarti aku menurunkan kewaspadaanku terhadap kemungkinan akan ada Roy di sekitar kami.


Tetapi, pada akhirnya ada saja celah di mana Roy memiliki kesempatan itu: tepat pada siang hari setelah aku mengajak Suci untuk makan siang di kantin rumah sakit, di saat dia kebelet dan ingin pipis, aku malah membiarkannya ke toilet umum, sedangkan aku dan anak buahku hanya menunggu di luar pintu. Benar-benar di luar dugaanku. Aku lengah, hanya selang beberapa menit sepeninggal Suci masuk ke dalam toilet wanita, suara teriakannya menyentakku seketika. Dalam detik bersamaan, beberapa orang wanita berlari keluar dari toilet sambil berteriak. Sementara aku, aku mematung di sana, di ambang pintu dengan pistol di tangan -- menyaksikan istriku di sandera oleh seseorang yang berpakaian serba hitam, lengkap dengan kerudung dan cadar menutupi wajahnya. Dan, sebuah pisau lipat terarah ke perut hamil istriku.


"Hai, Rangga."


Oh Tuhan, orang itu bukanlah seorang perempuan. Aku terkecoh. Dia lelaki. "Roy?"

__ADS_1


"Oh, lu mengenali penyamaran gue sekarang? Hmm? Omong-omong, thanks atas peluangnya. Gue bahkan lewat tepat di depan mata lu sendiri. Surprise, bukan?"


Sialan!


Penyamarannya yang menyerupai wanita berkerudung lengkap dengan cadar itu berhasil mengelabuhiku. "Berengsek! Lepaskan istri gue, Roy!"


"Tidak ada gunanya marah-marah, Rangga. Bukankah kita sudah sama-sama lelah, bukan begitu? Time is over, Man. Mari mengakhiri permusuhan ini. Akan gue bawa anak dan istri lu ke alam baka, dan lu mesti menyaksikan sendiri saat pisau tajam ini menembus kulit perutnya. Siap, Rangga? Satu... dua...."


Dalam sekejap mata dan waktu nyaris bersamaan, aku membidik kepala Roy. Letusannya menggema sebelum ada yang sadar apa yang telah terjadi. Termasuk Roy.


Lubang di dahinya kurang lebih sebesar uang dua puluh lima sen, dan untuk sesaat ia membeku bagaikan patung sebelum akhirnya roboh ke lantai toilet.

__ADS_1


Namun sayang, aku terlambat satu detik. Aku tidak menunggu hitungan ke tiga untuk menembak, tetapi Roy tidak menunggu hitungan ke dua untuk menusuk. Suci jatuh berlutut bersamaan dengan Roy dan diiringi debuman mengerikan, darahnya menyembur seperti air mancur.


"Tidaaaaaaaaak...!" teriakku histeris dalam kekacauan. Aku menghampiri wanita yang kucintai itu -- dengan ketakutan. "Please, bertahan, Sayang. Bertahan. Aku akan membawamu ke rumah sakit," aku mengicau tanpa mempedulikan apa pun. Kuangkat tubuh istriku dan membawanya lari ke UGD.


Berlari. Berlari. Berlari tanpa peduli pada apa pun.


Air mata sudah mengalir sekarang: aku nyaris tak bisa bersuara lagi. Tak mampu. Tak mampu bicara bahkan tak mampu lagi mendengar apa pun. Hanya debar jantungku, hanya itu yang mampu kurasakan. Namun tangan ini, kedua tangan ini masih memiliki kekuatannya, dan kaki ini, kaki ini masih mampu berdiri -- masih mampu menopang tubuh istriku dan berlari dari sana.


Aku lupa -- lupa pada apa saja yang terjadi di sekitarku, aku lupa apa saja yang kucetuskan. Yang kutahu, aku berteriak-teriak meminta tim medis segera menolong istri dan anakku -- anakku yang bahkan belum sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.


Dan sekarang, setelah melepasnya di ruang UGD, aku terlongo-longo sendiri di ruang tunggu. Kini lututku terlalu lemah untuk bisa berdiri, benakku terlalu keruh untuk berpikir, aku terduduk di kursi sementara kesunyian di dalam jiwa menyambutku dan aku tak pernah merasa begitu seorang diri daripada yang kurasakan saat ini. Kalut, dan ketakutan.

__ADS_1


Aku tidak ingin kehilangan mereka, Tuhan. Dan Kau tahu itu. Tolong, beri kami satu kesempatan lagi. Tolong....


__ADS_2