
"Aku... sebelum aku dan Mama menyusul Mbak ke kampung, aku bertemu Mas Billy. Maksudku, itu... itu pada saat Mas Billy menemukan keberadaanku. Aku... dia mengajakku menginap di rumahnya. Sebelum bertemu dia... aku... aku menstruasi. Aku tidak berhubungan dengan siapa pun setelah siklus bulananku waktu itu. Cuma dengan dia saja. Dan... ini kesalahanku, aku tidak menolak meski... tanpa pengaman. Aku yang teledor, Mbak. Aku yang bersalah."
Bodoh! Aku menghardik dalam hati. Awas saja kau, Billl!
Emosi yang mencuat membuatku tak menyadari ketika Suci keluar dari ruang kerjaku, dia tertegun menyadari keberadaanku dengan air matanya yang berurai. Lalu ia menghambur ke pelukanku.
"Akan kuselesaikan," kataku. "Billy akan bertanggung jawab."
"Tidak usah, Mas," sergah Indie. "Jangan beritahu Mas Billy. Aku tidak mau nanti--"
"Tenang," potongku. "Aku pastikan, dia akan bertanggung jawab. Oke? Jangan khawatir."
Indie menggeleng. "Tapi ini kesalahanku. Biar aku gugurkan saja kandungan--"
Plak!
Suci menamparnya. "Jangan katakan itu lagi. Paham? Dengarkan Mbak, kamu harus menikah dan menjaga kandunganmu baik-baik!"
Sambil mengelus pipinya, Indie mengangguk. "Maaf, aku merepotkan kalian dengan masalah ini. Tapi kalau Mas Billy tidak mau mengakui--"
__ADS_1
"Dia akan bertanggung jawab," tegasku.
"Menurut! Ini demi kebaikanmu!"
"Em." Indie mengangguk. "Baiklah, Mbak. Aku akan ikut apa kata kalian."
Aku mengangguk, lalu meraih Suci ke dalam pelukanku. "Jaga Indie, aku sendiri yang akan membawa Billy ke sini. Kalian jangan ke mana-mana. Bisa dengar aku?"
"Iya, Mas."
"Jangan keluar rumah."
"Satu lagi, jangan izinkan orang asing masuk."
"Iya...."
"Bagus. Aku pergi dulu, sekalian aku akan mengantarkan Rhea. Kamu baik-baik di rumah. Jangan keluar. Oke?" Aku pun beranjak pergi setelah mencium kening istriku.
Dalam perjalanan itu, aku mengajak serta Haris bersamaku, aku tidak ingin berduaan dengan Rhea di mobil. Dan sesampainya kami di rumah Dirgantara, Mbok Ira sedang tidak ada di rumah, dia sedang berbelanja dan terpaksa meninggalkan majikannya sendiri di kamar.
__ADS_1
Dan sama seperti kemarin, wanita parubaya itu mendongak memandangku dengan harapan di matanya begitu aku membuka pintu kamarnya. "Kamu sudah menemukannya?"
"Ya," jawabku, lalu aku bergeser agar ia bisa melihat jelas Rhea yang bersembunyi di balakangku.
Begitu melihat Rhea, ia terpekik, kemudian melompat bangun dan meraih wajah anaknya. Wanita itu meneliti wajah putrinya dengan seksama, sementara air mata mereka berdua terus berjatuhan.
"Benar-benar Rhea, anak Mama," gumamnya pelan.
Rhea tak tahan lagi. Ia merosot ke lantai, menangis sambil mencium kaki ibunya. "Maafkan aku, Ma. Ampuni aku... aku durhaka. Aku tidak mendengarkan kata-kata Mama. Maafkan aku...."
"Bangun, Nak, kenapa berlutut begitu?" tanyanya panik. Ia memandangku, meminta bantuan. Aku pun mengulurkan tangan untuk menarik Rhea berdiri. Dia memeluk ibunya erat-erat, masih menangis, menumpahkan semua penyesalannya. Sementara sang ibu menepuk-nepuk punggungnya, diselingi mengelus rambut panjangnya. "Jangan menangis. Yang penting kamu sudah pulang."
Tetapi sial, hari itu Reno Dirgantara tahu-tahu ada di sana. Ia masuk dan memandang bergantian ke arah istrinya yang sedang berpelukan dengan anaknya dan ke arahku yang balas menatapnya.
"Dasar anak kurang ajar! Tidak tahu diuntung!"
Rhea melepaskan pelukan sang ibu, berbalik menghadapi Reno Dirgantara. "Papa...," panggilnya, suaranya tercekat. "Papa, aku minta maaf...."
Plak!
__ADS_1
Pria tua itu langsung menyambar pipinya dengan telapak tangan.